- Kepala BNPB Suharyanto menyatakan helikopter *water bombing* tidak selalu efektif dan hanya berguna saat api masih kecil di lokasi sulit.
- BNPB menetapkan satuan tugas darat sebagai kekuatan utama dan menggunakan helikopter secara selektif untuk mendukung operasi pemadaman di lapangan.
- BNPB mengandalkan operasi modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan guna membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan.
Suara.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengingatkan penggunaan helikopter pengebom air atau water bombing tidak selalu efektif untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Suharyanto, helikopter hanya efektif ketika api masih relatif kecil, terutama untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses satuan tugas melalui jalur darat.
“Helikopter water bombing itu hanya efektif ketika apinya masih kecil terutama di tempat-tempat yang susah dijangkau satgas darat, digunakan untuk membantu satgas darat memutus kepala apinya,” kata Suharyanto dalam kunjungan kerja mendampingi Wapres Gibran di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis.
Ia menjelaskan pemadaman dari udara pada dasarnya berfungsi sebagai pendukung operasi darat. Karena itu, pengerahan helikopter harus disesuaikan dengan kondisi kebakaran di lapangan.
Ketika api sudah telanjur membesar dan meluas, kemampuan water bombing dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan pemadaman di area tersebut.
“Tapi kalau api sudah besar, sia-sia pakai helikopter, enggak ada gunanya itu water bombing,” ujarnya.
Atas pertimbangan tersebut, BNPB menempatkan satgas darat sebagai kekuatan utama dalam penanganan karhutla. Sementara helikopter digunakan secara selektif untuk membantu memadamkan titik api yang masih terbatas atau berada di wilayah yang sulit dijangkau dari darat.
![Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto (Kiri) [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/02/91765-kepala-badan-nasional-penanggulangan-bencana-bnpb-suharyanto.jpg)
Hujan Jadi Andalan Tambahan
Selain pemadaman melalui darat dan udara, BNPB juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu menangani karhutla di Kalimantan Selatan.
Suharyanto mengatakan OMC tetap dilakukan ketika terdapat potensi pertumbuhan awan yang memungkinkan menghasilkan hujan di wilayah terdampak.
Menurut dia, hujan menjadi salah satu faktor paling efektif untuk membantu memadamkan karhutla. Namun, upaya tersebut tetap bergantung pada kondisi atmosfer.
Karena itu, BNPB mengombinasikan berbagai metode penanganan, mulai dari pengerahan satgas darat, penggunaan helikopter secara selektif hingga OMC ketika kondisi cuaca memungkinkan.
“Seluruh dukungan pemadaman harus digunakan sesuai karakter kebakaran agar sumber daya udara dan darat dapat bekerja secara efektif, terutama untuk mencegah api kecil berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” ujar Suharyanto.