- Danantara investasi di GOTO untuk mendorong kesejahteraan pengemudi ojol melalui kebijakan korporasi.
- GOTO mencetak sejarah laba bersih Rp171 miliar di Q1 2026, sinyal fundamental mulai pulih.
- Strategi beralih dari burning cash ke alokasi dana marketing untuk jaminan sosial mitra.
Suara.com - Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pengakuan CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani, yang menyatakan bahwa institusi pengelola investasi negara tersebut telah masuk dan memiliki saham di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Langkah ini memicu perdebatan hangat di kalangan investor, mengingat harga saham GOTO saat ini sedang tertahan di level psikologis terendah, yakni Rp50 per lembar saham atau yang akrab disapa "saham gocap".
Lantas, apa alasan di balik keputusan strategis ini? Mengapa lembaga sekelas Danantara memilih menanamkan modalnya di saat harga saham emiten teknologi ini sedang lesu?
Klaim Menyejahterakan Ojol dari Dalam
Alasan utama yang dikemukakan oleh Rosan Roeslani bukanlah sekadar mengejar capital gain atau keuntungan selisih harga saham dalam jangka pendek. Ada misi sosial dan keberlanjutan yang jauh lebih besar: kesejahteraan pengemudi ojek online (ojol).
Selama ini, pemerintah seringkali kesulitan melakukan intervensi langsung terhadap kebijakan perusahaan swasta mengenai kesejahteraan mitra. Dengan menjadi pemegang saham, Danantara memiliki "kursi" dan suara untuk memengaruhi kebijakan internal perusahaan. Rosan mengungkapkan bahwa kehadiran Danantara sebagai pemegang saham bertujuan agar lahir kebijakan-kebijakan yang lebih memihak kepada para pengemudi.
Salah satu bukti nyata dari pengaruh ini adalah pemberian BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan bagi para mitra pengemudi. Selain itu, Danantara mengklaim sebagai pihak yang mendorong agar pemberian Bantuan Hari Raya (BHR) atau THR bagi para mitra pengemudi dilipatgandakan pada tahun ini.
"Kita sudah masuk sebetulnya. Sudah mulai masuk sejak Januari," ujar Rosan. Langkah ini menunjukkan bahwa investasi Danantara bersifat strategis-intervensionis, di mana kepemilikan saham digunakan sebagai alat kendali kebijakan publik melalui korporasi.
Ubah Bakar Uang Menjadi Jaminan Sosial
Selama bertahun-tahun, industri teknologi di Indonesia terjebak dalam lingkaran setan burning cash atau bakar uang demi memenangkan pangsa pasar melalui promo dan diskon besar-besaran. Danantara melihat ini sebagai pemborosan yang tidak berkelanjutan.
Melalui pendekatan sebagai pemegang saham, Danantara mengajak para aplikator untuk berhenti saling "bakar duit" ratusan juta dolar untuk biaya pemasaran yang bersifat semu. Sebaliknya, dana tersebut dialokasikan untuk kepentingan jangka panjang mitra pengemudi, seperti iuran BPJS yang ditanggung oleh perusahaan.
Strategi ini secara bisnis sangat masuk akal. Dengan mengurangi biaya pemasaran yang agresif, beban operasional perusahaan menurun, yang pada akhirnya membantu perusahaan mencapai profitabilitas. Di sisi lain, kesejahteraan mitra yang terjamin akan menciptakan ekosistem layanan yang lebih stabil dan loyal, yang merupakan aset tak berwujud bagi GOTO.
GOTO Bukan Lagi Perusahaan Rugi
Banyak investor ritel yang skeptis terhadap GOTO karena sejarah kerugiannya yang masif. Namun, data terbaru menunjukkan perubahan peta jalan keuangan yang signifikan. Pada kuartal I 2026, GOTO mencatatkan tonggak sejarah dengan meraih laba bersih sebesar Rp171 miliar.
Angka ini adalah pembalikan drastis jika dibandingkan dengan kuartal I 2025 yang masih merugi Rp367 miliar. Pencapaian laba bersih pertama ini menjadi sinyal kuat bagi Danantara bahwa fundamental perusahaan telah membaik. Pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 26% (menjadi Rp5,3 triliun) dan kenaikan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 65% menunjukkan bahwa bisnis GOTO semakin efisien dan produktif.

Danantara tampaknya melihat harga "gocap" saat ini sebagai undervalued jika dibandingkan dengan potensi laba masa depan. Ketika sebuah perusahaan teknologi mulai mencetak laba dan memiliki arus kas bebas yang positif (tercatat Rp1,3 triliun pada Q1 2026), maka harga Rp50 dianggap sebagai titik masuk yang sangat murah bagi investor jangka panjang.
Sinergi dengan Tokopedia dan Kekuatan Fintech
Meskipun sebagian kepemilikan Tokopedia telah beralih ke TikTok, GOTO masih menikmati "durian runtuh" berupa imbalan jasa (service fee) e-commerce. Pada kuartal I 2026 saja, GOTO mengantongi Rp288 miliar dari Tokopedia tanpa harus menanggung beban operasional e-commerce yang besar.
Selain itu, unit bisnis Financial Technology (Fintech) melalui GoPay menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial. EBITDA yang disesuaikan untuk unit Fintech tumbuh mencapai 674% secara tahunan. Bagi Danantara, GOTO bukan lagi sekadar perusahaan transportasi online, melainkan raksasa infrastruktur keuangan digital Indonesia. Investasi di GOTO berarti investasi di masa depan ekonomi digital nasional.
Mengapa Sekarang? Kode di Balik Januari 2026
Rosan Roeslani memberikan "kode" bahwa pembelian saham dilakukan secara bertahap sejak Januari 2026. Ini bertepatan dengan masa transisi kepemimpinan nasional dan perubahan strategi besar-besaran di tubuh GOTO untuk fokus pada profitabilitas.
Kepemilikan Danantara saat ini memang masih di bawah 1%. Namun, manajemen GOTO sendiri telah mengonfirmasi kehadiran Danantara melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). GOTO menyambut baik masuknya Danantara sebagai cerminan kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Bagi Danantara, membeli saat harga di level rendah (Rp50-Rp51) memberikan ruang bagi mereka untuk melakukan akumulasi tanpa harus mengguncang pasar secara berlebihan. Proses yang "berlanjut dan bertahap" ini menunjukkan bahwa Danantara kemungkinan akan terus menambah porsi kepemilikannya seiring dengan perbaikan performa perusahaan.
Kesimpulan: Investasi di Atas Kertas, Dampak di Lapangan
Investasi Danantara di GOTO adalah perpaduan unik antara manajemen investasi modern dengan misi negara. Di atas kertas, Danantara membeli saham perusahaan teknologi yang sedang berjuang di harga terendahnya namun memiliki fundamental yang mulai menghijau. Di lapangan, Danantara menggunakan kepemilikan tersebut untuk memastikan jutaan mitra pengemudi mendapatkan perlindungan sosial yang layak.
Bagi pasar modal, langkah Danantara ini adalah sebuah vote of confidence (pernyataan percaya). Jika lembaga pengelola investasi negara saja berani masuk ke saham "gocap" GOTO dengan keyakinan pada fundamental dan dampak sosialnya, hal ini bisa menjadi katalis bagi investor lain untuk mulai melirik kembali emiten teknologi kebanggaan bangsa ini.
Kini, pertanyaannya bukan lagi "mengapa mereka membeli saham gocap?", melainkan "seberapa besar dampak positif yang bisa dihasilkan dari kolaborasi antara negara, korporasi, dan jutaan mitra pekerja di bawah naungan GOTO?".