Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Achmad Fauzi, Fakhri Fuadi Muflih

Kamis, 07 Mei 2026 | 17:45 WIB
Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?
Pengamat menilai harga acuan beras sudah tidak realistis. [ANTARA].
baca 10 detik
  • Pengamat AEPI Khudori menyatakan harga gabah melampaui Harga Pembelian Pemerintah sehingga menekan industri perberasan nasional pada April 2026.
  • Produsen beras menghadapi dilema kerugian finansial karena biaya produksi tinggi namun tetap dibatasi oleh aturan Harga Eceran Tertinggi.
  • Pemerintah didorong segera mengevaluasi kebijakan HET agar regulasi lebih adaptif terhadap kenaikan harga gabah di berbagai wilayah Indonesia.

Suara.com - Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kebijakan harga beras nasional menghadapi tekanan serius seiring terus naiknya harga gabah di tingkat petani dan penggilingan.

Ia menyebut Harga Eceran Tertinggi (HET) beras kini semakin sulit diterapkan secara realistis oleh pelaku usaha.

Menurut Khudori, ketidaksinkronan antara harga bahan baku dan batas harga jual membuat produsen beras berada dalam tekanan berat, bahkan berisiko terus merugi jika tetap mematuhi aturan HET.

"Ketika harga GKP di atas HPP, HET beras potensial terlampaui. Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga gabah tinggi, harga beras juga tinggi. Implikasinya, pelaku usaha akan kesulitan mematuhi HET," ujar Khudori kepada wartawan, Kamis (7/4/2026).

Petugas menata karung beras di Gudang Bulog Tambak Aji, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr]
Pengamat menilai harga acuan beras sudah tidak realistis. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr]

Ia menjelaskan, pemerintah menetapkan HET dengan asumsi harga gabah bergerak di sekitar Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Masalahnya, dalam praktik di lapangan, harga gabah justru terus berada di atas asumsi tersebut.

Khudori mencontohkan, harga gabah saat ini di sejumlah wilayah seperti Lampung dan Jawa Timur telah berada di kisaran Rp 7.400 hingga Rp 8.200 per kilogram, jauh di atas HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.

"Untuk bisa menjual beras dengan kalkulasi seperti di atas, harga GKP maksimal Rp 6.500/kg dengan rendemen minimal 55,4 persen," katanya.

Dengan harga gabah yang lebih tinggi, biaya produksi otomatis ikut melonjak, sementara produsen tetap dibatasi oleh HET yang tidak berubah sebanding.

Menurut Khudori, persoalan paling terasa pada produsen beras premium maupun medium karena ruang margin makin sempit setelah memperhitungkan biaya penggilingan, kemasan, distribusi, dan operasional.

baca juga

"Ketika harga gabah tinggi dan rendemen giling hanya berkisar 54-55 persen, produsen beras pasti tekor ketika menjual sesuai HET," katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut menempatkan pelaku usaha pada situasi dilematis. Menjual di atas HET berpotensi dianggap melanggar, namun menjual sesuai HET berarti harus menanggung kerugian.

"Apabila menjual di atas HET akan dinilai melanggar dan dapat dikenai sanksi. Sebaliknya, jika tetap menjual di bawah HET kerugian akan terus menggerogoti keuangan perusahaan," ucap Khudori.

Khudori juga menyoroti ketimpangan kebijakan harga antara beras medium dan premium. Dalam beberapa tahun terakhir, HET beras medium mengalami kenaikan cukup besar, sementara premium dinilai tidak mendapat penyesuaian serupa.

"Kalau HET beras medium dikoreksi karena kenaikan harga bahan baku gabah, mengapa koreksi serupa tidak dilakukan pada HET beras premium?" katanya.

Menurut dia, kebijakan harga yang tidak adaptif terhadap perubahan struktur biaya berpotensi menekan industri perberasan dari hulu ke hilir, terutama penggilingan kecil dan produsen bermerek.

Khudori menilai evaluasi terhadap HET menjadi penting agar regulasi tetap melindungi konsumen tanpa mematikan pelaku usaha. "Situasi ini amat dilematis bagi pelaku usaha," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:15 WIB

Waduh! Harga Beras dan Cabai Rawit 'Ngamuk' di Pasar Tradisional Pagi Ini

Waduh! Harga Beras dan Cabai Rawit 'Ngamuk' di Pasar Tradisional Pagi Ini

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 09:40 WIB

Cabai Turun Tajam hingga 10%, Harga Beras Justru Naik Tipis Hari Ini

Cabai Turun Tajam hingga 10%, Harga Beras Justru Naik Tipis Hari Ini

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 08:30 WIB

Terkini

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 00:19 WIB

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

×