- IHSG merosot 2,86 persen ke level 6.969 pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026 akibat sentimen negatif global.
- Pelemahan dipicu konflik AS-Iran, rencana kenaikan royalti komoditas logam, serta penurunan cadangan devisa Indonesia pada April 2026.
- Selain performa sektor properti yang melambat, pelaku pasar kini menantikan data ekonomi dan rebalancing indeks MSCI mendatang.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada perdagangan, Jumat, 8 Mei 2026. IHSG anjlok 2,86 persen ke level 6.969.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG dipicu memanasnya kembali konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menyeret koreksi di mayoritas bursa global.
Selain itu, pasar juga merespons negatif rencana pemerintah menaikkan tarif royalti progresif pada sejumlah komoditas logam, seperti nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.
"Pelemahan indeks disebabkan oleh sejumlah faktor negatif, diantaranya koreksi indeks di bursa global akibat memanasnya kembali konflik AS-Iran, serta adanya usulan royalti sejumlah komoditas logam," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
![Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/08/76163-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-bursa-efek-ilustrasi-bursa-ilustrasi-ihsg.jpg)
Dari sisi domestik, investor juga mencermati penurunan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026, dari sebelumnya 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026.
Level tersebut menjadi posisi terendah sejak Juli 2024. Meski demikian, Phintraco menilai cadangan devisa saat ini masih cukup aman karena setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Sentimen negatif lain datang dari sektor properti. Indeks harga properti pada kuartal I 2026 hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan (year on year/YoY), melambat dibanding pertumbuhan 0,83 persen YoY pada kuartal IV 2025.
Pertumbuhan tersebut juga tercatat menjadi yang paling lambat sejak 2003.
Pada pekan depan, pelaku pasar akan menanti sejumlah data ekonomi penting, mulai dari indeks keyakinan konsumen, data penjualan ritel, hingga penjualan sepeda motor.
Selain itu, investor juga mencermati pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 54,39 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 36,07 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,80 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 138 saham bergerak naik, sedangkan 607 saham mengalami penurunan, dan 214 saham tidak mengalami pergerakan.
Pada hari ini, saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar antara lain MPOW, MEDS, IRRA, PEHA, KAEF, MORA, ASPI, MAPI.
Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah ESIP, ELPI, DSSA, MINA, NIKL, SHIP, INDY, TINS.