- Sofyano Zakaria menyatakan pemadaman listrik di Sumatra menjadi peringatan untuk segera memperkuat sistem kelistrikan nasional secara menyeluruh.
- Gangguan listrik berskala besar merupakan tantangan global yang juga pernah dialami oleh berbagai negara maju di dunia.
- Pemerintah perlu mempercepat pengembangan infrastruktur transmisi dan modernisasi sistem proteksi guna meminimalisir risiko gangguan pasokan energi nasional.
Suara.com - Peristiwa blackout atau pemadaman listrik berskala besar yang terjadi di Sumatra dinilai menjadi alarm penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mempercepat penguatan sistem kelistrikan nasional.
Pengamat energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria, menilai gangguan sistem kelistrikan berskala besar bukan hanya terjadi di Indonesia. Menurut dia, sejumlah negara maju juga pernah mengalami kejadian serupa.
"Sistem kelistrikan negara maju juga pernah mengalami blackout. Jadi gangguan berskala besar seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia," ujar Sofyano di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Ia mencontohkan blackout besar di Australia Selatan pada 2016 yang dipicu cuaca ekstrem hingga menyebabkan gangguan beruntun pada jaringan transmisi. Inggris juga pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan pada 2019 yang memicu pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik.
Bahkan belum lama ini, Spanyol dan Portugal juga mengalami gangguan kelistrikan berskala besar yang memerlukan proses penormalan sistem secara bertahap.
Menurut Sofyano, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatra, gangguan pada jaringan transmisi akibat cuaca ekstrem memang dapat berdampak luas terhadap kestabilan pasokan listrik sehingga proses pengamanan dan penormalan sistem perlu dilakukan secara hati-hati dan terkoordinasi.
"Yang terpenting adalah bagaimana proses penanganan dan penormalan sistem dilakukan secara terkoordinasi agar sistem kembali stabil," katanya.
Ia menjelaskan, dalam sistem interkoneksi besar, proses pengembalian sistem tidak dapat dilakukan secara instan. Operator sistem harus memastikan frekuensi, tegangan, dan pasokan listrik berada pada kondisi aman sebelum seluruh jaringan dinormalkan sepenuhnya.
Karena itu, Sofyano menilai fokus utama pemerintah saat ini sebaiknya diarahkan pada percepatan penguatan sistem kelistrikan nasional agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Ke depan, ia menilai pengembangan backbone kelistrikan Sumatra menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem listrik nasional, terutama melalui penguatan jaringan transmisi 500 kV, 275 kV, hingga pengembangan jaringan 150 kV yang telah tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
"Penguatan backbone Sumatra akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terintegrasi dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, pengembangan pembangkit fast response, modernisasi sistem proteksi, serta pemeliharaan berbasis digital dan prediktif juga menjadi langkah penting untuk memperkuat stabilitas sistem," jelasnya.
Menurut Sofyano, penguatan infrastruktur transmisi dan modernisasi sistem menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional dan tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Dengan sistem kelistrikan yang semakin terintegrasi dan didukung teknologi proteksi modern, risiko gangguan besar diharapkan dapat ditekan sehingga pasokan listrik bagi masyarakat dan industri tetap terjaga.