- Lurah Taufiq Kamal menerapkan sistem pelayanan surat menyurat digital via WhatsApp di Desa Pleret sejak tahun 2020.
- Inovasi digital tersebut memungkinkan warga mengurus berbagai dokumen administrasi dari rumah dengan respon cepat dan otomatis.
- Desa Pleret menerima bantuan pengembangan Taman Kuliner melalui program Desa BRILian guna meningkatkan pendapatan asli desa setempat.
Dirinya bisa mengurusnya dari rumah melalui WhatsApp. Kemudian, tinggal menunggu mendapatkan balasan surat online yang dibutuhkan.

"Kebetulan kalau saya, persuratan lebih mudah kan. Bisa lewat WA. Nanti tinggal WA di nomor kelurahan di situ, tinggal ngisi-ngisi," ungkap Ahmad.
"Itu juga tidak menghilangkan peran dari dukuh maupun RT, karena melalui WA pun tetap perlu mengupload surat pengantar dari mereka," imbuhnya.
Ahmad bahkan pernah mengurus surat keterangan penduduk pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, saat kantor kalurahan sudah tutup.
Menariknya, pengajuan tersebut tetap diproses dan dikirim dalam bentuk file PDF setelah mendapatkan tanda tangan elektronik.

"Kalau di sini 24 jam, sudah tutup bisa. Tergantung dari Pak Lurah atau siapa kasi, tergantung mau TTE apa enggak," cerita Ahmad.
"Misalkan ini, saya jam 21.00. Ini berarti kan Pak Lurah masih buka hp bisa kirim ini. Ini kan masuknya SID, kan nanti di-TTE. Setelah di-TTE otomatis ke sini," lanjutnya.
Desa Pleret Ikuti Desa BRILian pada 2022
Digitalisasi yang diterapkan Desa Pleret turut membawa desa ini menjadi bagian dari program Desa BRILian binaan BRI pada 2022.
Melalui program tersebut, BRI memberikan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp500 juta untuk membangun Taman Kuliner Pleret Brilian sebagai pusat pengembangan UMKM lokal.
Kawasan kuliner yang berada di sebelah timur Lapangan Kanggotan itu kini menjadi tempat usaha bagi warga Desa Pleret dengan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS.

“Iya, sudah lama ya, tahun 2022. Peringkat berapa lupa. Tapi dari program Desa BRILiaN kami dapatnya Taman Kuliner, sebelah lapangan,” ujar Taufik.
“Yang pakai warga Pleret. Kami umumkan. Kemudian, ada QRIS dari BRI untuk pembayaran,” imbuhnya.
Meski telah berjalan beberapa tahun, Taman Kuliner Pleret Brilian kini memberi dampak ekonomi bagi desa. Selain membuka peluang usaha bagi warga, kawasan tersebut juga menjadi sumber pemasukan untuk kalurahan melalui sistem sewa tenant.
Terdapat 12 outlet yang disewakan kepada warga dengan biaya sekitar Rp400 ribu per bulan. Dari sana, kalurahan memperoleh Pendapatan Asli Desa (PAD) sekitar Rp4,8 juta setiap bulan.

“Ini berdampak ke PAD, perputaran. Sewa di sini kan Rp400 ribu per bulan. Yang pakai warga Pleret. Kami umumkan,” ungkap Taufik.
Warga Desa Pleret pun tidak perlu khawatir mengenai alokasi PAD. Setiap pemasukan, pengeluaran, hingga saldo akhir desa ditampilkan secara real time di website kalurahan.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Desa Pleret menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar soal kecanggihan sistem, tetapi bagaimana teknologi bisa mendekatkan pelayanan, mempermudah warga, dan membangun pemerintahan desa yang lebih transparan.