- Harga ayam warteg naik 25%, dari Rp8.000 menjadi Rp10.000.
- Konsumen mulai pesan setengah porsi untuk tekan pengeluaran.
- Kenaikan bahan baku tekan warteg di tengah persaingan ketat.
Suara.com - Harga makanan di warung tegal (warteg) yang selama ini dikenal sebagai pilihan paling ramah kantong bagi pekerja dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah mulai merangkak naik. Kenaikan harga lauk, khususnya ayam dan usus, menjadi sinyal bahwa tekanan biaya hidup masih membayangi konsumsi harian masyarakat.
Di Warteg Indrajaya Bahar, Jakarta Barat, harga ayam naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per potong. Sementara lauk usus yang sebelumnya dijual Rp3.000 kini menjadi Rp4.000. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga bahan baku mengalami penyesuaian dalam beberapa bulan terakhir akibat rupiah yang terus melemah ke Rp18.000.
"Kalau ayam dari Rp8.000 jadi Rp10.000, usus dari Rp3.000 jadi Rp4.000. Yang lain masih sama, sayur masih Rp2.000 dan ikan Rp8.000," ujar Suri kepada Suara.com, pemilik Warteg Indrajaya Bahar.
Warteg Tak Lagi Semurah Dulu
Kenaikan harga lauk mungkin terlihat kecil, namun bagi pelanggan warteg yang mengandalkan anggaran makan harian terbatas, tambahan Rp2.000 per porsi bisa berdampak signifikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan rakyat yang selama ini menjadi benteng terakhir konsumsi murah mulai ikut terdorong oleh kenaikan biaya produksi. Kondisi tersebut berpotensi menggerus daya beli kelompok pekerja informal dan buruh harian yang sangat sensitif terhadap perubahan harga makanan.
Di sisi lain, persaingan bisnis warteg juga semakin ketat. Pemilik Warteg Nahda, Faiqo, mengaku jumlah pelanggan belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19. Bahkan jumlah warteg di sekitar lokasi usahanya terus bertambah.
Akibatnya, pelaku usaha harus mencari cara agar pelanggan tetap bertahan meski harga bahan baku meningkat.
"Kadang ada pelanggan yang beli setengah porsi nasi Rp10.000, kalau satu porsi sekitar Rp15.000," kata Faiqo.
Menurutnya, perubahan pola konsumsi pelanggan mulai terlihat. Sebagian konsumen memilih mengurangi porsi makan dibanding harus mengeluarkan uang lebih banyak.
Konsumen Mulai Berhemat
Fenomena pelanggan membeli setengah porsi nasi menjadi indikasi bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan di level paling bawah. Ketika harga makanan naik, strategi pertama yang dilakukan masyarakat umumnya adalah mengurangi kuantitas konsumsi.
Meski demikian, belum semua warteg mengalami penurunan transaksi.
Di Warteg Grand Bahari, harga nasi ayam masih bertahan di Rp15.000 dan nasi telur Rp10.000. Kenaikan hanya terjadi pada menu nasi ikan yang kini mencapai Rp17.000 per porsi akibat lonjakan biaya minyak goreng dan bahan baku lainnya.
Pemilik Warteg Grand Bahari, Surinah, mengaku kenaikan harga tidak bisa dihindari jika ingin menjaga keberlangsungan usaha.