- Rahmat, seorang kurir di Jakarta, mempertimbangkan beralih ke BBM murah akibat kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026.
- Pekerja lapangan khawatir penggunaan BBM subsidi dapat menurunkan performa kendaraan yang menjadi aset utama mencari nafkah sehari-hari.
- Kurir saat ini menghitung ulang pengeluaran operasional guna memastikan keseimbangan antara kebutuhan penghematan dan kondisi mesin motor mereka.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi membuat sebagian pengguna kendaraan bermotor mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran. Namun bagi pekerja yang mengandalkan motor sebagai alat mencari nafkah, keputusan beralih ke bahan bakar yang lebih murah tidak selalu mudah dilakukan.
Dilema itu dirasakan Rahmat (33), seorang kurir paket yang setiap hari berkeliling mengantarkan barang ke sejumlah wilayah di Jakarta. Ia mengaku selama ini menggunakan Pertamax karena dinilai lebih cocok untuk menunjang aktivitasnya yang padat di jalan.
Namun setelah harga Pertamax kembali mengalami kenaikan, Rahmat mulai mempertimbangkan untuk beralih ke Pertalite. Di sisi lain, ia khawatir perubahan tersebut dapat memengaruhi performa kendaraannya yang digunakan hampir sepanjang hari.
![Kurir pengantar paket saat momen libur lebaran 2023. [Suara.com/Faqih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/05/04/47099-kurir-pengantar-paket-saat-momen-libur-lebaran.jpg)
"Kalau lihat pengeluaran, tentu saya pengennya cari yang lebih murah. Tapi motor ini dipakai kerja dari pagi sampai malam. Jadi saya juga mikir soal kondisi mesinnya," kata Rahmat kepada Suara.com, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, motor merupakan aset utama yang menunjang pekerjaannya sebagai kurir. Karena itu, menjaga kondisi kendaraan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan meski biaya operasional terus meningkat.
Rahmat mengaku belum mengambil keputusan untuk langsung beralih ke Pertalite. Saat ini ia masih mencoba menghitung selisih pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap bulan jika tetap menggunakan Pertamax.
Belum lagi antrean Pertalite yang lebih ramai membuatnya berpikir ulang untuk beralih ke BBM subsidi itu.
"Yang saya pikirkan bukan cuma harga bensin hari ini. Kalau motor sampai lebih sering masuk bengkel atau performanya turun, nanti ada biaya lain lagi yang keluar," ujarnya.
Dalam sehari, Rahmat bisa menempuh puluhan hingga lebih dari 100 kilometer tergantung jumlah paket yang harus diantarkan. Kondisi tersebut membuat konsumsi BBM menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang harus ditanggungnya.
Ia mengatakan kenaikan harga BBM memang tidak langsung menghentikan aktivitas para kurir. Namun perubahan harga tersebut membuat mereka harus lebih cermat mengatur pengeluaran agar pendapatan yang dibawa pulang tidak semakin tergerus.
"Kalau kerja di lapangan seperti kami, biaya bensin itu bukan pengeluaran kecil. Setiap ada kenaikan pasti langsung terasa karena motor dipakai terus," tuturnya.
Rahmat juga mengaku sejumlah rekannya sesama kurir mulai membicarakan kemungkinan beralih ke jenis BBM yang lebih murah. Meski demikian, tidak sedikit yang masih ragu karena mempertimbangkan kondisi kendaraan masing-masing.
"Banyak yang mulai berhitung. Ada yang bilang mau pindah ke Pertalite, ada juga yang masih bertahan karena takut motornya jadi kurang nyaman dipakai kerja," katanya.
Menurut Rahmat, situasi tersebut membuat para kurir berada dalam posisi serba salah. Di satu sisi mereka ingin menghemat biaya operasional, tetapi di sisi lain kendaraan harus tetap dalam kondisi prima karena menjadi sumber penghasilan utama.
"Mau hemat penting, tapi motor juga harus tetap siap dipakai kerja setiap hari. Jadi memang sekarang saya lagi menimbang mana yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang," ucapnya.
Ia berharap harga BBM tidak kembali mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Sebab, setiap kenaikan harga akan menambah beban pekerja lapangan yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mencari nafkah.
"Yang paling terasa memang buat orang yang setiap hari hidup di jalan. Kalau bensin naik, kami pasti ikut menghitung ulang semua pengeluaran," pungkasnya.