Laut China Selatan Jadi Rebutan, RI Diminta Tak Lupakan Potensi Ekonomi Natuna

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:00 WIB
Laut China Selatan Jadi Rebutan, RI Diminta Tak Lupakan Potensi Ekonomi Natuna
Kapal Vietnam curi ikan di Laut Natuna (foto: Antara)
baca 10 detik
  • Natuna dinilai aset ekonomi strategis sekaligus titik rawan sengketa Laut China Selatan.
  • Indonesia diperkirakan rugi lebih dari Rp4 triliun per tahun akibat aktivitas ilegal.
  • Pakar: Kerja sama dengan China boleh dilakukan, asal kedaulatan RI tak dikompromikan.

Suara.com - Laut China Selatan (LCS) kembali menjadi sorotan bukan hanya dari sisi geopolitik, tetapi juga potensi ekonominya bagi Indonesia. Para pakar menilai kawasan tersebut merupakan aset strategis yang menyimpan kekayaan perikanan, minyak dan gas, sekaligus menjadi jalur perdagangan dunia. Namun, peluang ekonomi itu dibayangi klaim sepihak China yang masih mencakup sebagian Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna.

Dalam seminar "Aset atau Ancaman? Kompleksitas Laut China Selatan dalam Relasi Indonesia–China" yang digelar Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta, Kamis (24/7), Kepala Pusat Kajian Maritim Seskoal Laksamana Pertama TNI Salim menegaskan Laut China Selatan tidak bisa dipandang hanya sebagai ancaman ataupun semata-mata aset.

"Laut China Selatan adalah jalur perdagangan strategis dunia, sumber perikanan, cadangan energi, serta ruang penting bagi diplomasi dan ekonomi maritim Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, stabilitas kawasan akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia. Namun di sisi lain, Indonesia juga harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rivalitas kekuatan besar, sengketa klaim maritim, aktivitas ilegal di laut, hingga potensi pelanggaran hak berdaulat Indonesia di Laut Natuna Utara.

"Laut China Selatan bukan ancaman karena letaknya, melainkan dapat menjadi ancaman apabila Indonesia lemah dalam menjaga kedaulatan, menegakkan hukum laut, dan membangun kekuatan maritim. Sebaliknya, dengan kepemimpinan yang visioner, Laut China Selatan adalah aset geopolitik terbesar Indonesia di abad ke-21," kata Salim.

Perhatian terhadap Natuna semakin besar karena wilayah tersebut diyakini menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, mulai dari sektor perikanan hingga cadangan minyak dan gas.

Pemerhati politik China dari STF Driyarkara, Dr. Klaus Heinrich Raditio, menilai pendekatan Presiden Prabowo Subianto terhadap Laut China Selatan berbeda dibanding pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, pemerintah saat ini lebih melihat Natuna sebagai peluang kerja sama ekonomi yang pragmatis.

Meski demikian, Klaus menegaskan kerja sama ekonomi tidak boleh mengurangi pengakuan terhadap hak berdaulat Indonesia.

"Kita jangan mau ditekan oleh pihak lain, tapi kerja sama harus terbuka, karena ZEE harusnya dipakai untuk kepentingan ekonomi, namun harus jelas ada pengakuan terhadap hak berdaulat dan kedaulatan Indonesia," ujarnya.

baca juga

Direktur Eksekutif Center for Diplomacy Jakarta, Ple Priatna, mengingatkan bahwa aktivitas penangkapan ikan ilegal yang berkaitan dengan klaim sembilan garis putus-putus (nine-dash line) China telah menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak kecil bagi Indonesia.

"Kekayaan alam ini berpotensi hilang dan mengakibatkan kerugian Indonesia hingga Rp4 triliun lebih setiap tahunnya," katanya.

Seminar "Aset atau Ancaman? Kompleksitas Laut China Selatan dalam Relasi Indonesia–China" yang digelar Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta. Foto ist.
Seminar "Aset atau Ancaman? Kompleksitas Laut China Selatan dalam Relasi Indonesia–China" yang digelar Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta. Foto ist.

Menurut Ple, Indonesia bersama ASEAN perlu mulai mendorong mekanisme kompensasi atas kerugian ekonomi akibat aktivitas ilegal tersebut. Bahkan, ia mengusulkan adanya formula kompensasi yang dapat menjadi dasar negosiasi dengan China.

"Kalau ada kerugian, kompensasinya seperti apa? Beranikah Indonesia dan ASEAN?" ujarnya.

Sementara itu, Laksamana Muda TNI (Purn) Surya Wiranto mengingatkan bahwa persoalan Natuna bukan hanya menyangkut hasil laut, melainkan juga cadangan energi yang berada di bawah dasar laut.

"ZEE yang merupakan hak berdaulat Indonesia mengandung landas kontinen. Ini yang diperebutkan oleh China, yang mengincar kekayaan dasar laut kita, yaitu minyak bumi," tegasnya.

Ia menilai Indonesia harus tetap berpegang pada UNCLOS serta putusan arbitrase internasional tahun 2016 yang menolak dasar hukum klaim China di sebagian besar Laut China Selatan.

Surya juga mendorong pemerintah memperkuat kehadiran aparat di laut, meningkatkan modernisasi alat utama sistem senjata maritim, mempererat koordinasi antarinstansi, serta membangun kemitraan keamanan dan ekonomi secara seimbang dengan negara-negara lain.

Ketua Forum Sinologi Indonesia, Johanes Herlijanto, menilai isu Laut China Selatan masih akan menjadi tantangan utama dalam hubungan Indonesia dan China. Karena itu, setiap peluang kerja sama ekonomi di Natuna harus tetap berpijak pada pengakuan terhadap kedaulatan dan hak berdaulat Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Blibli Andalkan Teknologi Platform untuk Tingkatkan Pengalaman Belanja

Blibli Andalkan Teknologi Platform untuk Tingkatkan Pengalaman Belanja

Tekno | Sabtu, 25 Juli 2026 | 13:10 WIB

Mengurai Inovasi Regulasi dan Dominasi Institusi di Balik "Rebound" Pasar Kripto Global

Mengurai Inovasi Regulasi dan Dominasi Institusi di Balik "Rebound" Pasar Kripto Global

Bisnis | Sabtu, 25 Juli 2026 | 11:29 WIB

Laut China Selatan Memanas! Pasukan Xi Jinping Tembakan Meriam ke Kapal Filipina

Laut China Selatan Memanas! Pasukan Xi Jinping Tembakan Meriam ke Kapal Filipina

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 10:30 WIB

Terkini

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bahlil Ungkap Biang Kerok Antrean BBM Subsidi, Soroti Mobil Pajero

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 18:29 WIB

Tragedi KM Virgo Transport 8, Satu Keluarga Asal Kediri Turut Menjadi Korban

Tragedi KM Virgo Transport 8, Satu Keluarga Asal Kediri Turut Menjadi Korban

Jatim | Senin, 14 September 2026 | 18:28 WIB

Momen Suahasil Nazara Sapa Karyawan Kemenkeu Usai Jadi Menteri

Momen Suahasil Nazara Sapa Karyawan Kemenkeu Usai Jadi Menteri

Foto | Senin, 14 September 2026 | 18:26 WIB

Purbaya Dicopot Prabowo, Pramono Siap Gandeng Menkeu Baru demi Kelancaran Fiskal Jakarta

Purbaya Dicopot Prabowo, Pramono Siap Gandeng Menkeu Baru demi Kelancaran Fiskal Jakarta

News | Senin, 14 September 2026 | 18:25 WIB

Monitoring 24 Jam Selat Sunda Normal, Kabar Tsunami Akibat Erupsi GAK Dipastikan Hoaks!

Monitoring 24 Jam Selat Sunda Normal, Kabar Tsunami Akibat Erupsi GAK Dipastikan Hoaks!

News | Senin, 14 September 2026 | 18:17 WIB

Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu

Manga Gachiakuta Kembali Hiatus Tanpa Jadwal Kembali, Fans Harus Menunggu

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 18:17 WIB

'Mereka Membantah, Kami Membuktikan', Kuasa Hukum Pelapor Siap Lawan Bantahan Betrand Peto

'Mereka Membantah, Kami Membuktikan', Kuasa Hukum Pelapor Siap Lawan Bantahan Betrand Peto

News | Senin, 14 September 2026 | 18:12 WIB

Korban Keracunan MBG Sudah 53 Ribu, DPR Desak Polisi Usut Tanpa Tunggu Laporan

Korban Keracunan MBG Sudah 53 Ribu, DPR Desak Polisi Usut Tanpa Tunggu Laporan

News | Senin, 14 September 2026 | 18:05 WIB

Timnas Indonesia Cari Lawan Kedua di FIFA Matchday November, Erick Thohir Masih Tunggu Jawaban

Timnas Indonesia Cari Lawan Kedua di FIFA Matchday November, Erick Thohir Masih Tunggu Jawaban

Bola | Senin, 14 September 2026 | 18:05 WIB

Anwar Ibrahim Undang Prabowo ke Malaysia, Bahas Kabut Asap dan Hubungan Bilateral

Anwar Ibrahim Undang Prabowo ke Malaysia, Bahas Kabut Asap dan Hubungan Bilateral

Video | Senin, 14 September 2026 | 18:00 WIB

×