Derita Pekerja Setelah Harga Pertamax Naik: Sekarang Uang Rp50.000 Tak Cukup

Achmad Fauzi, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:07 WIB
Derita Pekerja Setelah Harga Pertamax Naik: Sekarang Uang Rp50.000 Tak Cukup
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni di seluruh wilayah Indonesia.
  • Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menyebabkan beban pengeluaran transportasi para pekerja di Jakarta menjadi membengkak signifikan.
  • Para pekerja terpaksa memutar otak untuk menghemat biaya atau mempertimbangkan penggunaan transportasi umum demi menekan pengeluaran.

Suara.com - Melonjaknya harga Pertamax memaksa para pekerja di Jakarta memutar otak demi menekan biaya transportasi

Mereka kini berada di posisi dilematis, tetap menggunakan Pertamax dengan risiko pengeluaran yang membengkak, atau beralih ke Pertalite namun dengan konsekuensi mesin kendaraan mengalami gangguan.

Rafi (28), seorang karyawan swasta, setiap hari mengendarai sepeda motor dari rumahnya di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menuju tempat kerjanya di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Dalam sepekan, ia menghabiskan setidaknya 4 liter hingga 5 liter Pertamax (RON 92), atau setara dengan pengeluaran sekitar Rp 45.000- Rp 60.000. 

Namun kini, pos pengeluaran untuk bahan bakar kendaraannya membengkak. Per 10 Juni kemarin, Pertamina resmi mengerek harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300. Sementara itu, Pertamax Green 95 melonjak dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Ia pun memperhitungkan pengeluarannya untuk bensin akan meningkat menjadi Rp 80.000 per minggu. 

Rafi bukannya tidak ingin beralih ke transportasi umum demi menghemat pengeluaran. Namun, akses dari rumahnya menuju halte atau stasiun terdekat terhitung cukup jauh, sehingga mengendarai sepeda motor tetap menjadi pilihan yang paling praktis. Oleh karenanya ia mengaku harus memutar otak demi memangkas pengeluaran harian lainnya. 

"Mungkin mulai mengurangi perjalanan, membatasi dan mengevaluasi pengeluaran, karena Pertamax naik 4 ribu berdampak banget," kata Rafi kepada Suara.com pada Kamis (11/6/2026). 

Selain itu, beralih Pertalite juga menurutnya menjadi pilihan yang tepat. Sebab BBM bersubsidi tersebut sempat membuat mesin sepeda motornya bermasalah.

baca juga

"Kalau pake Pertalite rada ngadat. Pake Pertamax,  hitung-hitung biar mesin lebih awet," katanya. 

Di tengah kenaikan agar BBM saat ini, Rafi berharap agar pemerintah mendengar masukan dari masyarakat, khususnya dari pakar ekonomi.

Sebab menurutnya perubahan harga yang terjadi bukan hanya berdampak terhadap  kelas menengah atas, tapi juga masyarakat bawah. 

"Pemerintah jangan budek-budek sama masyarakat. Jangan sok keras, bilang yang pake Pertamax kelas menengah-atas," tegasnya. 

Adi (31), karyawan swasta juga mengeluhkan keputusan Pertamina yang menaikkan harga Pertamax series. Sebagai pengguna BBM nonsubsdi tersebut ayah satu ini memastikan bahwa pengeluaran untuk bensin bakal membengkak. 

Setiap hari ia berangkat kerja dari rumahnya di Cilangkap, Jakarta Timur menuju kantornya di Palmerah, Jakarta Barat menggunakan sepeda motor.

Setiap dua hari sekali dia mengeluarkan uang sebesar 30 ribu untuk bahan bakar kendaraannya. Serupa dengan Rafi, Adi lebih memilih Pertamax demi menjaga performa mesin sepeda motornya. 

Meski saat ini harga Pertamax sudah melonjak signifikan, Adi belum berpikir beralih ke BBM bersubsidi Pertalite. 

"Bukan enggak pertimbangan , Lebih karena keadaan aja sih. Pernah pakai Pertalite malah ngebrebet, malah mahal di ongkos service. Jadi mau, enggak mau bertahan dulu di Pertamax, sambil coba cari alternatif," kata Adi kepada Suara.com. 

Sebagai alternatif, Adi saat ini mengaku mulai mempertimbangkan transportasi publik demi menekan pengeluaran. 

"Saat masih, liat dulu sih estimasi pengeluarannya beberapa minggu ke depan. Kalau misal membengkak,  paling alternatifnya naik Transjakarta dari Kampung  Rambutan ke Palmerah," katanya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Hanya Armada, SDM Jadi Kekuatan Utama Distribusi Energi Nasional

Tak Hanya Armada, SDM Jadi Kekuatan Utama Distribusi Energi Nasional

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 12:39 WIB

Mengapa Pertamina Naikkan Harga Pertamax Saat Gajian Telah Habis?

Mengapa Pertamina Naikkan Harga Pertamax Saat Gajian Telah Habis?

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 11:29 WIB

Harga Pertamax Harusnya Tembus Rp 30.000/Liter

Harga Pertamax Harusnya Tembus Rp 30.000/Liter

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 11:18 WIB

Terkini

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Polisi Beri Pendampingan Psikologis bagi Keluarga Korban KM Virgo

Video | Selasa, 15 September 2026 | 21:05 WIB

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Kronologi Karyawan SPPG Bengkulu Tewas, Sempat Tolong Satpam Sebelum Ditemukan di Sungai

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 21:01 WIB

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Saat Partai Politik Sibuk Bangun Citra, Padahal Rakyat Masih Terluka oleh Bencana

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 21:00 WIB

OTT Suap HGB di Kementerian ATR/BPN, KPK Sita Uang Tunai Rp 106,3 Miliar

OTT Suap HGB di Kementerian ATR/BPN, KPK Sita Uang Tunai Rp 106,3 Miliar

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:58 WIB

4 Shio Paling Hoki Besok 16 September 2026, Masa Sulit Akhirnya Terlewati

4 Shio Paling Hoki Besok 16 September 2026, Masa Sulit Akhirnya Terlewati

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 20:55 WIB

Pembelaan Eks Bomber Timnas Indonesia Jhon van Beukering Hajar Pemain hingga Gigi Korban Rontok

Pembelaan Eks Bomber Timnas Indonesia Jhon van Beukering Hajar Pemain hingga Gigi Korban Rontok

Bola | Selasa, 15 September 2026 | 20:52 WIB

Peran Fahd A Rafiq: Orang Kepercayaan Nusron Wahid, Tampung Uang Gratifikasi Miliaran Rupiah!

Peran Fahd A Rafiq: Orang Kepercayaan Nusron Wahid, Tampung Uang Gratifikasi Miliaran Rupiah!

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:47 WIB

Kabut Asap Pekat, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Jarak Jauh

Kabut Asap Pekat, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar Jarak Jauh

Riau | Selasa, 15 September 2026 | 20:46 WIB

Hasil Pemeriksaan Masih Berjalan, Jenazah di Enggano Belum Teridentifikasi Jurnalis Hilang

Hasil Pemeriksaan Masih Berjalan, Jenazah di Enggano Belum Teridentifikasi Jurnalis Hilang

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:44 WIB

Pit Stop Tahap II 2026 Rampung, Kilang Plaju Perkuat Keandalan dan Ekonomi Lokal

Pit Stop Tahap II 2026 Rampung, Kilang Plaju Perkuat Keandalan dan Ekonomi Lokal

Sumsel | Selasa, 15 September 2026 | 20:42 WIB

×