- Amerika Serikat dan Iran menyepakati draf perdamaian untuk membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri blokade laut pada Jumat mendatang.
- Sentimen positif tersebut memicu kenaikan indeks saham Asia serta menurunkan harga minyak mentah dan nilai tukar dolar Amerika.
- Analisis pasar memprediksi kebijakan bank sentral akan melunak, meski normalisasi distribusi energi global diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.
Sementara itu, untuk wilayah regional Jepang, Masahito Sugawara selaku Analis Senior di Daiwa Securities Tokyo menjelaskan bahwa penurunan komoditas energi ini dapat mereduksi kekhawatiran atas lonjakan inflasi. Hal ini diperkirakan akan membuat sikap Bank of Japan (BOJ) menjadi kurang agresif (hawkish) dari draf perkiraan pasar sebelumnya, yang berpotensi melemahkan nilai tukar yen pasca-konferensi pers.
Hiroyuki Ueno dari Sumitomo Mitsui Trust Asset Management menambahkan, draf penguatan indeks Nikkei hari ini sebagian besar dipicu oleh aktivitas short cover oleh para investor yang diwajibkan melakukan aksi beli di area harga tinggi.
Meskipun disambut dengan draf optimisme tinggi, para pakar mata uang dan komoditas mengingatkan bahwa pemulihan sektor riil membutuhkan waktu yang tidak instan.
Kristina Clifton, Pakar Strategi Valas Senior di Commonwealth Bank of Australia (CBA), menegaskan bahwa pengaktifan kembali infrastruktur gas dan minyak bumi secara total membutuhkan proses berbulan-bulan.
"Pasar akan sangat fokus pada bagaimana lalu lintas kapal mulai kembali dan melihat seberapa cepat kapasitas produksi dapat kembali pulih secara online. Dalam pandangan kami, harga energi tidak akan langsung merosot ke level sebelum konflik terjadi dalam waktu dekat, karena pemulihan jalur maritim memerlukan waktu untuk kembali ke draf kondisi normal," urai Kristina.
Pandangan taktis tersebut didukung oleh Nick Twidale, Chief Market Strategist di ATFX Global Sydney, yang memperkirakan mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan yen akan mengalami draf apresiasi tipis dalam beberapa sesi ke depan.
Namun, ia menyangsikan harga minyak akan jatuh ke level 70 dolar AS per barel dalam waktu dekat mengingat proses normalisasi memakan waktu bulanan, bukan mingguan.