- Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi sebesar 1,06 persen ke level 6.154 pada perdagangan sesi pertama, 18 Juni 2026.
- Tekanan jual mendominasi pasar akibat pengaruh sentimen global mengenai kebijakan suku bunga The Fed terhadap arus modal.
- Saham sektor infrastruktur mengalami pelemahan terdalam, sementara sektor bahan baku mencatatkan penguatan paling signifikan di bursa domestik.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan pelemahan hingga sesi I, Kamis, 18 Juni 2026. IHSG terkoreksi 65,82 poin atau 1,06 persen ke level 6.154.
Berdasarkan data riset Phintraco Sekuritas, menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar di tengah sentimen global dan domestik yang menjadi perhatian investor.
Nilai transaksi pada sesi pertama mencapai Rp 10,03 triliun dengan volume perdagangan 13,45 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1.039.521 kali.
Pelemahan IHSG terjadi meski sejumlah saham berbasis komoditas dan energi masih mencatatkan penguatan. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi bintang di indeks LQ45 dengan kenaikan 5,86 persen ke level Rp2.890 per saham.
![Pekerja mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/21/56430-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham.jpg)
Sebaliknya, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi top loser LQ45 setelah anjlok 7,77 persen ke level Rp2.730. Pelemahan TLKM turut membebani pergerakan IHSG pada sesi pertama.
Dari sisi sektoral, sektor bahan baku atau basic materials menjadi sektor dengan penguatan terbesar yakni 0,65 persen. Sementara sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,03 persen.
Pergerakan pasar domestik juga sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang bergerak bervariasi. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,70 persen dan Shanghai Composite turun 0,37 persen. Namun, Nikkei 225 Jepang masih mampu menguat 1,78 persen.
Phintraco Sekuritas sebelumnya menilai pasar masih mencermati sejumlah sentimen global, termasuk hasil pertemuan Federal Reserve (The Fed) serta perkembangan kebijakan suku bunga yang mempengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang. (Phintraco Sekuritas)
Data Perdagangan
- Nilai transaksi: Rp10,03 triliun
- Volume transaksi: 13,45 miliar saham
- Frekuensi transaksi: 1.039.521 kali
- Level tertinggi: 6.197
- Level terendah: 6.073
- Pembukaan: 6.191
Top Value
- BBCA: Rp6.175 (-1,59 persen)
- TPIA: Rp2.010 (+0,75 persen)
- BBRI: Rp2.980 (-3,25 persen)
Top Volume
- BUMI: Rp170 (+1,19 persen)
- DEWA: Rp372 (+3,91 persen)
- BNBR: Rp111 (-2,63 persen)
Top Gainers LQ45
- MDKA: Rp2.890 (+5,86 persen)
- DEWA: Rp372 (+3,91 persen)
- INCO: Rp5.100 (+2,20 persen)
Top Losers LQ45
- TLKM: Rp2.730 (-7,77 persen)
- SMGR: Rp1.515 (-4,72 persen)
- ISAT: Rp1.785 (-3,77 persen)
Top Gainers JII
- MDKA: Rp2.890 (+5,86 persen)
- DEWA: Rp372 (+3,91 persen)
- ENRG: Rp1.445 (+2,85 persen)
Top Losers JII
- TLKM: Rp2.730 (-7,77 persen)
- BRMS: Rp650 (-2,26 persen)
- ADRO: Rp2.290 (-1,72 persen)
Sektor Terkuat
- Basic Materials: +0,65 persen
- Property: +0,40 persen
- Technology: +0,11 persen
Sektor Terlemah
- Infrastructure: -2,03 persen
- Finance: -1,46 persen
- Health: -1,41 persen
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.