Suara.com - PT Brantas Abipraya (Persero) bersama tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggelar Program Blue Impact di Pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (12/6/2026).
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan konservasi terumbu karang, edukasi literasi keuangan, dan layanan cek kesehatan gratis.
Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen BUMN dalam memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Laut memiliki peran vital sebagai sumber kehidupan, penopang ketahanan pangan, dan penggerak ekonomi masyarakat pesisir sehingga kelestariannya harus dijaga bersama,” ujarnya.
Menurutnya, terumbu karang memiliki fungsi strategis sebagai habitat berbagai biota laut, pelindung alami pantai dari abrasi dan gelombang, serta penyangga keseimbangan ekosistem pesisir. Karena itu, upaya konservasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat.
Melalui Program Blue Impact, selain melakukan penanaman dan konservasi terumbu karang, para peserta juga mendapatkan edukasi literasi keuangan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan keluarga dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Pada kesempatan tersebut, perwakilan BUMN juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pihak kecamatan, panitia pelaksana, serta masyarakat Desa Kelawi yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Dian menambahkan, sinergi lintas sektor menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Keberhasilan konservasi tidak dapat dilakukan sendiri. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan ekosistem laut tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, menilai program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir sekaligus memperkuat potensi pariwisata berkelanjutan.
“Kegiatan ini membawa dua misi penting yang saling berkaitan, yakni rehabilitasi terumbu karang dan edukasi lingkungan. Upaya memulihkan ekosistem bawah laut harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat agar pelestarian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar Nyoman.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut turut mendukung Program Desa Helau (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul) yang tengah dikembangkan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Dengan statusnya sebagai salah satu desa wisata terbaik tingkat nasional, Minang Rua dinilai memiliki posisi strategis sebagai lokasi pengembangan konservasi sekaligus wisata berbasis lingkungan.
Menutup keterangannya, Dian menegaskan bahwa masyarakat pesisir memiliki peran sentral sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
Menurutnya, ekosistem bawah laut yang sehat tidak hanya mendukung kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata Minang Rua serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. ***