Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.605.000
IHSG 6.220,740
LQ45 625,233
Srikehati 305,996
JII 376,405
USD/IDR 17.748

Harta Karun Ekspor Komoditas RI Rp1.152 Triliun, Danantara Diminta Perkuat Pengawasan

Achmad Fauzi

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:23 WIB
Harta Karun Ekspor Komoditas RI Rp1.152 Triliun, Danantara Diminta Perkuat Pengawasan
Danantara mendapat mandat mengawal ekspor SDA. [Antara]
  • Pemerintah didorong mengoptimalkan pengelolaan devisa hasil ekspor sektor sumber daya alam senilai Rp1.152 triliun per tahun.
  • Pengamat menyarankan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia untuk memperkuat pengawasan dan transparansi transaksi ekspor komoditas strategis nasional.
  • Pengelolaan devisa yang efektif di perbankan domestik bertujuan memperkuat cadangan devisa serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Suara.com - Pemerintah didorong untuk mengoptimalkan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dari sektor sumber daya alam (SDA) yang nilainya mencapai lebih dari Rp1.152 triliun per tahun.

Upaya tersebut dinilai dapat memperkuat perekonomian nasional sekaligus meningkatkan manfaat yang diperoleh negara dari komoditas strategis seperti batu bara, sawit, dan nikel.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ekspor SDA menyumbang sekitar 60 persen dari total ekspor Indonesia.

Tiga komoditas utama yang menjadi penopang adalah batu bara sebesar 8,65 persen, crude palm oil (CPO) 8,63 persen, dan ferro alloy sebesar 5,82 persen.

Pada 2024, nilai ekspor batu bara tercatat mencapai 30,49 miliar dolar Amerika Serikat (AS), produk sawit 27,76 miliar dolar AS, dan ferro alloy sekitar 13,8 miliar dolar AS. Secara total, nilai ekspor ketiga komoditas tersebut mencapai 72,05 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp1.152 triliun.

Ilustrasi Ekspor Lampung naik 9,64% di September 2025 menjadi 544,95 juta dolar AS. [ANTARA]
Ilustrasi Ekspor komoditas. [ANTARA]

Pengamat Pasar Modal Fendi Susiyanto menilai besarnya nilai ekspor tersebut seharusnya dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap perekonomian nasional.

"Batu bara, sawit dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian. Apalagi kondisi geopolitik global terus berubah dan semua negara berusaha mengelola aset-aset strategisnya," ujar Fendi di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, langkah pemerintah memperkuat tata kelola ekspor melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi relevan mengingat lalu lintas ekspor komoditas SDA selama ini dinilai belum sepenuhnya transparan dan akuntabel.

Fendi menyoroti masih banyak eksportir komoditas yang memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri sehingga diperlukan pengawasan yang lebih kuat terhadap transaksi ekspor.

"Sebagai produsen CPO terbesar di dunia seharusnya Indonesia memiliki peran yang lebih besar dalam perdagangan CPO internasional, baik dari sisi harga maupun volume, sehingga penerimaan negara menjadi lebih optimal. Jika DSI mampu melakukan monitoring dan menertibkan transaksi ekspor melalui mekanisme satu pintu, rasanya akan banyak dampak positif yang bisa dinikmati pemerintah dan rakyat Indonesia dari sumber daya alamnya ini,” tegas Fendi.

Ia menilai salah satu potensi terbesar yang dapat dioptimalkan melalui penguatan tata kelola ekspor adalah pengelolaan devisa hasil ekspor.

Selama ini pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menarik kembali dana hasil transaksi ekspor untuk ditempatkan di perbankan domestik.

Padahal, arus DHE yang lebih besar ke dalam negeri diyakini dapat memperkuat cadangan devisa Indonesia dan memberikan ruang yang lebih besar bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Fendi, berbagai kebijakan yang telah diterapkan pemerintah selama bertahun-tahun belum mampu meningkatkan arus DHE secara signifikan. Hal itu terlihat dari pertumbuhan cadangan devisa yang dinilai belum sebanding dengan lonjakan nilai ekspor komoditas Indonesia.

"Jika DHE ekspor komoditas ini bisa dikelola bank-bank dalam negeri tentunya BI juga bisa memiliki kemampuan lebih besar saat rupiah mengalami tekanan seperti saat ini. Indonesia harus berani mengambil kebijakan yang mendukung penguatan rupiah melalui aset-aset strategis seperti ekspor komoditas ini," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siap-siap! Ada Raksasa BUMN Asuransi yang Baru Akan Dibentuk

Siap-siap! Ada Raksasa BUMN Asuransi yang Baru Akan Dibentuk

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 10:08 WIB

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:15 WIB

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:46 WIB

Terkini

BBM Naik 37%, Motor Listrik Jadi Jalan Keluar? Ini Kata Pelaku Industri

BBM Naik 37%, Motor Listrik Jadi Jalan Keluar? Ini Kata Pelaku Industri

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:12 WIB

Minyak Dunia Sudah Murah, Kok Harga Pertamax Belum Juga Turun?

Minyak Dunia Sudah Murah, Kok Harga Pertamax Belum Juga Turun?

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10 WIB

Pelaku Usaha Wajib Tahu! Cara Mudah Legalkan Dokumen Elektronik

Pelaku Usaha Wajib Tahu! Cara Mudah Legalkan Dokumen Elektronik

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:07 WIB

PLTS Atap Mulai Laris Manis Dipakai Industri untuk Sumber Listrik Operasional

PLTS Atap Mulai Laris Manis Dipakai Industri untuk Sumber Listrik Operasional

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:59 WIB

Kenaikan BI-Rate Belum Ampuh, Rupiah Tetap Loyo ke Level Rp17.794

Kenaikan BI-Rate Belum Ampuh, Rupiah Tetap Loyo ke Level Rp17.794

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51 WIB

Kolaborasi 7 BUMN di Lampung Selatan Dorong Pelestarian Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Pesisir

Kolaborasi 7 BUMN di Lampung Selatan Dorong Pelestarian Terumbu Karang dan Penguatan Ekonomi Pesisir

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51 WIB

Pengusaha Sambut Bos Baru BEI, Berharap Ini Terjadi

Pengusaha Sambut Bos Baru BEI, Berharap Ini Terjadi

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:28 WIB

Agar Rupiah Stabil Jadi Alasan BI Naikan BI-Rate Jadi 5,75%

Agar Rupiah Stabil Jadi Alasan BI Naikan BI-Rate Jadi 5,75%

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:21 WIB

Bahlil Jamin Tak Ada Lagi Pemadaman Listrik: Insya Allah!

Bahlil Jamin Tak Ada Lagi Pemadaman Listrik: Insya Allah!

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 15:10 WIB