- Andrye Setiawan mendirikan Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 di Glodok Petak Enam Jakarta untuk melestarikan resep keluarga.
- Gerai tersebut menjual 12 hingga 14 varian kue buatan tangan setiap hari dengan kemasan premium guna menarik minat pembeli.
- Pengelola berencana memperluas jangkauan bisnis ke kota Bandung Semarang dan Surabaya setelah sukses membuka usaha di Jakarta.
Suara.com - Di tengah ramainya kawasan kuliner Glodok Petak Enam, Jakarta, hadir sebuah destinasi baru bagi pencinta kudapan tradisional. Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 membawa misi melestarikan kekayaan kuliner peranakan Tionghoa melalui aneka kue tradisional yang tetap mempertahankan cita rasa autentik, namun dikemas dengan sentuhan modern.
Nama Tuan Wen bukan sekadar identitas merek, melainkan berangkat dari kisah keluarga pendirinya, Andrye Setiawan, yang berasal dari marga Wen.
Sejak kecil, Andrye tumbuh dengan tradisi membuat kue bersama keluarga. Aktivitas sederhana tersebut menjadi momen yang mempererat hubungan antaranggota keluarga sekaligus melahirkan resep-resep turun-temurun yang kini dihadirkan kembali melalui Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980.
"Bagi kami, kue bukan sekadar hidangan manis, melainkan simbol kehangatan. Melalui Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980, kami ingin membagikan nilai-nilai kebersamaan, cinta, dan kehangatan keluarga yang diabadikan dalam setiap gigitan kue peranakan kami," ujar Andrye Setiawan.
Mengusung konsep toko kue peranakan Tionghoa pertama di Jakarta, Tuan Wen 1980 tetap mempertahankan resep tradisional, namun mengelolanya dengan standar produksi modern.
Pemilihan bahan baku berkualitas dan proses pembuatan yang terjaga membuat cita rasa setiap produknya tetap konsisten tanpa menghilangkan karakter asli kue-kue peranakan.
Di gerai yang berlokasi di Petak Enam ini, pengunjung dapat menemukan 12 hingga 14 varian kue yang dibuat secara handmade setiap hari untuk menjaga kualitas dan kesegarannya.
Pilihannya pun beragam, mulai dari varian manis seperti mooncake hingga kue gurih dengan isian ayam, telur asin, dan berbagai pilihan lainnya yang akrab di lidah masyarakat Tionghoa maupun penikmat kuliner tradisional.
Tak hanya mengedepankan rasa, Tuan Wen 1980 juga memperhatikan tampilan produknya.
Seluruh kue dikemas dalam desain premium sehingga cocok dijadikan buah tangan, hampers, maupun hadiah untuk keluarga, kolega, hingga relasi bisnis.
"Kami juga mengandalkan desain kemasan yang premium, sehingga kue-kue kami cocok untuk buah tangan, hampers, maupun hadiah untuk keluarga, kolega, dan relasi bisnis," kata Andrye.
Menurutnya, minat masyarakat terhadap kue tradisional berkualitas terus meningkat sehingga peluang bisnis di segmen ini masih sangat besar.
Karena itu, setelah hadir di Jakarta, Tuan Wen 1980 menargetkan ekspansi ke sejumlah kota besar di Indonesia seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati cita rasa warisan keluarga tersebut.
Kehadiran Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Dengan memadukan resep turun-temurun, kualitas premium, dan kemasan yang lebih modern, kue-kue peranakan Tionghoa tak hanya menjadi sajian nostalgia, tetapi juga mampu menjangkau generasi muda yang ingin mengenal kekayaan kuliner Indonesia yang berakar dari budaya peranakan.