- Bank Indonesia menyatakan ketidakpastian ekonomi global tahun 2026 menyebabkan pertumbuhan melambat ke level 3,0 persen dengan inflasi tinggi.
- Konflik geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat memicu investor memindahkan modal ke aset aman di negara maju.
- Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 4,9 hingga 5,7 persen melalui penguatan konsumsi domestik serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
Daya beli dan tingkat konsumsi rumah tangga juga dilaporkan tetap kokoh berkat indeks keyakinan konsumen yang terjaga di level optimistis. Dari sektor riil, aktivitas investasi terus menunjukkan sinyal pemulihan yang dikonfirmasi oleh posisi Purchasing Managers' Index (PMI) yang tetap berada dalam zona ekspansi, dipimpin oleh serapan proyek pembangunan infrastruktur milik pemerintah.
Guna mengoptimalkan momentum ini, BI memandang perlu adanya penguatan pada sektor ekspor guna memanfaatkan harga komoditas global yang masih tinggi di tengah kelesuan ekonomi dunia.
Bank sentral juga memastikan akan terus menajamkan bauran kebijakan moneter, menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar, serta menggalakkan transformasi sistem pembayaran demi menyokong ekosistem digitalisasi dan inklusi keuangan.
Melalui integrasi kebijakan fiskal-moneter serta sokongan konsumsi dalam negeri, Bank Indonesia memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 mampu menyentuh angka 4,9 persen hingga 5,7 persen, sekalipun bayang-bayang resesi dan inflasi global belum sepenuhnya sirna.