Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Guncangan Ekonomi Imbas Perang Belum Reda, BI Waspada Dampaknya Pada Masyarakat

M Nurhadi, Rina Anggraeni

Minggu, 21 Juni 2026 | 15:37 WIB
Guncangan Ekonomi Imbas Perang Belum Reda, BI Waspada Dampaknya Pada Masyarakat
Ilustrasi [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Bank Indonesia menyatakan ketidakpastian ekonomi global tahun 2026 menyebabkan pertumbuhan melambat ke level 3,0 persen dengan inflasi tinggi.
  • Konflik geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat memicu investor memindahkan modal ke aset aman di negara maju.
  • Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 4,9 hingga 5,7 persen melalui penguatan konsumsi domestik serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa eskalasi ketidakpastian pada lanskap ekonomi global masih berada di tingkat yang cukup tinggi.

Meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah dilaporkan sedikit mendingin pasca penandatanganan kesepakatan sementara (interim deal) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 14 Juni 2026, dampaknya terhadap pasar keuangan dunia masih terasa.

Kombinasi antara dinamika Timur Tengah, laju pertumbuhan global, serta arah kebijakan moneter dalam negeri menjadi penentu utama arah gerak ekonomi nasional sepanjang tahun ini.

Konflik bersenjata yang pecah sejak akhir Februari 2026 diakui telah mengacaukan jalur logistik, sektor produksi, hingga mata rantai perdagangan internasional.

Imbas dari disrupsi makro ini, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 diproyeksikan tertahan di level rendah sebesar 3,0 persen, sementara angka inflasi dunia melonjak ke kisaran 4,4 persen.

Tekanan inflasi yang membubung tersebut memicu jajaran bank sentral global mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan mereka demi meredam gejolak pasar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa perkembangan situasi di Timur Tengah masih menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh otoritas keuangan karena memiliki efek rembetan terhadap stabilitas finansial internasional.

"Ke depan, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," jelas Perry Warjiyo pada Minggu (21/6).

Tekanan Suku Bunga AS dan Daya Tarik Safe Haven

Di tengah ketegangan makro tersebut, Federal Reserve (The Fed) terpantau masih mempertahankan suku bunga kebijakannya, Fed Funds Rate, pada rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Walau demikian, ruang bagi bank sentral AS untuk kembali mengerek suku bunga masih terbuka lebar apabila ekspektasi inflasi di negara tersebut terus menanjak.

Pada saat yang sama, tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, US Treasury, masih bertahan di posisi tinggi. Per 17 Juni 2026, instrumen bertenor 10 tahun mencatatkan yield sebesar 4,49 persen, sedangkan untuk tenor 2 tahun berada di level 4,18 persen.

Melambungnya angka yield ini dipicu oleh pembengkakan defisit anggaran belanja negara AS, yang kemudian mendorong para investor global memindahkan modal mereka ke aset aman (safe haven) di negara-negara maju, ketimbang menanamkannya di pasar negara berkembang (emerging markets).

Kendati digempur oleh rentetan tekanan dari eksternal, Bank Indonesia menilai fundamental perekonomian Indonesia masih memperlihatkan performa benteng ketahanan yang solid. Kondisi positif ini utamanya disokong oleh tingginya volume permintaan di pasar domestik.

Penyerapan anggaran belanja pemerintah bergerak cepat lewat realisasi sejumlah agenda prioritas, seperti pencairan gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta penyaluran bantuan sosial bagi Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Daya beli dan tingkat konsumsi rumah tangga juga dilaporkan tetap kokoh berkat indeks keyakinan konsumen yang terjaga di level optimistis. Dari sektor riil, aktivitas investasi terus menunjukkan sinyal pemulihan yang dikonfirmasi oleh posisi Purchasing Managers' Index (PMI) yang tetap berada dalam zona ekspansi, dipimpin oleh serapan proyek pembangunan infrastruktur milik pemerintah.

Guna mengoptimalkan momentum ini, BI memandang perlu adanya penguatan pada sektor ekspor guna memanfaatkan harga komoditas global yang masih tinggi di tengah kelesuan ekonomi dunia.

Bank sentral juga memastikan akan terus menajamkan bauran kebijakan moneter, menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar, serta menggalakkan transformasi sistem pembayaran demi menyokong ekosistem digitalisasi dan inklusi keuangan.

Melalui integrasi kebijakan fiskal-moneter serta sokongan konsumsi dalam negeri, Bank Indonesia memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 mampu menyentuh angka 4,9 persen hingga 5,7 persen, sekalipun bayang-bayang resesi dan inflasi global belum sepenuhnya sirna.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aktivis 98 Kritik Kondisi Ekonomi hingga Ruang Demokrasi, Sebut Reformasi Belum Tuntas

Aktivis 98 Kritik Kondisi Ekonomi hingga Ruang Demokrasi, Sebut Reformasi Belum Tuntas

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:04 WIB

Kopdes Merah Putih: Niat Mulia Memutus Rantai Tengkulak atau Proyek Ambisius yang Terburu-buru?

Kopdes Merah Putih: Niat Mulia Memutus Rantai Tengkulak atau Proyek Ambisius yang Terburu-buru?

Your Say | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:45 WIB

Pekan Kreatif Nusantara 2026, LPDB Koperasi Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi

Pekan Kreatif Nusantara 2026, LPDB Koperasi Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Koperasi

Bisnis | Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:28 WIB

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:48 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:26 WIB

Jangan Salahkan Rakyat! Ekonom Sebut Tata Kelola Pemerintah Jadi Biang Kerok Daya Beli Lesu

Jangan Salahkan Rakyat! Ekonom Sebut Tata Kelola Pemerintah Jadi Biang Kerok Daya Beli Lesu

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:13 WIB

Terkini

Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun di Pertengahan Juni 2026, Naik 23,4%

Penerimaan Pajak Tembus Rp 940,31 Triliun di Pertengahan Juni 2026, Naik 23,4%

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:59 WIB

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Pakar Sorot Masalah RAPBN 2027: Anggaran K/L Tercekik Demi Program Prioritas

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:05 WIB

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Kejar Transaksi Ritel, CIMB Niaga Terus Pepet Kalangan Gen Z

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:58 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Pasokan Aman, Bahlil Sebut Jangan Salahkan Batu Bara, Itu Teknis PLN

Pasokan Aman, Bahlil Sebut Jangan Salahkan Batu Bara, Itu Teknis PLN

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:47 WIB

Indonesia dan Italia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Kapal Angkatan Laut

Indonesia dan Italia Sepakat Kerja Sama Pengembangan Kapal Angkatan Laut

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22 WIB

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:16 WIB

Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya

Gaji Rp14 Juta Bisa Beli Rumah Subsidi Bebas Pajak! Simak Aturan Terbarunya

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 11:45 WIB

Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan

Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:57 WIB

MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni

MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:53 WIB