Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.655.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'

M Nurhadi, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Senin, 22 Juni 2026 | 13:09 WIB
Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'
Ilustrasi (Dok: PLN)
baca 10 detik
  • Pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa disebabkan oleh kendala teknis PLTU serta pasokan batu bara yang tersendat.
  • Perusahaan tambang sering mengabaikan aturan kuota DMO demi mengejar keuntungan dari ekspor batu bara dengan harga tinggi.
  • Fahmy Radhi mendesak pemerintah memberikan sanksi tegas kepada pengusaha dan memperbaiki tata kelola rantai pasok energi nasional.

Suara.com - Fenomena pemadaman listrik secara bergilir yang melanda sejumlah area di Pulau Jawa memicu sorotan tajam dari kalangan akademisi.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai bahwa kendala teknis pada infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) utama di Jawa, serta tersendatnya distribusi bahan bakar batu bara menjadi akar pemicu terjadinya krisis keandalan listrik saat ini.

Menurut Fahmy, kelangkaan alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) yang dialami oleh PT PLN (Persero) merupakan problem klasik struktural yang terus berulang tanpa solusi permanen.

Secara regulasi, Keputusan Menteri ESDM Nomor 1395 K/2018 telah mematok batas minimal kuota DMO sebesar 20 persen dari seluruh hasil produksi komoditas nasional, dengan skema harga khusus senilai US$ 70 per metrik ton untuk kebutuhan draf kelistrikan umum.

Kendati demikian, dalam realisasinya di lapangan, ketetapan wajib ini berulang kali dikesampingkan oleh korporasi pertambangan.

"Pada saat harga batu bara dunia tinggi, pengusaha cenderung mendahulukan ekspor ketimbang memasok ke PLN. Dampaknya, PLN mengalami kekurangan pasokan yang berujung pada pemadaman bergilir," ujar Fahmy dalam keterangan tertulisnya yang dirilis pada Senin (22/6/2026).

Mendesak Pembenahan Tata Kelola dan Pengawasan Ketat

Guna mengurai benang kusut pemadaman ini, Fahmy mendorong jajaran manajemen PLN untuk bergerak cepat merestrukturisasi manajemen rantai pasok (supply chain management) sektor energi primer.

Selain itu, aspek kualitas perawatan dan pemeliharaan mesin PLTU secara periodik wajib ditingkatkan demi mencegah malafungsi teknis.

baca juga

Di sisi lain, peran aktif draf pemerintah sangat dinantikan untuk membangun sistem pemantauan (monitoring system) yang rigid.

Sistem ini diperlukan guna memastikan volume tonase serta ketepatan lini waktu pengiriman pasokan dari korporasi tambang ke draf PLN berjalan sesuai kesepakatan.

Fahmy meminta Kementerian ESDM mengambil posisi tegas dan tidak ragu dalam mengeksekusi penalti bagi emiten tambang yang membandel terhadap aturan DMO.

"Pemerintah harus memberikan sanksi berupa denda, larangan ekspor, hingga pencabutan izin usaha bagi pengusaha yang tidak memenuhi kewajiban DMO," kata Fahmy menekankan pentingnya efek jera.

Bila draf penanganan krisis draf energi primer ini berlarut-larut tanpa adanya terobosan nyata dan langkah konkret di lapangan, reputasi mutu pelayanan PLN di mata masyarakat draf dikhawatirkan akan draf merosot ke titik terendah.

Sindiran dan draf ketidakpuasan draf publik diproyeksikan akan draf semakin draf meluas jika draf pemadaman listrik draf draf terus mengganggu draf aktivitas harian warga maupun sektor usaha.

"Kalau pemadaman listrik bergilir tidak dapat segera diatasi, konsumen akan mengubah singkatan PLN menjadi Perusahaan Lilin Negara," ucap Fahmy mengakhiri analisisnya dengan kalimat peringatan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

6 Motor Listrik Harga di Bawah Honda Scoopy: Cocok untuk Pelajar dengan Jarak Tempuh Jauh

6 Motor Listrik Harga di Bawah Honda Scoopy: Cocok untuk Pelajar dengan Jarak Tempuh Jauh

Otomotif | Senin, 22 Juni 2026 | 13:01 WIB

Disegel Kejagung, Nasib Ribuan Unit Motor Listrik MBG Menunggu Keputusan BGN

Disegel Kejagung, Nasib Ribuan Unit Motor Listrik MBG Menunggu Keputusan BGN

News | Senin, 22 Juni 2026 | 12:58 WIB

Dipanggil Presiden ke Istana, Dirut PLN Minta Maaf soal Gangguan Kelistrikan Nasional

Dipanggil Presiden ke Istana, Dirut PLN Minta Maaf soal Gangguan Kelistrikan Nasional

Video | Senin, 22 Juni 2026 | 12:52 WIB

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:03 WIB

Indomobil Rilis Tyranno X Motor Listrik Pendatang Baru dengan Jarak Tempuh 160 Km

Indomobil Rilis Tyranno X Motor Listrik Pendatang Baru dengan Jarak Tempuh 160 Km

Otomotif | Senin, 22 Juni 2026 | 11:56 WIB

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:54 WIB

Terkini

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:54 WIB

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:03 WIB

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:54 WIB

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:40 WIB

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:11 WIB

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond Dapat Perlindungan Hukum Khusus dari Danantara

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:49 WIB

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:12 WIB

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Harga Emas Pegadaian: Antam Detaki Rp2,8 Juta per Gram, Disusul UBS dan Galeri24

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:57 WIB

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Perundingan Damai AS-Iran Alot, Harga Minyak Dunia Naik Kembali ke USD80

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 09:22 WIB