- Kementerian PPN/Bappenas menyoroti tantangan struktural ekonomi dan sosial dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045 pada Rabu (1/7/2026).
- Kualitas SDM Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga berdasarkan data Human Capital Index Plus dan kesenjangan pendidikan antar daerah.
- Tingkat pengangguran Indonesia relatif tinggi serta terjadi penurunan jumlah kelas menengah yang beralih menjadi kelompok masyarakat rentan ekonomi.
Suara.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menyoroti sejumlah tantangan yang terjadi di Indonesia saat ini.
Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Ibnu Yahya mengungkapkan kalau tantangan struktural menuju Visi Indonesia Emas 2045 masih sangat menumpuk, terutama di kategori sosial maupun ekonomi.
"Contoh saja, kalau kita melihat tantangan-tantangan yang harus dicapai menuju visi Indonesia Emas. Di bidang sosial, kualitas SDM relatif rendah," katanya dalam diskusi bertajuk Sustainable Human-Centred Economic Development dan Visi Baru Pembangunan Indonesia yang disiarkan virtual, Rabu (1/7/2026).
Mengutip data dari World Bank dan Human Capital Index Plus (HCI Plus), posisi SDM Indonesia kalah jauh dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Singapura.
Indonesia memiliki skor 0,54 untuk Indeks Modal Manusia dan 175 untuk HCI+. Berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia (0,61 dan 201), Thailand (0,61 dan 202), Vietnam (0,69 dan 216), serta Singapura (0,88 dan 282).
"Maka standar Indonesia masih sangat rendah untuk kualitas modal manusia,"lanjutnya.
Sedangkan di bidang pendidikan, Ibnu mengungkapkan masih adanya kesenjangan antar daerah. Rata-rata lama sekolah di beberapa daerah masih di bawah rata-rata nasional dengan angka 9,07 tahun atau setara kelas 9 SMP/sederajat.
Sebagai perbandingan, DKI Jakarta memiliki rata-rata hampir 12 tahun untuk waktu lama sekolah. Berbanding jauh dengan Papua Pegunungan yang mencatatkan angka rata-rata lama sekolah hanya empat tahun.
"Ini PR-nya sangat luar biasa, dengan melihat Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke, ternyata permasalahannya memang juga tantangannya sangat besar," papar dia.
Sementara di bidang ekonomi, tingkat pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara peers. Tingkat pengangguran Indonesia mencapai 4,75 persen, lebih tinggi dari Vietnam (2,24 persen), Malaysia (3 persen), Thailand (0,89 persen), dan Singapura (2,1 persen).
"Ini sangat jauh, apalagi tingkat pengangguran ini hitungannya hanya berapa jam kerja penghasilan, misalnya 1 atau 2 minggu terakhir. Sudah sangat loose (longgar) ukuran untuk perhitungan orang yang bekerja. Tapi ternyata perhitungan yang sangat loose saja masih relatif lebih tinggi atau banyak," beber dia.
Tak hanya itu, Ibnu juga menyoroti banyaknya kelas menengah di Indonesia yang turun kasta. Dalam enam tahun terakhir, kelas menengah Indonesia mengalami penurunan di mana masyarakat rentan semakin bertambah.
"Tapi ketika bicara kelas menengah yang terus menurun, yang berpindah, turun kelas menjadi vulnerable poor, ini juga menjadi tantangan. Yang penurunannya ini terus menerus. Nah ini juga salah satu PR," jelas Ibnu.