- Mukhamad Misbakhun menyatakan pasar keuangan Indonesia tertekan oleh sentimen negatif meskipun fundamental ekonomi nasional saat ini sangat kuat.
- Data makro menunjukkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, inflasi terkendali, dan surplus neraca pembayaran selama 71 bulan berturut-turut.
- Pemerintah perlu memperbaiki persepsi investor melalui komunikasi informasi ekonomi yang utuh guna mengatasi tekanan pasar keuangan tersebut.
Suara.com - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif dibandingkan kondisi fundamental ekonomi.
Menurutnya, berbagai indikator makro menunjukkan perekonomian nasional berada dalam kondisi yang baik, namun persepsi pasar belum sejalan dengan realitas tersebut.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah indikator ekonomi yang layak menjadi modal untuk membangun kepercayaan investor.
"Situasi makro ekonomi yang bagus ini, fundamental yang bagus ini belum memberikan respons yang memadai oleh pasar," kata Misbakhun di Gedung BEI, Rabu (1/6/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 5,61 persen, inflasi tetap terkendali, neraca pembayaran mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, serta cadangan devisa berada pada level yang mampu membiayai impor sekitar enam bulan.
Selain itu, Indonesia juga dinilai menjadi salah satu negara G20 yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi secara konsisten di kisaran 5 persen.
Meski demikian, Misbakhun menyebut pasar masih memberikan respons negatif yang tercermin dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Kita bertemu dengan fundamental yang kuat dilawan oleh persepsi. Ada realitas bahwa ekonomi kita sangat kuat, kemudian diberikan sentimen yang negatif. Nah, inilah kalau menurut saya yang menjadi tantangan kita ke depan," ujarnya.
Menurut dia, berbagai narasi mengenai kondisi fiskal pemerintah ikut memengaruhi persepsi pelaku pasar.
Salah satu isu yang kerap disorot ialah belanja pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Misbakhun menilai, pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki tata kelola program-program tersebut.
"MBG sedang dilakukan upaya-upaya perbaikan tata kelola dan menurut hemat kami di DPR apa yang dilakukan oleh Bapak Presiden dalam melakukan upaya perbaikan tata kelola itu sangat signifikan memberikan dampak terhadap kepercayaan harusnya," ucapnya.
Ia menambahkan, kondisi yang dihadapi Indonesia juga bukan sesuatu yang terjadi secara khusus. Menurutnya, sejumlah negara berkembang lain seperti Filipina dan Thailand juga mengalami tekanan serupa di pasar keuangan.
"Situasi ini adalah situasi yang dialami tidak hanya oleh Indonesia. Status emerging market tetap bertahan. Tetapi ada situasi di pasar modal, capital outflow hari ini masih tetap berlanjut," katanya.
Karena itu, Misbakhun menilai, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus membangun kepercayaan investor melalui penyampaian informasi yang utuh mengenai kondisi ekonomi nasional.
Menurutnya, fundamental ekonomi yang kuat perlu diimbangi dengan persepsi positif agar pasar kembali pulih.
![IHSG melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 pada Rabu (3/6/2026). [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/93185-ihsg.jpg)
"Ini yang mau tidak mau harus dilakukan langkah-langkah upaya yang serius untuk membangun kepercayaan ini," pungkas Misbakhun.