- BSI menyelesaikan transformasi sistem teknologi informasi untuk memperkuat layanan digital dan efisiensi operasional hingga 80 persen pada Mei 2026.
- Proses transformasi yang disupervisi Danantara ini mendukung visi BSI menjadi bank syariah global dengan target 40 juta nasabah.
- Keberhasilan migrasi sistem mendorong pertumbuhan kinerja dengan laba bersih mencapai Rp3,39 triliun hingga Mei 2026 secara tahunan.
Suara.com - Transformasi teknologi BSI memasuki babak baru setelah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), berhasil menuntaskan transformasi sistem Information Technology (IT) sebagai fondasi percepatan bisnis, penguatan layanan digital, dan peningkatan pengalaman nasabah.
Keberhasilan transformasi teknologi BSI ini menjadi bagian dari agenda strategis perseroan selama satu tahun terakhir yang dijalankan dengan dukungan serta supervisi aktif Danantara untuk memperkuat daya saing di industri perbankan nasional.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan, transformasi digital BSI merupakan kebutuhan strategis seiring pesatnya digitalisasi industri keuangan dan pertumbuhan bisnis perseroan.
Menurutnya, posisi BSI yang kini telah masuk lima besar bank di Indonesia membuat ekspektasi nasabah terhadap kualitas layanan dan sistem teknologi semakin tinggi.
"Sekarang BSI berdampingan dengan bank besar karena sudah masuk lima besar bank di Indonesia. Ekspektasi nasabah adalah layanan, sistem harus sama dengan bank besar. Untuk itu, kami berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah," ujar Anggoro di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ia menegaskan, transformasi tersebut menjadi langkah penting bagi BSI dalam mewujudkan visi sebagai Top 5 Global Islamic Bank sekaligus mencapai target memiliki 40 juta nasabah pada 2030.

Selama proses transformasi, Danantara berperan aktif memberikan arahan strategis, supervisi, serta memastikan implementasi berjalan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan manajemen risiko. Seluruh tahapan transformasi dipersiapkan secara matang guna menjamin kelancaran migrasi sistem.
Anggoro mengungkapkan, dalam satu tahun terakhir BSI juga mencatat pertumbuhan signifikan melalui strategi dual licence, yakni sebagai bank syariah sekaligus bank emas.
Menurutnya, kehadiran layanan bank emas menjadi sumber pertumbuhan baru yang mampu menjangkau segmen nasabah yang sebelumnya belum tergarap.
"Bank emas menjadi engine baru kami menggaet segmen yang selama ini belum dapat kami jangkau," kata Anggoro.
Jumlah nasabah BSI tercatat telah melampaui 24 juta hingga April 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh diperolehnya lisensi Bank Emas pada Februari 2025 serta perubahan status BSI menjadi Persero pada awal 2026 yang semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai bagian dari ekosistem strategis BUMN.
Salah satu tonggak utama transformasi adalah rampungnya migrasi core banking dari sistem R10 ke R24 pada pertengahan Mei 2026. Proyek teknologi tersebut menjadi salah satu yang terbesar di lingkungan BSI dengan melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi.
Seluruh proses migrasi dilakukan secara bertahap melalui berbagai tahapan simulasi (rehearsal) dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara guna memastikan implementasi berlangsung aman, terkendali, serta transparan.
Transformasi sistem tersebut berhasil meningkatkan efisiensi operasional hingga sekitar 80 persen, mempercepat proses Close of Business (COB), sekaligus memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung ekspansi bisnis digital dan pengembangan inovasi produk.
Saat ini tingkat availability seluruh kanal layanan BSI telah mencapai 99,99 persen, sehingga transaksi melalui layanan digital maupun kantor cabang dapat berlangsung lebih optimal.
"Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10 persen. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru," ujar Anggoro.
![Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo (kiri) di Jakarta, Rabu (1/7/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/02/77748-direktur-utama-bsi-anggoro-eko-cahyo-kiri.jpg)
Untuk memperkuat ekosistem digital, BSI terus mengembangkan layanan BYOND by BSI bagi nasabah ritel serta BEWIZE by BSI untuk segmen institusi dan wholesale.
Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi melampaui Rp450 triliun. Sementara itu, BEWIZE terus mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan volume transaksi sebagai penggerak bisnis wholesale.
Anggoro optimistis, transformasi teknologi yang telah diselesaikan akan menjadi modal penting bagi BSI dalam memperkuat posisi sebagai bank syariah modern di tingkat nasional maupun global.
"Dengan dukungan ekosistem yang semakin kuat bersama Danantara, transformasi teknologi yang telah selesai, serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional sekaligus menghadirkan layanan keuangan yang semakin modern, inklusif, dan kompetitif," kata Anggoro.
Kinerja keuangan BSI turut mencerminkan hasil positif dari transformasi bisnis tersebut. Hingga Mei 2026, BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 persen secara tahunan (year on year).
Total aset perseroan mencapai Rp444 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, serta pembiayaan mencapai Rp335 triliun dengan kualitas aset yang tetap terjaga.
Capaian tersebut memperkuat optimisme bahwa transformasi teknologi BSI akan menjadi fondasi utama dalam mempercepat pertumbuhan bisnis, memperluas layanan digital, dan mendukung pengembangan ekonomi syariah nasional.