Suara.com - Hanya dalam empat bulan, puluhan lulusan SMA asal Pulau Obi berhasil bertransformasi menjadi operator overhead crane bersertifikat dan langsung memasuki dunia kerja industri. Transformasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana hilirisasi nikel tidak hanya menghadirkan investasi dan menciptakan lapangan kerja, namun membuka jalur peningkatan kompetensi bagi masyarakat lokal agar mampu mengambil peran strategis dalam rantai nilai industri yang berkembang di daerahnya sendiri.
Perubahan ini diwujudkan melalui Program PELITA (Program Pelatihan Vokasi untuk Pemberdayaan Lokal), sebuah program pengembangan sumber daya manusia yang diinisiasi Harita Nickel untuk membekali para pemuda Pulau Obi dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri modern. Melalui kombinasi pelatihan teknis, pengembangan karakter, dan pengalaman kerja langsung, program ini dirancang untuk menjembatani potensi generasi muda lokal dengan peluang kerja yang tumbuh seiring perkembangan kawasan industri di Pulau Obi.
Pada Batch 4 yang dimulai pada Februari 2026, sebanyak 40 pemuda lulusan SMA asal Pulau Obi mengikuti pelatihan intensif selama empat bulan. Mereka mendapatkan pembekalan hardskill dan softskill sebelum menjalani lebih dari 200 jam on-the-job training di lingkungan operasional perusahaan. Sebagai tahap akhir, seluruh peserta mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi Surat Izin Operator (SIO) untuk operator overhead crane. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian program, peserta yang lulus langsung diserap menjadi operator overhead crane di lingkungan operasional Harita Nickel.

Bagi Harita Nickel, pengembangan SDM lokal merupakan bagian penting dari keberhasilan hilirisasi yang berkelanjutan. Investasi pada fasilitas industri perlu berjalan beriringan dengan investasi pada manusia agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Kami percaya keberhasilan hilirisasi bukan hanya tentang membangun fasilitas industri, tetapi juga tentang membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat di sekitarnya. Melalui Program PELITA, kami ingin memastikan pemuda Pulau Obi memiliki akses untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kapasitas diri, dan mengambil peran dalam tumbuhnya industri di daerah mereka sendiri,” ujar Latif Supriadi, Executive Vice President External Relations Harita Nickel.
Dampak program itu dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya adalah La Bae La Jafar, 26 tahun, pemuda asal Desa Manatahan. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara dan tulang punggung keluarga setelah kepergian sang ayah, almarhum La Jafran Basrun, kesempatan mengikuti PELITA menjadi langkah penting dalam perjalanan pengembangan dirinya.
“Ini adalah perjalanan yang sangat disyukuri. Karena saya yang dulunya hanya sebagai crew, namun saat ini ada perasaan bangga bisa meningkatkan potensi pribadi saya dalam dunia kerja,” kata La Bae.
Menurutnya, proses pelatihan tidak hanya memberikan keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam dunia kerja industri, tetapi juga membentuk karakter dan kebiasaan kerja yang lebih profesional.
“Selama 4 bulan saya dilatih menjadi disiplin dan bertanggung jawab. Terlebih terhadap disiplin waktu,” ujarnya.
Keberhasilan menyelesaikan program dan memperoleh sertifikasi operator menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dirinya namun bagi keluarga yang selama ini mendukung perjuangannya.
“Saya merasa sangat bangga. Karena, anak saya bisa menjadi kebanggan keluarga dan turut berkontribusi terhadap pembangunan industri yang ada di pulau Obi,” ujar Jasmita, orang tua La Bae Jafar.
Ia berharap putranya dapat terus menjaga semangat dan integritas dalam menjalankan pekerjaannya.
“Kerja yang baik, kerja yang benar, kerja sungguh-sungguh, tetap terus menjadi kebanggaan keluarga.”
Bagi La Bae, kesempatan yang diperolehnya melalui Program PELITA diharapkan dapat terus dirasakan oleh generasi muda Pulau Obi pada masa mendatang.
“Terima kasih, semoga program PELITA dapat terus dilanjutkan sampai ke generasi selanjutnya,” katanya.

Program PELITA sendiri adalah inisiatif yang terus berkembang. Sejak diluncurkan pada 2024, program ini telah menyelenggarakan beberapa gelombang pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan kompetensi yang dibutuhkan masyarakat. Batch 1 melatih 14 peserta menjadi operator wheel loader, sedangkan Batch 2 menghasilkan 28 operator overhead crane. Dari dua angkatan itu, sebanyak 42 tenaga kerja terampil berhasil dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan industri.
Pada 2025, program ini berkembang melalui Batch 3 berupa Program Vokasi Mandarin bagi pelajar. Sebanyak 22 siswa berhasil menyelesaikan program tersebut dan memperoleh dukungan pembelajaran berupa 90 buku HSK Level 1–3. Berbeda dengan batch sebelumnya yang berfokus pada pengoperasian alat berat, program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Keberadaan PELITA mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena dinilai sejalan dengan upaya peningkatan kualitas tenaga kerja lokal. Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Halmahera Selatan, Dr. Daud Djubaedi, menilai program ini memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah.
“PELITA ini merupakan sebuah program yang sangat strategis bagi upaya pemerintah daerah dalam melakukan peningkatan kompetensi terhadap tenaga kerja lokal kita, khususnya di Halmahera Selatan. Dengan program PELITA ini, peningkatan keahlian dan keterampilan pemuda yang saat ini sudah diperluas sampai ke area Halmahera Selatan lainnya. Ini merupakan upaya strategis yang dilakukan Harita Nickel, yang related dengan pencapaian indikator kinerja daerah untuk urusan ketenagakerjaan, yaitu terkait peningkatan produktivitas tenaga kerja lokal. Makanya, program ini sangat strategis bagi pemerintah kabupaten Halmahera Selatan dan tentunya bagi masyarakat Halmahera Selatan,” ujarnya.
Menurut Daud Djubaedi, inisiatif ini menunjukkan bagaimana dunia usaha dapat mengambil peran aktif dalam menjawab tantangan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal.
“Jadi, ini sebuah inisiasi yang sangat luar biasa, terobosan yang dilakukan oleh Harita Nickel, karena dengan program ini, tentunya harapan kita terhadap keterbelakangan kompetensi tenaga kerja lokal kita bisa teratasi dan harapannya, tentunya bagi perusahaan-perusahaan lainnya bisa mengikuti dan bisa ini menjadi contoh untuk yang lainnya dalam upaya peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal kita,” ulasnya.
Ia juga menilai bahwa upaya pengembangan SDM yang dilakukan Harita Nickel memperlihatkan keterkaitan yang kuat antara pembangunan industri dan pembangunan manusia.
“Jadi upaya Harita Nickel ini dalam kaitannya dengan hilirisasi pertambangan yang sudah dilakukan oleh Harita Nickel, saya melihat bahwa Harita Nickel tidak hanya fokus kepada pertambangannya, kepada hilirisasinya, industri pengolahannya, tapi juga ada upaya dari Harita Nickel untuk pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya dalam rangka menunjang produktivitas tenaga kerja yang ada di Harita Nickel dan umumnya bagi masyarakat yang ada di Halmahera Selatan,” lanjut Daud Djubaedi.

Di masa mendatang, pemerintah daerah berharap program serupa dapat diperluas agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan daya saing.
“Frekuensinya harus ditambah, batchnya harus diperluas, jadi kami berharap program ini bisa lebih kolaboratif, jadi melibatkan pemerintah daerah secara khusus. Lalu, kemudian menjaring tenaga kerja lokal kita yang bisa ditingkatkan kompetensinya, bisa di reskilling atau di upskilling bagi yang sudah bekerja, dan ini merupakan secercah harapan bagi Halmahera Selatan, khususnya untuk tenaga kerja lokal,” tukasnya.
Melalui Program PELITA, Harita Nickel menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berbicara tentang pembangunan fasilitas industri dan peningkatan kapasitas produksi. Hilirisasi juga dapat menjadi sarana untuk membangun kapasitas manusia secara sistematis dan berkelanjutan. Dari lulusan SMA menjadi operator bersertifikat dalam empat bulan, para peserta PELITA membuktikan bahwa ketika akses terhadap pelatihan, sertifikasi, dan pengalaman kerja dibuka secara nyata, masyarakat lokal dapat tumbuh bersama industri dan mengambil peran penting dalam masa depan ekonomi daerahnya sendiri. ***