Antre Solar Berujung Maut, Kenapa BBM Langka di Sumatra?

M Nurhadi

Kamis, 16 Juli 2026 | 16:15 WIB
Antre Solar Berujung Maut, Kenapa BBM Langka di Sumatra?
Ilustrasi seorang perempuan menangis karena BBM habis [Suara.com/HD diedit menggunakan AI]
baca 10 detik
  • Seorang sopir truk bernama Amri meninggal dunia akibat kelelahan saat mengantre solar di SPBU Sumatra Selatan, 29 Juni 2026.
  • Krisis BBM terjadi karena pemangkasan kuota subsidi, lebar jurang harga, hingga penyalahgunaan distribusi BBM ke sektor tambang ilegal.
  • Gangguan distribusi BBM di Sumatra diperburuk oleh masalah internal manajemen vendor serta ketidaksiapan sistem logistik pemerintah dan pihak Pertamina.

Suara.com - Amri berangkat dalam keadaan sehat. Sopir truk berusia 50 tahun asal Banyuasin, Sumatra Selatan, itu pamit pagi hari untuk satu urusan yang belakangan menjadi rutinitas melelahkan bagi jutaan warga Sumatra: mengantre solar.

Ia masuk barisan panjang di sebuah SPBU di Kecamatan Sembawa sejak pagi. Menjelang tengah hari, 29 Juni 2026, ia ditemukan tak bernyawa di balik kemudi truknya.

Polisi menduga Amri meninggal dunia karena kelelahan saat antre BBM.

Kematian Amri bukan berita duka semata. Apa yang menimpa Amri adalah alarm paling keras dari sebuah krisis yang, hingga artikel ini disusun, belum juga menemukan titik terang soal siapa yang bertanggung jawab.

Untuk memahami mengapa seorang sopir bisa meninggal di tengah antrean bahan bakar di negeri yang mengeklaim pasokannya "lebih dari cukup", kita perlu menelusuri akarnya—dan akar itu ternyata berlapis-lapis.

Pola yang Terus Berulang

Penyebab krisis BBM Sumatra pada Juli 2026 layak disebut persoalan struktural, bukan kecelakaan musiman, adalah pengulangannya. Dalam kurun kurang dari setahun, Sumatra Utara saja mengalami setidaknya tiga gelombang kelangkaan dengan pemicu berbeda tetapi berujung sama.

Anggota Komisi E DPRD Sumut Dameria Pangaribuan mencatat gelombang pertama pecah pada November 2025, ketika gelombang tinggi di Pelabuhan Belawan menghambat bongkar muat kapal tanker. Gelombang kedua datang Maret 2026, dipicu panic buying akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.

Kemudian sejak Mei 2026, kelangkaan solar meluas hampir ke seluruh Sumatra—dari Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Lampung, hingga Aceh.

baca juga

Ombudsman RI Perwakilan Sumsel bahkan menegaskan persoalan ini "berulang setiap tahun", sembari mempertanyakan efektivitas antisipasi pemerintah dan Pertamina selama ini. Ketika sebuah masalah kembali dengan wajah yang nyaris identik, akar penyebabnya biasanya tidak terletak pada satu insiden, melainkan pada sistem yang menopangnya.

Antrean kendaraan mengisi BBM di SPBU Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru, Senin (6/7/2026) malam. [Suara.com/Eko Faizin]
Antrean kendaraan mengisi BBM di SPBU Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru, Senin (6/7/2026) malam. [Suara.com/Eko Faizin]

Akar Pertama: Kuota Dipangkas, Jurang Harga Melebar

Titik awal yang paling terukur adalah kebijakan kuota. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada 27 Januari 2026, Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menetapkan kuota BBM subsidi nasional 2026 yang justru menyusut: Pertalite dipangkas 6,28 persen (dari 31,23 juta menjadi 29,27 juta kiloliter), dan solar subsidi turun 1,32 persen. Di tingkat daerah, ketimpangannya jauh lebih tajam.

Sumatra Selatan mengusulkan kuota solar sekitar 2,8 juta kiloliter, tetapi yang disetujui hanya sekitar 630 ribu kiloliter—kurang dari seperempat kebutuhan yang diajukan.

Di atas kuota yang menciut itu, datang pemicu kedua: kenaikan harga. Per 10 Juni 2026, Pertamax (RON 92) naik hampir Rp4.000 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertalite tetap Rp10.000 dan Biosolar tetap Rp6.800.

Jurang harga yang melebar antara BBM nonsubsidi dan subsidi menciptakan efek konsumen yang biasa memakai Pertamax berbondong-bondong pindah ke Pertalite dan solar subsidi. Kuota yang sudah dipangkas pun terkuras lebih cepat.

Laporan International Institute for Sustainable Development (IISD) berjudul One Fuel, Two Prices (2016) sudah lama menjelaskan bahwa sistem dua harga (dual pricing) secara sistematis melahirkan tiga penyakit: penargetan yang buruk (BBM murah dinikmati yang tak berhak), pasar gelap (karena ada insentif finansial untuk mengakali sistem), dan kelangkaan (karena kuota habis oleh dua sebab sebelumnya).

Semakin lebar selisih harga, semakin besar dorongan untuk bermigrasi dan menyelewengkan. 

Akar Kedua: Solar Subsidi yang "Menguap" ke Tambang dan Industri

Jika kuota bocor, ke mana perginya? Salah satu jawabannya menunjuk pada penyalahgunaan.

Kepala Dinas ESDM Sumatra Barat Helmi Heriyanto secara terbuka menyebut penimbunan solar untuk Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sebagai penyebab utama kelangkaan di wilayahnya, dengan dugaan penyelewengan mencapai sekitar 150 kiloliter per hari dan tujuh kabupaten masuk kategori rawan.

Sepanjang 2025 hingga 2026, aparat kepolisian di berbagai daerah—Polda Sumut, Polda Sumbar, hingga Polda Jambi—membongkar sejumlah kasus penyelundupan solar subsidi yang dialihkan untuk tambang ilegal dan perkebunan sawit.

Di Sumatra Selatan, Gubernur Herman Deru bahkan menduga adanya penyalahgunaan barcode MyPertamina dan praktik sindikat di tingkat distribusi—meski dugaan ini hingga kini belum dibuktikan lewat penetapan hukum.

Kebocoran subsidi adalah pola yang terdokumentasi dan masuk akal secara ekonomi, tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap krisis Juli 2026 belum ada yang bisa memastikan dengan angka.

Akar Ketiga: "Last Mile" yang Runtuh di Medan

Pada puncak krisis pertengahan Juli, sorotan tertuju pada mata rantai terakhir distribusi—perjalanan BBM dari terminal ke SPBU. 

Namun, penjelasan resmi justru saling bertabrakan. Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution menyatakan persoalannya bukan kelangkaan, melainkan gangguan distribusi akibat "pemberhentian massal" sopir mobil tangki.

"Yang saya sampaikan dari hasil koordinasi dengan pihak Pertamina itu bukan kelangkaan BBM-nya. Tapi pengemudi yang antar BBM-nya terjadi pemberhentian massal," ujar Bobby, 14 Juli 2026.

Ia menyebutnya urusan internal Pertamina dengan vendornya, dan mengerahkan personel TNI-Polri sebagai sopir pengganti.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memberikan versi berbeda. Juru bicaranya, Fahrougi Andriani Sumampouw, awalnya mengaitkan antrean dengan lonjakan konsumsi pasca libur sekolah yang menuntut penyesuaian kapasitas dan ritase mobil tangki.

Perusahaan membantah adanya PHK massal maupun mogok kerja; Executive General Manager Sunardi menegaskan yang terjadi adalah "pembinaan dan penyesuaian" terhadap sopir yang kurang perform, bukan pemogokan.

DPR menambah lapisan lain. Saat inspeksi mendadak di Deli Serdang pada 15 Juli, anggota Komisi XII Ade Jona Prasetyo mengungkap temuan dugaan 125 sopir tangki "curang". 

Polda Sumut, lewat Karo Ops Kombes Dwi Tunggal Jaladri, mengonfirmasi adanya penyusutan volume BBM antara titik pemberangkatan dan titik tiba di SPBU—indikasi praktik "kencing di jalan"—namun menegaskan belum ada laporan pidana resmi sehingga penyelidikan belum bisa berjalan.

Sementara itu, video viral di media sosial yang mengeklaim para sopir mogok karena hak dan gaji belum dibayar vendor semakin memanaskan isu ini. Namun setelah ditelusuri, video itu ternyata konten lama yang berkaitan dengan penyampaian aspirasi soal iuran dana pensiun (DPLK), bukan aksi mogok. Klaim gaji belum dibayar itu, hingga kini, tidak terverifikasi.

Vendor yang dimaksud adalah PT Elnusa Petrofin, mitra transportir resmi Pertamina. Menariknya, nama Elnusa justru muncul dari pernyataan Gubernur, DPR, dan TNI—bukan dari Pertamina, yang dalam keterangan resminya konsisten hanya menyebut "mitra transportir" secara umum.

Ketika "Stok Aman" Tak Sampai ke Tangan Rakyat

Di tengah kesimpangsiuran itu, pemerintah pusat memilih menenangkan. "Stok aman, lebih dari cukup," kata Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Kompleks Parlemen, 16 Juli 2026, sembari mengakui hambatan berada pada distribusi dari terminal ke SPBU, bukan pada ketersediaan di terminal.

Namun klaim di atas kertas itu berbenturan keras dengan realitas jalanan. Di Aceh Tamiang, Pertalite eceran diklaim menembus Rp25 ribu per botol—hampir dua kali lipat harga normal. Bus lintas Sumatra antre hingga menginap belasan jam.

Perjalanan truk logistik Medan-Jakarta yang biasanya lima hari membengkak menjadi sepuluh hari, yang sangat berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ombudsman RI bahkan menemukan bahwa perbaikan lima tangki penyimpanan sempat memangkas kapasitas terminal Sumatra Utara dari 135 ribu menjadi hanya 90 ribu kiloliter.

Lalu, Siapa yang Salah?

Sebab pastinya masih menggantung, apakah biang utamanya kebijakan kuota yang tak realistis, sindikat penyelewengan, sengketa sopir dengan vendor, atau kombinasi ketiganya yang menumpuk pada waktu yang sama.

Krisis BBM Sumatra 2026, pada akhirnya, bukan tentang satu kesalahan, melainkan tentang sebuah sistem yang berulang kali gagal di titik yang sama—dan setiap kali gagal, yang menanggung ongkos paling mahal adalah rakyat kecil.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar "stok cukup atau tidak", melainkan: berapa lama lagi rakyat harus mengantre sebelum akar persoalan ini benar-benar dicabut, bukan sekadar ditutupi dengan bantahan?

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kelangkaan Pertalite Meluas, ESDM Turunkan Tim Usut Masalah Distribusi BBM

Kelangkaan Pertalite Meluas, ESDM Turunkan Tim Usut Masalah Distribusi BBM

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 12:20 WIB

Siap-siap BBM Naik Lagi, Harga Minyak Dunia Telah Melonjak 4 Hari

Siap-siap BBM Naik Lagi, Harga Minyak Dunia Telah Melonjak 4 Hari

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 09:09 WIB

Pertamina Tambah Armada, Pasokan BBM di Medan Kembali Normal usai Antrean Panjang

Pertamina Tambah Armada, Pasokan BBM di Medan Kembali Normal usai Antrean Panjang

Bisnis | Rabu, 15 Juli 2026 | 19:10 WIB

Kabar Gembira! Harga Solar untuk Nelayan Resmi Dipatok Rp15.000 per Liter

Kabar Gembira! Harga Solar untuk Nelayan Resmi Dipatok Rp15.000 per Liter

Foto | Rabu, 15 Juli 2026 | 08:00 WIB

Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari

Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 21:29 WIB

Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM

Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 19:01 WIB

Terkini

4 Sunscreen Lokal Water Resistant, Proteksi Maksimal untuk Olahraga Outdoor

4 Sunscreen Lokal Water Resistant, Proteksi Maksimal untuk Olahraga Outdoor

Your Say | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:50 WIB

Demi Keuntungan, BBM dan LPG Subsidi Diduga Diselewengkan, 3 Kasus Dibongkar di Jateng

Demi Keuntungan, BBM dan LPG Subsidi Diduga Diselewengkan, 3 Kasus Dibongkar di Jateng

Jawa Tengah | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Indonesia - Korea Perkuat Kemitraan Bisnis, Platform Digital GPP Resmi Diluncurkan

Indonesia - Korea Perkuat Kemitraan Bisnis, Platform Digital GPP Resmi Diluncurkan

Tekno | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:42 WIB

Balita di Samarinda Meninggal Sesak Napas saat Kabut Asap Karhutla

Balita di Samarinda Meninggal Sesak Napas saat Kabut Asap Karhutla

Kaltim | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:39 WIB

Kapan Prabowo Ulang Tahun? Ini Ramalan Zodiak dan Shio Presiden RI ke-8

Kapan Prabowo Ulang Tahun? Ini Ramalan Zodiak dan Shio Presiden RI ke-8

Lifestyle | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:32 WIB

KPK: Fee Proyek Rp1,9 Miliar Diduga Dipakai Bupati Klaten Bayar Utang Pilkada

KPK: Fee Proyek Rp1,9 Miliar Diduga Dipakai Bupati Klaten Bayar Utang Pilkada

Jawa Tengah | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Tindaklanjuti Pertemuan Prabowo-Putin, Menko Airlangga Bahas Peluang Dagang dan Ekonomi Bilateral

Tindaklanjuti Pertemuan Prabowo-Putin, Menko Airlangga Bahas Peluang Dagang dan Ekonomi Bilateral

Bisnis | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:29 WIB

Cuaca Semarang Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Diprediksi Tembus 37 Derajat Celsius

Cuaca Semarang Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Diprediksi Tembus 37 Derajat Celsius

Jawa Tengah | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:22 WIB

Review Drama In Your Radiant Season, Romansa Masa Lalu Desainer dan Animator

Review Drama In Your Radiant Season, Romansa Masa Lalu Desainer dan Animator

Your Say | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:20 WIB

Dapat Surat Keterangan Agenda, KPK Sudah Tahu Nusron Wahid Ada di Luar Negeri

Dapat Surat Keterangan Agenda, KPK Sudah Tahu Nusron Wahid Ada di Luar Negeri

News | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:17 WIB

×