- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan PNBP minerba semester I 2026 melampaui 60 persen target Rp 134 triliun di Jakarta.
- Capaian positif tersebut ditopang oleh kinerja ekspor batu bara serta strategi pengendalian pasokan dan permintaan global yang efektif.
- Pemerintah sebelumnya telah memangkas kuota produksi batu bara dan nikel dalam RKAB 2026 guna menjaga stabilitas harga.
Suara.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) pada semester I 2026 telah melampaui 60 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp 134 triliun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa capaian tersebut ditopang kinerja ekspor batu bara, serta strategi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) di tengah ketidakpastian kondisi global.
"Pendapatan PNBP kita sampai dengan semester pertama sudah mencapai lebih dari 60 persen. Kemudian juga devisa kita ekspor batu bara yang sudah mencapai kurang lebih sekitar 14 miliar dolar AS sampai 15 miliar dolar AS," ujar Bahlil di Jakarta yang dikutip pada Rabu (22/7/2026).
![Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia meresmikan pembangunan proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. [Tangkapan Layar].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/16/87515-bahlil-lahadalia-esdm.jpg)
Bahlil menjelaskan, perbaikan penerimaan negara ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian harga komoditas yang diterapkan pemerintah mulai membuahkan hasil.
Pengaturan pasokan dinilai berhasil menjaga stabilitas harga komoditas minerba di pasar internasional.
"Ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika global yang tidak menentu, tapi desain kita terhadap menjaga supply and demand agar harga komoditas kita tetap terjaga. Itu sudah mulai ada tanda-tanda yang membaik dengan melihat PNBP kita naik dan devisa hasil penjualan yang makin membaik," bebernya.
Sebagaimana diketahui, Kementerian ESDM memangkas kuota produksi batu bara dan nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Target produksi batu bara ditekan menjadi 600 juta ton, turun signifikan dibanding realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Sementara itu, produksi nikel dibatasi di kisaran 250–260 juta ton, melandai dari realisasi tahun lalu yang mencatatkan angka 379 juta ton.
Meski demikian, Kementerian ESDM belakangan membuka peluang untuk memberikan relaksasi kuota produksi bagi kedua komoditas tersebut. Kendati begitu, pemerintah hingga kini belum merinci besaran penambahan yang akan diizinkan.