Suara.com - Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", peringatan Hari Anak Nasional 2026 menekankan pentingnya menghadirkan lingkungan belajar yang mampu mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh, termasuk lewat pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memperoleh pengetahuan akademik, anak juga perlu memiliki kesempatan dalam mengembangkan karakternya, jiwa kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, rasa tanggung jawab, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat. Semua itu dapat dibangun lewat berbagai aktivitas yang melibatkan anak secara langsung.
Dalam konteks pendidikan, pesantren menjadi salah satu ruang yang dapat menghadirkan pengalaman belajar seperti ini. Tidak hanya menjadi tempat mempelajari ilmu agama, banyak pesantren kini menghadirkan kegiatan yang mendorong santri mengenali persoalan di sekitar mereka sekaligus mencari solusi bersama. Pendekatan ini membantu santri mengembangkan soft skill yang akan menjadi bekal saat terjun ke masyarakat.
Salah satu fokus pembelajaran yang mulai diperkuat di sejumlah pesantren adalah kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah tantangan seperti perubahan iklim, pengelolaan sampah, dan ketahanan pangan, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran menjaga lingkungan sejak dini.
Salah satu contoh penerapannya hadir dalam Program Green Pesantren yang dijalankan Kementerian Agama RI bersama Unilever Indonesia. Program ini mendorong keterlibatan aktif santri untuk memahami isu lingkungan dengan pendekatan edukatif, kolaboratif, dan kreatif.
Lewat berbagai kegiatan di luar kelas, santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar mengelola sampah melalui sistem bank sampah, membuat kompos, mengembangkan urban farming, hingga menyusun solusi yang sesuai dengan kondisi di lingkungan pesantren masing-masing.
Misalnya saja di Pondok Pesantren Al Hasan Rembang, di sana para santri berhasil menjadikan pengelolaan bank sampah sebagai gerakan yang dijalankan secara mandiri. Sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026, bank sampah yang mereka kelola telah mengumpulkan sekitar 1.850 kilogram sampah atau rata-rata 185 kilogram setiap bulan.

Di awal program, para santri mendapatkan workshop mengenai prinsip keberlanjutan, pengelolaan sampah, pengomposan, hingga urban farming.
Ketika para santri mengaplikasikan pembelajaran tersebut, di sanalah mereka dapat belajar banyak. Setelah dijalankan, para santri berhasil mengolah sampah organik menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk kegiatan urban farming. Berbekal kompos hasil produksi sendiri, berbagai tanaman seperti kangkung, terong, dan stroberi juga berhasil dibudidayakan di lingkungan pesantren.

Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di luar ruang kelas dapat menjadi sarana membangun karakter anak. Selain meningkatkan literasi lingkungan, kegiatan seperti ini juga menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Semangat ini sejalan dengan makna Hari Anak Nasional 2026. Ketika anak diberi kesempatan belajar dari pengalaman nyata, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun karakter yang menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa depan.***