- Presiden AS Donald Trump mengancam hukuman militer besar setelah Houthi menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.
- Serangan milisi Houthi di Laut Merah memicu kepanikan pasar energi dan membuat harga minyak dunia melonjak tajam.
- Konflik meluas setelah Iran menembakkan proyektil ke pangkalan militer AS di Yordania dan Kuwait sebagai bentuk balasan serangan udara.
Suara.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menegaskan akan menjatuhkan "hukuman militer berskala besar" terhadap Iran beserta sekutunya, kelompok Houthi. Ancaman ini dikeluarkan setelah milisi asal Yaman tersebut melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.
Insiden ini secara otomatis memperluas zona konflik Timur Tengah ke titik sempit (chokepoint) pelayaran utama kedua di dunia. Prospek meluasnya gangguan di jalur maritim ini langsung memicu kepanikan di pasar energi.
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dalam salah satu kenaikan harian tertinggi sejak perang dimulai, saat artikel ini ditulis, harga minyak menyentuh USD 92 per barel.
Minyak mentah berjangka Brent dilaporkan melesat lebih dari 6 persen, menembus level USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Mei.
Eskalasi ini terjadi dua pekan setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara yang sedianya ditujukan untuk mengakhiri perang. Militer AS kembali melancarkan serangan udara malam hari terhadap target-target di Iran.
Sebagai balasan, Iran menembakkan proyektil ke sejumlah negara Arab tetangga yang menampung pangkalan militer AS. Beberapa insiden penting terkait eskalasi ini meliputi:
- Pernyataan Trump: Melalui platform Truth Social, Presiden Trump menegaskan AS akan meminta pertanggungjawaban Iran jika serangan terulang. Ia menyebut Houthi sebagai proksi Iran yang akan menghadapi hukuman militer berat bersama negara penyokongnya.
- Peringatan Diplomatik AS: Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam sebuah pertemuan diplomatik di Asia Tenggara menyatakan bahwa "harga yang harus dibayar Iran akan semakin tinggi setiap malamnya" hingga Teheran bersedia menyepakati dan mematuhi perjanjian damai.
- Target Serangan Houthi: Kelompok Houthi mengonfirmasi pasukannya telah melakukan serangan rudal dan drone terhadap kapal tanker minyak Saudi, yakni Encelia dan Layla. Kapal Encelia dilaporkan mengirimkan panggilan bahaya usai terkena rudal di dekat pelabuhan Jizan, Laut Merah, yang memicu kebakaran di bagian haluan kapal.
Dilansir dari Reuters, Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah utara dan barat Yaman, pekan ini mendeklarasikan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Tindakan ini memukul strategi Saudi yang sebelumnya mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jalur pipa ke Laut Merah untuk menyiasati blokade Iran di Selat Hormuz.
Serangan Houthi ini mengancam kelancaran lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb atau yang dikenal sebagai "Gerbang Air Mata". Selat ini merupakan rute pengiriman energi terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Ancaman ini telah memaksa sejumlah kapal tanker untuk mengubah arah pelayaran. Mereka menghindari Bab el-Mandeb dan memilih rute memutar melintasi Benua Afrika yang memakan waktu jauh lebih lama serta menelan biaya logistik yang lebih mahal untuk menjangkau pelanggan di pasar Asia.
Di tengah memanasnya Laut Merah, Iran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan rudal, gudang senjata, dan fasilitas penyimpanan bahan bakar AS di Yordania, serta sejumlah pos militer AS di Kuwait.
Militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat empat rudal Iran dan enam drone, di mana satu rudal dilaporkan jatuh di area tak berpenghuni. Juru Bicara Militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa Teheran akan terus melancarkan serangan balasan selama AS menargetkan infrastruktur dan wilayah pesisir mereka. Di sisi lain, intelijen AS saat ini tengah menyelidiki kemungkinan adanya dukungan teknologi drone atau informasi penargetan dari Rusia kepada Iran.
Lonjakan harga minyak akibat rentetan konflik ini kini mulai memicu kekhawatiran terkait inflasi global. Situasi ekonomi ini turut memberikan tekanan politik yang signifikan bagi sekutu-sekutu Trump dari Partai Republik menjelang pemilihan kongres pada bulan November mendatang.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali negara tersebut menembaki kapal di Selat Hormuz. Merespons ancaman tersebut, komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa mereka siap menargetkan seluruh infrastruktur energi dan ekonomi regional demi memastikan tidak ada "satu tetes minyak pun" yang dapat diekspor.