- Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia merosot ke level 6.252 pada Jumat pagi, 24 Juli 2026.
- Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh koreksi Wall Street, penurunan harga mineral logam, serta aksi jual investor asing.
- CGS International Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak variatif cenderung melemah dengan level support di 6.250 dan 6.185.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot pada awal perdagangan, Jumat, 24 Juli 2026. IHSG dibuka ambruk ke level 6.266.
Mengutip data Stockbit, hingga pukul 09.05 WIB, IHSG terus anjlok 0,99 persen atau 62,57 poin ke level 6.252.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 3,53 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp 1,70 triliun serta frekuensi sebesar 221.960 kali.
Di waktu itu, terdapat 135 saham menghijau, sedangkan, 403 saham merosot. Sisanya, 427 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Layar menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (21/2/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/02/21/60528-bursa-efek-ihsg.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- ASJT
- GMTD
- MPRO
- MYOH
- OILS
Top Loser
- WIDI
- DIVA
- ZATA
- FILM
- SSTM
Proyeksi IHSG
Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Sejumlah sentimen global dan domestik diprediksi akan memengaruhi arah perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tim Riset CGS International Sekuritas Indonesia menilai pelemahan indeks-indeks utama di Wall Street menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan pasar saham domestik. Selain itu, penurunan harga komoditas mineral logam dan berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) investor asing juga diperkirakan memberikan tekanan terhadap IHSG.
Di sisi lain, masih terdapat sejumlah sentimen positif yang berpotensi menahan laju pelemahan indeks. Kenaikan harga minyak mentah dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), serta mulai dirilisnya laporan keuangan emiten, dipandang dapat menjadi katalis positif bagi pasar.
"Melemahnya indeks di bursa Wall Street, terkoreksinya harga komoditas mineral logam dan berlanjutnya aksi jual investor asing diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu naiknya harga beberapa komoditas seperti minyak mentah dan CPO serta laporan keuangan emiten berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.250/6.185 dan resist 6.380/6.445," tulis Tim Riset CGS International Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Secara teknikal, CGS International Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak pada level support 6.250 dan 6.185, sementara resistance berada di level 6.380 dan 6.445.
Di tengah proyeksi tersebut, CGS International Sekuritas juga merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati investor. Saham-saham pilihan tersebut didominasi oleh sektor perkebunan dan energi, yakni:
- PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) – Buy
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) – Buy
- PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) – Buy
- PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) – Buy
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) – Buy
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) – Buy
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.