- Chief Economist PT SMF Martin Daniel menyatakan tekanan ekonomi membuat kelas menengah mengutamakan kebutuhan pokok daripada kredit rumah pada Juli 2026.
- Martin berharap perlambatan ritel dan penjualan rumah yang negatif pada semester II 2026 bersifat musiman, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi.
- Pelaku industri pembiayaan perumahan harus beradaptasi menjaga kinerja di tengah tantangan makroekonomi seperti tekanan nilai tukar rupiah dan suku bunga.
Suara.com - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF menilai tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat, khususnya kelas menengah, mulai memengaruhi keputusan untuk membeli rumah.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dinilai lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan pokok dibanding mengambil kredit pemilikan rumah (KPR).
Chief Economist PT SMF Martin Daniel Siyaranamual mengatakan tekanan terhadap kelas menengah tercermin dari perlambatan penjualan ritel dan lesunya penjualan rumah.
Menurut dia, kondisi tersebut bukan semata-mata dipengaruhi sektor properti, melainkan berkaitan erat dengan daya beli masyarakat.
"Jadi, ini juga merupakan refleksi dari tekanan yang dihadapi oleh kelas menengah. Jadi kelas menengah kita tuh mulai tertekan. Makanya lebih milih buat beli beras daripada dibandingkan buat nyicil rumah ataupun beli baju," kata Martin kepada wartawan, dikutip Minggu (26/7/2026).
Meski demikian, Martin berharap perlambatan konsumsi masyarakat pada semester II 2026 hanya bersifat siklikal atau musiman, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi.
Menurut dia, perlambatan penjualan ritel terjadi setelah periode libur panjang dan hari raya berakhir.
Kondisi itu membuat aktivitas konsumsi masyarakat cenderung melambat.
"Harapannya adalah bahwa ritel yang tertekan di bulan ini atau di akhir tahun, di semester kedua ini, itu sifatnya cyclical, artinya lebih karena tidak ada hari raya, makanya dia tertekan. Bukan sesuatu yang sifatnya fundamental," ujarnya.
Ia mengingatkan, apabila pelemahan konsumsi ternyata dipicu faktor fundamental, dampaknya akan lebih serius terhadap perekonomian nasional.
Sebab, kelas menengah merupakan kelompok konsumen terbesar di Indonesia.
"Kalau dia sesuatu yang bersifat fundamental, itu akan menakutkan. Kenapa? Ritel itu didorong oleh kelas menengah. Kelas menengah itu adalah konsumen terbesar di negara ini," ucapnya.
Martin juga mengungkapkan penjualan rumah masih mencatatkan pertumbuhan negatif.
Kondisi tersebut diperkirakan ikut memberikan tekanan terhadap industri pembiayaan perumahan, termasuk bisnis SMF sebagai lembaga pembiayaan sekunder perumahan.
Meski demikian, ia menilai peluang bisnis di sektor pembiayaan rumah masih terbuka. Sebab, tekanan yang terjadi saat ini diyakini belum mencerminkan pelemahan struktural ekonomi.
"Penjualan rumah memang mengalami pertumbuhan yang negatif. Tetapi harapan saya, tekanan ini sifatnya bukan yang fundamental. Jadi artinya masih ada potensi bisnis yang bisa dijalankan oleh PT SMF," kata Martin.
Ia menambahkan, secara umum kondisi makroekonomi Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan nilai tukar rupiah, potensi kenaikan suku bunga acuan, hingga meningkatnya biaya dana (cost of fund).
Karena itu, menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting bagi pelaku industri pembiayaan untuk menjaga kinerja di tengah kondisi yang tidak mudah.
"Kalau ditanya bagaimana kondisi makroekonomi Indonesia, jawabannya penuh tantangan. Tetapi bagaimana mengambil posisi adaptif di tengah tantangan, itu yang sebetulnya menjamin keberlangsungan PT SMF," tutur Martin.