- Perry Warjiyo mundur, Destry Damayanti ditunjuk sebagai Plt Gubernur BI.
- Rupiah melemah, pasar cermati dampak terhadap independensi Bank Indonesia.
- Investor menunggu sosok gubernur BI baru dan arah kebijakan moneter.
Suara.com - Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi ujian besar. Setelah sempat diguncang pergantian mendadak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2025 dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar beberapa bulan lalu, kini giliran kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi nasional.
Pengunduran diri Perry yang diumumkan pada Senin (27/7), beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan, langsung memicu gejolak di pasar. Rupiah sempat melemah 0,14% ke level Rp17.960 per dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 0,68% sebelum akhirnya berbalik menguat sekitar 0,26% pada sesi pagi.
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pengunduran diri tersebut dilakukan karena alasan pribadi, tanpa menjelaskan lebih lanjut penyebabnya.
Untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan bank sentral, Presiden menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia hingga gubernur definitif ditetapkan.
Bagi pelaku pasar, pengunduran diri Perry bukan sekadar pergantian pejabat. Sosok Perry selama ini dipandang sebagai salah satu pilar utama yang menjaga kredibilitas kebijakan moneter Indonesia, terutama di tengah tekanan global yang membuat rupiah beberapa kali menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada Juni lalu.
Analis ASEAN Aletheia Capital, Angus Mackintosh, mengatakan rekam jejak Perry menjadi salah satu alasan investor tetap percaya terhadap arah kebijakan Bank Indonesia.
"Perry Warjiyo memiliki rekam jejak yang baik dan dianggap sebagai figur yang memberikan kepastian bagi pasar. Kini perhatian investor tertuju pada siapa yang akan menjadi penggantinya," ujarnya menukil Reuters.
Menurut Angus, kekhawatiran terbesar investor saat ini bukan semata pergantian gubernur, melainkan apakah independensi Bank Indonesia tetap dipertahankan.
Ia menilai pasar akan mencermati siapa sosok yang dipilih pemerintah. Jika figur yang ditunjuk dianggap terlalu dekat dengan kepentingan politik, hal itu berpotensi memicu kekhawatiran baru mengenai arah kebijakan moneter Indonesia.
Senasib dengan Sri Mulyani
Peristiwa ini mengingatkan pelaku pasar pada gejolak yang terjadi tahun lalu ketika Sri Mulyani Indrawati tiba-tiba meninggalkan kursi Menteri Keuangan. Saat itu, pasar juga merespons negatif karena Sri Mulyani dinilai sebagai simbol disiplin fiskal dan kredibilitas pengelolaan keuangan negara. Selain itu Mahendra Siregar juga mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Jumat, 30 Januari 2026. Pengunduran diri ini dilakukan bersama beberapa pejabat tinggi OJK lainnya saat IHSG anjlok.
Kini, Perry Warjiyo berada dalam posisi yang hampir serupa. Selama dua periode memimpin BI sejak 2018, ia dikenal konsisten menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, serta berupaya mempertahankan kepercayaan investor di tengah tekanan eksternal.
Bagi investor, pergantian mendadak terhadap figur yang menjadi simbol stabilitas sering kali lebih berdampak dibanding perubahan kebijakan itu sendiri. Ketidakpastian mengenai arah kepemimpinan baru biasanya menjadi faktor yang paling memengaruhi sentimen pasar.
Pengunduran diri Perry terjadi di tengah tantangan yang tidak ringan bagi Bank Indonesia. Selain menghadapi tekanan nilai tukar, bank sentral juga berada di bawah sorotan setelah revisi aturan yang memperluas perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memberi kewenangan lebih besar kepada DPR untuk memberikan rekomendasi yang bersifat mengikat kepada regulator keuangan, termasuk BI.
Perubahan tersebut sempat memunculkan pertanyaan mengenai independensi bank sentral, yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Di sisi lain, pekan lalu BI baru saja memutuskan mempertahankan suku bunga acuan setelah sebelumnya menaikkan suku bunga hingga total 100 basis poin sejak Mei. Langkah tersebut diambil untuk menarik aliran modal asing sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Menanggapi pengunduran diri Perry, Plt Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan seluruh fungsi Bank Indonesia tetap berjalan sebagaimana mestinya.
"Bank Indonesia akan terus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga sistem keuangan, serta menjalankan kebijakan sesuai praktik terbaik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Destry.
Pernyataan tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor mengenai kesinambungan kebijakan moneter.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai fokus pasar dalam beberapa waktu ke depan akan tertuju pada proses pemilihan gubernur BI yang baru. Investor akan menilai apakah pemerintah tetap menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral atau justru menghadirkan ketidakpastian baru bagi pasar keuangan Indonesia.
Dengan kata lain, seperti saat Sri Mulyani meninggalkan Kementerian Keuangan, kepergian Perry Warjiyo kembali menguji satu hal yang