-
Titik koordinat terakhir delapan korban hilang di Krakatau terdeteksi berada di Pulau Sebesi.
-
Komdigi bekerja sama dengan tiga operator seluler memantau pemancar BTS Banten dan Lampung.
-
Publik diminta mengacu pada data resmi Tim SAR dan menghindari rumor tak berdasar.
Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Digital berhasil melacak titik koordinat terakhir 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang hilang saat memantau kawasan Gunung Anak Krakatau. Jejak digital pergerakan rombongan peliput tersebut menunjukkan posisi di Pulau Sebesi sebelum komunikasi terputus total.
Kepastian lokasi pengawasan sinyal ini memangkas spekulasi liar mengenai arah terdamparnya kapal rombongan di perairan Selat Sunda. Sinyal pemancar seluler menjadi penunjuk arah utama bagi tim pencari untuk menyisir area perairan Lampung dan Banten.
Data lalu lintas seluler mencatat aktivitas peranti telekomunikasi para korban masih terekam pada pertengahan pekan lalu. Titik fokus ini menjadi landasan Operasi SAR untuk mempersempit radius pencarian di darat maupun perairan Sebesi.
![Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/10/37218-erupsi-gunung-anak-krakatau-gunung-anak-krakatau-erupsi.jpg)
"Komdigi sejak awal, setelah menerima informasi ini, mengajak semua opsel (operator selular) dan infrastruktur yang di bawah Kementerian Komdigi untuk memantau sinyal-sinyal ataupun tanda-tanda dari penggunaan smartphone, misalnya di area yang diduga insiden kehilangan kontak ini terjadi," kata Wamenkomdigi Nezar Patria, Sabtu (12/9/2026).
Pancaran sinyal terakhir ponsel milik anggota rombongan peliputan tersebut terhenti pada 7 September 2026.
"Seperti kita ketahui terakhir data yang terima adalah kontak terakhir pada tanggal 7 September, berada di Pulau Sebesi, dengan demikian kita terus memantau terus mencari," imbuhnya.
Upaya penelusuran sinyal ini melibatkan kolaborasi teknis bersama tiga penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia. Seluruh stasiun pemancar di sepanjang pesisir Selat Sunda dikerahkan untuk mendeteksi sekecil apa pun pancaran gelombang radio dari peranti korban.
Monitoring secara intensif terus berjalan melalui stasiun balai pemantau radio di wilayah Banten serta Lampung. Pengawasan lintas wilayah ini penting untuk memastikan tidak ada pancaran sinyal yang terlewat dari radar pencarian.
"Kalau Komdigi kita sudah berkoordinasi dengan tiga operator selular itu, semua mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung melalui balai monitoring yang ada di Banten dan Lampung. Kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap," katanya.
Seluruh data hasil pelacakan koordinat telah diserahkan langsung kepada Tim SAR Gabungan guna memandu pergerakan armada penyelamat di lapangan.
"Dari opsel kita meyakini sudah mendapatkan informasi, dan informasi itu sudah kita teruskan kepada SAR dan sudah diproses berupaya kontak meyakini terakhir di Pulau Sebesi," tambahnya.
Masyarakat dan pihak keluarga diimbau tidak langsung mempercayai rumor yang beredar di media sosial tanpa verifikasi resmi. Kepastian informasi mengenai nasib rombongan jurnalis ini sepenuhnya berada di bawah kendali komando Tim SAR Gabungan.
Ia juga mengajak kepada semua pihak agar tidak termakan informasi hoaks perihal keberadaan korban. Perkembangan penanganan musibah ini disalurkan secara satu pintu demi menjaga kesahihan data di tengah publik.
Peristiwa hilangnya lima jurnalis bersama tiga kru kapal ini bermula saat mereka melakukan agenda peliputan lapangan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Aktivitas erupsi serta cuaca ekstrem di perairan Selat Sunda kerap menjadi tantangan keselamatan serius bagi pelayaran dan kegiatan liputan di wilayah tersebut.