- PT Pupuk Indonesia membukukan laba bersih Rp8,23 triliun yang meroket 250,2 persen pada Semester I-2026.
- Kenaikan pendapatan menjadi Rp59,66 triliun didorong oleh lonjakan penggantian biaya subsidi pemerintah dan penjualan produk.
- Total aset dan ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp182,05 triliun pada akhir Semester I-2026.
Suara.com - PT Pupuk Indonesia (Persero) meraup laba bersih sebesar Rp8,23 triliun pada Semester I-2026. Raihan laba bersih ini meroket 250,2 persen dbandingkan periode yang sama tahun lalu.
Mengutip keterbukaan informasi, Minggu (2/8/2026), kinerja BUMN produsen pupuk tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai Rp59,66 triliun pada semester I 2026 atau meningkat sekitar 50,5 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp39,64 triliun.
Salah satu penyumbang utama kenaikan pendapatan berasal dari penggantian biaya subsidi dari Pemerintah Indonesia.
Pos tersebut melonjak dari Rp16,39 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp34,08 triliun pada semester I 2026, atau tumbuh sekitar 107,9 persen.

Sementara itu, pendapatan dari penjualan produk juga masih mencatatkan pertumbuhan. Nilai penjualan produk naik dari Rp21,95 triliun menjadi Rp24,13 triliun, atau meningkat sekitar 9,9 persen secara tahunan.
Di sisi lain, beban pokok penjualan ikut mengalami kenaikan seiring meningkatnya aktivitas usaha.
Beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp45,32 triliun pada semester I 2026, naik sekitar 35,2 persen dibandingkan Rp33,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, kenaikan pendapatan yang lebih tinggi membuat laba bruto perseroan meningkat signifikan.
Pupuk Indonesia membukukan laba bruto sebesar Rp14,34 triliun, naik sekitar 134,3 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp6,12 triliun.
Dari sisi neraca, total aset Pupuk Indonesia hingga akhir semester I 2026, mencapai Rp182,05 triliun, meningkat sekitar 21,2 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp150,18 triliun.
Liabilitas perseroan tercatat naik menjadi Rp71,36 triliun, atau meningkat sekitar 52,7 persen dibandingkan Rp46,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Ekuitas tercatat sebesar Rp182,05 triliun pada semester I 2026, dari Rp150,18 triliun pada semester I 2025. Angka tersebut alami kenaikan sekitar 21,2 persen, meski nilainya sama dengan total aset dalam data yang tersedia.