- Pemerintah Indonesia menerbitkan obligasi Panda Bond di China senilai Rp18,5 triliun pada 23 Juli 2026.
- Penerbitan surat utang berdenominasi Yuan ini bertujuan mendiversifikasi sumber pendanaan luar negeri dan menekan rupiah.
- Langkah tersebut berhasil memperoleh tingkat imbal hasil lebih rendah dengan sambutan positif dari investor Tiongkok.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan Pemerintah untuk mencari pendanaan utang baru lewat penerbitan obligasi Panda Bond di China beberapa waktu lalu.
Bagi yang belum tahu, Panda Bond adalah surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh entitas asing, dalam hal ini Pemerintah Indonesia. Surat utang ini diterbitkan di pasar domestik China dengan denominasi mata uang Yuan atau Renminbi (RMB).
Menkeu Purbaya menjelaskan kalau sebelum Panda Bond diumumkan, rating utang Pemerintah Indonesia mesti dinilai dulu oleh lembaga pemeringkat kredit China. Hasilnya, RI mendapatkan nilai AAA yang diklaim peringkat tertinggi.
"Kalau diibaratkan main ML (Mobile Legends) rata kanan," katanya dalam acara GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, dikutip Rabu (5/8/2026).
Purbaya mengklaim, penilaian itu membuktikan kalau kondisi dan manajemen Pemerintah RI bagus. Maka dari itu, mereka merekomendasikan investor Tiongkok untuk membeli Panda Bond milik Pemerintah.
Bendahara Negara kemudian memaparkan dua keuntungan utang lewat penerbitan Panda Bond China. Pertama ia bisa mendiversifikasi sumber pendanaan agar tidak hanya bergantung pada Dolar AS.
"Hal ini jelas mengurangi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kita," imbuhnya.
Kedua, tingkat bunga Panda Bond lebih rendah, begitu pula imbal hasil (yield). Jika dibandingkan Amerika Serikat, yield obligasi mencapai sekitar 4,5 persen. Sementara untuk Panda Bond China, yield hanya sekitar 1,9 persen hingga 2,19 persen.
"Jadi, biayanya jauh lebih murah. Caranya pun mudah," jelas Purbaya.
Sekadar informasi, Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan Panda Bond untuk pertama kalinya. Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi Yuan Tiongkok ini mencapai CNY7 miliar atau setara Rp 18,5 triliun.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan kalau Panda Bond ini diterbitkan dalam dua seri tenor mencakup RICNY0729 dan RICNY0731.
Seri RICNY0729 memiliki tenor tiga tahun dengan tanggal jatuh tempo 30 Juli 2029. Nominal penerbitan seri ini mencapai CNY5,6 miliar (setara Rp 14,8 triliun) dengan yield (imbal hasil) kupon 1,90 persen.
Sedangkan seri RICNY0731 memiliki tenor lima tahun dengan tanggal jatuh tempo 30 Juli 2031. Nominal penerbitannya mencapai CNY1,4 miliar (setara Rp 3,7 triliun) dengan yield kupon 2,19 persen.
"Dengan mengoptimalkan momentum positif di pasar obligasi domestik Tiongkok, Pemerintah melaksanakan penerbitan perdana Panda Bonds pada tanggal 23 Juli 2026," kata DJPPR, dikutip dari siaran pers, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah juga memamerkan kalau transaksi Panda Bond perdana ini mendapat sambutan amat baik dari investor China dengan total peak order book mencapai sekitar CNY17,0 miliar (setara Rp 45 triliun) atau bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali.
Menurutnya, besarnya permintaan investor memungkinkan Pemerintah memperoleh biaya pendanaan yang efisien melalui penetapan tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif.
"Tingginya order book dan pricing yang kompetitif mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi dan kredibilitas pengelolaan fiskal Indonesia, komunikasi yang efektif dengan investor di Tiongkok, serta pemanfaatan momentum pasar yang tepat," tulis DJPPR.
Nantinya, hasil penerbitan Panda Bond ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN Tahun Anggaran 2026.