- IHSG berpeluang menguat menuju resistance 6.440-6.520.
- Asing net buy Rp917 miliar, BBRI hingga TINS jadi incaran.
- BMTR, TINS, DSSA, EMAS, RAJA, MLPL masuk radar trading.
Suara.com - Pergerakan pasar saham global memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. Wall Street mencetak rekor penutupan baru setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September 2026.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls pada Juli 2026 justru turun 23.000 pekerjaan. Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan.
Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed kembali menjadi perhatian. Sementara itu, tingkat pengangguran AS turun menjadi 4,1% pada Juli dari 4,2% pada Juni, terutama karena menyusutnya jumlah pekerja yang masuk dalam angkatan kerja.
Sentimen tersebut mendorong indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan baru pada perdagangan Jumat (7/8).
Di pasar saham AS, sejumlah emiten mencatat pergerakan signifikan. SpaceX melonjak 15,8%, Atlassian melesat 35,3%, Microchip Technology naik 13,9%, dan Airbnb menguat 17,4%. Sebaliknya, Trade Desk tertekan 21,9%.
Sentimen bursa Asia cenderung beragam. Nikkei Jepang turun 0,12%, sedangkan Topix naik 0,47%. Di Korea Selatan, KOSPI turun 0,6% dan KOSDAQ melemah 0,4%.
Pergerakan pasar Asia turut dibayangi fluktuasi saham teknologi dan chip serta ketidakpastian terkait perdagangan sektor kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, harga minyak kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut menjadi sentimen yang perlu dicermati investor karena dapat memengaruhi inflasi global dan prospek kebijakan suku bunga.
China justru memberikan sentimen positif setelah ekspor Juli 2026 meningkat 23,9% secara tahunan. Kinerja ekspor tersebut kembali menjadi salah satu penopang utama perekonomian Negeri Tirai Bambu.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif. IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat 1,04% dan disertai net buy asing sekitar Rp917 miliar.
Berdsarkan riset BNI Sekuritas, Senin (10/8/2026) aktivitas investor asing menjadi salah satu katalis yang dapat menjaga momentum penguatan IHSG. Sejumlah saham yang paling banyak diborong investor asing antara lain BBRI, TPIA, ANTM, TINS, dan BRPT.
Berdasarkan analisis teknikal BNI Sekuritas dalam Retail Report 8 Agustus 2026, IHSG berpotensi kembali bergerak menguat.
Level support IHSG berada di 6.320-6.370, sementara area resistance berada di 6.440-6.520.
Artinya, pelaku pasar perlu mencermati kemampuan IHSG menembus area resistance tersebut. Jika berhasil ditembus dengan dukungan volume dan aliran dana asing, ruang penguatan indeks berpotensi semakin terbuka.
Di tengah peluang penguatan IHSG, BNI Sekuritas memasukkan enam saham sebagai ide perdagangan, yakni BMTR, TINS, DSSA, EMAS, RAJA, dan MLPL.
BMTR menjadi salah satu saham yang masuk radar speculative buy. Area pembelian berada di Rp114-Rp116, dengan cut loss apabila harga turun di bawah Rp114. Target terdekat berada di Rp119-Rp123.
Berikutnya, TINS direkomendasikan speculative buy pada area Rp3.840-Rp3.860. Investor disarankan melakukan cut loss jika harga berada di bawah Rp3.820, dengan target terdekat Rp3.900-Rp3.940.
Sementara itu, DSSA masuk radar speculative buy pada area Rp955-Rp975. Batas cut loss berada di bawah Rp950, sedangkan target terdekat dipatok pada Rp985-Rp1.005.
Untuk EMAS, area speculative buy berada di Rp7.400-Rp7.475. Cut loss ditempatkan di bawah Rp7.400 dengan target terdekat Rp7.550-Rp7.625.
Saham RAJA juga menjadi perhatian dengan strategi speculative buy pada area Rp900-Rp905. Jika harga jatuh di bawah Rp890, investor disarankan melakukan cut loss. Target terdekat berada pada Rp920-Rp945.
Adapun MLPL menggunakan strategi berbeda, yakni buy if break Rp102. Jika berhasil menembus level tersebut, saham ini berpeluang menguji target Rp104-Rp108, dengan cut loss di bawah Rp99.
Meski prospek IHSG dinilai masih positif, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko eksternal. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, pergerakan harga minyak, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta volatilitas saham teknologi global dapat memengaruhi sentimen pasar domestik.
Dengan posisi IHSG yang mendekati area resistance 6.440-6.520, kemampuan indeks menembus level tersebut akan menjadi salah satu penentu arah perdagangan berikutnya.