- Iran dan Oman hampir menyepakati jalur pelayaran baru di Selat Hormuz setelah pemblokiran akibat serangan militer.
- Teheran menolak membuka Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat membayar kompensasi, mencabut sanksi, dan menghentikan ancaman militer.
- Komunikasi Iran dan Amerika Serikat saat ini hanya melalui perantara tanpa adanya perundingan diplomatik langsung.
Suara.com - Iran menyatakan bahwa pihaknya saat ini hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru di kawasan perairan Selat Hormuz.
Kendati demikian, otoritas Teheran kembali menegaskan bahwa jalur air strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia tersebut tidak akan dibuka kembali hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan mutlak.
Persyaratan yang diajukan mencakup pembayaran kompensasi penuh, pencabutan sanksi ekonomi, serta penghentian segala bentuk ancaman militer.
Untuk jumlahnya, pada Mei lalu, Pemerintah Iran secara resmi menuntut ganti rugi perang sebesar 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.625 triliun (hingga Rp4,6 kuadriliun) kepada Amerika Serikat dan Israel. Tuntutan kompensasi fantastis ini diajukan Teheran atas kerusakan besar akibat agresi militer gabungan yang berlangsung sejak akhir Februari.
Saat ini, harga minyak dunia berkisar di USD78 sementara Brent berada di kisaran USD84.
Menurut keterangan dari seorang pejabat Amerika Serikat pada hari Jumat, proses negosiasi antara Iran dan Oman memang sudah mendekati kata sepakat.
Kesepakatan strategis ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pemulihan perlintasan aman di Selat Hormuz. Kawasan perairan ini dikenal secara global sebagai saluran utama pengiriman minyak mentah dan gas alam sebelum akhirnya diblokade oleh pihak Iran.
Pemblokiran tersebut merupakan respons balasan atas serangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran yang dimulai pada akhir bulan Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada hari Minggu mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir.
Namun, ia kembali mengulangi pernyataan tegasnya pada hari sebelumnya bahwa Teheran tidak akan membuka saluran pelayaran internasional tersebut kecuali pihak Washington memenuhi seluruh tuntutan yang telah diajukan.
Berdasarkan pemberitaan dari kantor berita Mehr, kesepakatan bilateral dengan Oman ini nantinya akan memetakan rute pelayaran baru yang hanya akan diaktifkan setelah Amerika Serikat memenuhi kondisi-kondisi yang diminta.
Araqchi juga menekankan bahwa hingga saat ini, Iran dan Amerika Serikat tidak terlibat dalam pembicaraan diplomatik secara langsung.
Pihak Teheran menolak untuk memulai perundingan tatap muka selama Washington dianggap masih melanggar perjanjian sementara yang telah ditandatangani pada bulan Juni lalu. Proses komunikasi antar-kedua belah pihak saat ini murni hanya berlangsung melalui pertukaran pesan via perantara.
Syarat dan Tuntutan Kompensasi
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Araqchi adalah bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan sangat bergantung pada kesediaan Amerika Serikat untuk membayar kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan luas mereka terhadap Iran.
Melengkapi tuntutan tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, turut merinci deretan syarat esensial lainnya.
Dilansir dari Reuters, syarat tersebut meliputi penghentian ancaman lebih lanjut dari AS terhadap Iran, serta penghentian agresi militer terhadap negara tersebut beserta sekutu-sekutunya yang berada di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Washington juga dituntut untuk segera menghapus blokade angkatan laut di kawasan Teluk, mencabut seluruh sanksi ekonomi yang mencekik ruang gerak Iran, dan mencairkan aset-aset finansial Iran yang selama ini dibekukan secara internasional.
Ketegangan di kawasan ini bermula ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran lebih dari lima bulan yang lalu. Terkait serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer itu bertujuan untuk mencegah Republik Islam Iran mengembangkan senjata nuklir serta melemahkan kapasitas mereka dalam mengancam stabilitas kawasan.
Menanggapi situasi geopolitik saat ini, Presiden Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Axios menyebutkan bahwa pihak AS mengambil pendekatan yang tidak terlalu reaktif.
"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasi mereka yang sangat besar dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,"
Sebelumnya, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada bulan Juni. Namun, ketegangan kembali memuncak setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap aktivitas pelayaran Iran di Teluk pada bulan Juli. Langkah tersebut dinilai oleh Teheran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang pada saat itu memang sudah mulai runtuh.
Di sisi lain, pihak Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa pelonggaran dari pihak mereka akan diikat secara ketat dengan sejauh mana Iran mengimplementasikan komitmennya di lapangan.