- Indeks Harga Saham Gabungan berbalik melemah ke level 6.340 akibat aksi ambil untung pada 11 Agustus 2026.
- Pasar global Wall Street yang melemah turut menekan pergerakan indeks saham domestik pada awal sesi perdagangan.
- Investor saat ini menantikan data penjualan ritel domestik serta kebijakan Bank Indonesia untuk arah pasar selanjutnya.
Namun, penguatan rupiah belum mampu mengangkat IHSG. Indeks justru melemah setelah menyentuh area resistance sehingga mengindikasikan momentum penguatan pasar saham mulai tertahan.
Investor Tunggu Data Penjualan Ritel
Pada perdagangan hari ini, perhatian investor akan tertuju pada perkembangan kebijakan BI serta data ekonomi domestik, terutama penjualan ritel (Retail Sales YoY).
Berdasarkan kalender ekonomi, penjualan ritel diproyeksikan membaik menjadi tumbuh 1,8 persen secara tahunan, dibandingkan periode sebelumnya yang terkontraksi 3,9 persen.
Jika realisasi penjualan ritel sesuai atau bahkan berada di atas ekspektasi, kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi IHSG karena menunjukkan adanya perbaikan pada persepsi terhadap konsumsi domestik.
Meski demikian, ruang penguatan IHSG diperkirakan masih terbatas setelah kenaikan yang terjadi sebelumnya.
Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak sideways dengan level support terdekat di kisaran 6.300-6.320.
Sementara itu, area 6.400-6.450 menjadi resistance penting yang perlu diperhatikan investor.
Rejection dari area 6.450 dinilai menjadi sinyal bahwa momentum penguatan IHSG mulai tertahan. Dengan demikian, indeks berpotensi memasuki fase konsolidasi terlebih dahulu sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.
Untuk perdagangan Selasa (11/8/2026), riset tersebut merekomendasikan tiga saham pilihan, yakni PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).