- Purbaya jadi menteri dengan kinerja paling positif, 43,5% mengenalnya.
- Pigai dinilai terburuk dengan 51,8%, disusul Dody Hanggodo 48,5%.
- Survei IPO melibatkan 1.200 responden dengan margin error ±2,90%.
Suara.com - Kinerja sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih masih menyisakan rapor merah. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan adanya kesenjangan tajam dalam persepsi publik, dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sosok yang paling mendapat penilaian positif, sementara Menteri HAM Natalius Pigai dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo justru berada di posisi terbawah.
Dalam survei IPO, Purbaya menempati posisi teratas sebagai menteri yang dianggap bekerja dengan baik. Posisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tingkat popularitas dan persepsi kinerja masih menjadi faktor penting dalam membentuk penilaian publik terhadap para pembantu Presiden.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya berada di urutan kedua dengan tingkat penilaian positif 33,5 persen. Sementara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyusul di posisi ketiga dengan 32,0 persen.
"Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik, ini linier dengan popularitas. Menteri Purbaya menempati posisi teratas, kemudian Seskab Teddy Indra Wijaya pada posisi kedua. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketiga," kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah dalam konferensi pers di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).
Setelah tiga besar tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendapat penilaian positif sebesar 30,9 persen. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan berada di angka 26,5 persen, sedangkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 25,3 persen.
Berikutnya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mencatat penilaian positif 21,4 persen dan Menteri Luar Negeri Sugiono sebesar 20,8 persen.
Namun, angka tersebut merosot tajam pada sejumlah menteri lainnya. Menteri Agama Nasaruddin Umar hanya memperoleh penilaian positif 11,0 persen, disusul Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian 10,5 persen.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bahkan hanya mendapat penilaian positif 6,1 persen. Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tercatat hanya memperoleh 3,0 persen.
Angka tersebut menjadi sinyal kurang menggembirakan bagi jajaran kabinet, khususnya bagi menteri yang memiliki tingkat pengenalan tinggi tetapi belum mampu mengonversinya menjadi penilaian kinerja yang kuat.
Purbaya bukan hanya unggul dalam persepsi kinerja. Menteri Keuangan tersebut juga menjadi sosok yang paling dikenal responden dalam survei IPO.
Sebanyak 43,5 persen responden menyatakan mengenal atau mengetahui nama Purbaya. Popularitas tersebut diikuti Teddy Indra Wijaya dengan 41,0 persen dan Bahlil Lahadalia sebesar 32,8 persen.
Selanjutnya, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh tingkat pengenalan 30,4 persen dan Zulkifli Hasan sebesar 26,1 persen.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan lain di tubuh kabinet: sejumlah menteri belum memiliki tingkat pengenalan publik yang kuat. Rendahnya popularitas berpotensi membuat kinerja maupun program kementerian sulit mendapat perhatian luas masyarakat.
Pigai dan Dody Hanggodo Masuk Zona Merah
Di tengah dominasi Purbaya pada kategori positif, dua nama justru mencatat penilaian negatif yang jauh lebih mencolok.
Menteri HAM Natalius Pigai menjadi menteri dengan persepsi kinerja terburuk. Sebanyak 51,8 persen responden menilai kinerjanya buruk.
Menteri PU Dody Hanggodo menyusul dengan 48,5 persen. Sementara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tercatat mendapat penilaian buruk sebesar 4,5 persen.
"Yang pertama adalah Menteri HAM Natalius Pigai 51,8 persen, Menteri PU Dody Hanggodo 48,5 persen, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni 4,5 persen," ujar Dedi.
Besarnya persentase penilaian buruk terhadap Pigai dan Dody menjadi sorotan tersendiri. Jika penilaian tersebut dibaca sebagai cerminan kepuasan publik terhadap kinerja kabinet, maka masih terdapat pekerjaan rumah besar bagi pemerintah untuk memperbaiki persepsi terhadap kementerian yang berada di zona merah.
Terlebih, jarak antara menteri dengan penilaian positif tertinggi dan menteri dengan penilaian buruk sangat lebar. Kondisi itu menunjukkan bahwa performa Kabinet Merah Putih belum dipersepsikan secara merata oleh masyarakat.
Survei IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pengambilan sampel menggunakan metode stratified multistage random sampling (SMRS). Survei memiliki margin of error sekitar ±2,90 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.