- Kelompok masyarakat Rappo Indonesia di Makassar mengolah limbah plastik menjadi produk furnitur bernilai ekonomi.
- PLN UID Sulselrabar memberikan bantuan mesin dan pendampingan untuk mendukung kegiatan operasional produksi sejak Senin (10/12/2026).
- Program daur ulang ini menyerap tenaga kerja lokal dan memberikan tambahan penghasilan bagi nelayan serta ibu rumah tangga.
Suara.com - Konsep ekonomi sirkular mulai digunakan masyarakat di daerah untuk mendulang cuan. Hal ini dilakukan oleh kelompok masyarakat di Makassar yang tergabung dalam Rappo Indonesia.
Rappo Indonesia menyerap belasan ton limbah plastik sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga lokal, termasuk nelayan dan ibu rumah tangga untuk dijadikan furnitur.
General Affairs Rappo Indonesia, Riswanda Fatriansyah, menjelaskan mulanya berfokus pada kantong plastik Low-Density Polyethylene (LDPE) kini meluas ke jenis plastik keras High-Density Polyethylene (HDPE) dan PET setelah bermitra dengan PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar)
"Di workshop furnitur, kami mengolah plastik jenis PET dan HDPE seperti botol minuman, tutup botol, botol oli, hingga wadah makanan keras. Setiap bulan, sekitar 50 sampai 100 kilogram sampah plastik keras berhasil diolah," kata Riswanda di Makassar pada Senin (10/12/2026).
![General Affairs Rappo Indonesia, Riswanda Fatriansyah, menyerap sampah plastik masyarakat untuk disulap menjadi furnitur. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/11/39101-ekonomi-sirkular.jpg)
Limbah plastik tersebut diubah menjadi produk furnitur seperti set meja dan kursi, plakat, hingga aksesori harian. Untuk mendukung operasional produksi, PLN UID Sulselrabar memberikan bantuan pendampingan serta mesin pencacah, oven, dan mesin injeksi.
Operasional ini melibatkan 20 hingga 25 warga di seluruh unit operasional Rappo Indonesia di Makassar, termasuk lima warga di workshop furnitur di kawasan Untia. Para pekerja terikat menerima gaji berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Kehadiran unit pengolahan sampah ini dampaknya oleh warga setempat. Hendriadi (51), yang berprofesi sebagai nelayan, memanfaatkan pekerjaan di workshop daur ulang ini sebagai penghasilan tambahan saat tidak dapat melaut.
"Kalau musim angin kencang, kami tidak bisa melaut. Kehadiran pengolahan sampah ini membantu menambah penghasilan tanpa perlu modal. Kalaupun melaut dari sore sampai malam, siang harinya saya bisa tetap kerja di sini," ujar Hendriadi.
Hendriadi yang telah bergabung sejak 2020 menambahkan bahwa pendapatan dari mengolah sampah plastik ini membantu membiayai kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
Selain mempekerjakan warga lokal, Rappo Indonesia juga membeli sampah terpilah dari masyarakat sekitar serta bermitra dengan bank sampah di Makassar untuk menjaga pasokan bahan baku.