- Menteri Rosan Roeslani menyatakan minat investor Asia terhadap Pusat Finansial Internasional Indonesia sangat positif pada Agustus 2026.
- Pemerintah menerapkan strategi operasional awal di Jakarta serta rencana jangka panjang pembangunan fasilitas di Bali.
- Danantara bertindak membangun infrastruktur PFII yang didasari Undang-Undang P2SK guna menarik modal global ke Indonesia.
Suara.com - Kurangnya kepastian struktur dan ekosistem yang terintegrasi menjadi hambatan utama bagi Indonesia untuk menarik "smart money" dalam skala masif.
Menjawab tantangan tersebut, Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) kini disiapkan bukan sekadar sebagai kawasan fisik, melainkan sebagai lompatan inovasi arsitektur keuangan nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa minat investor terhadap proyek ambisius ini telah melampaui ekspektasi. Dalam pertemuan di Nusa Dua, Bali, antusiasme terlihat jelas dari jumlah kehadiran yang membludak.
“Kita undang ada 70 untuk Asia tapi yang datang sampai 110 dan response-nya alhamdulillah boleh saya sampaikan sebetulnya sangat positif,” ujar Rosan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota
Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/08/2026).
Inovasi Struktur: Mengejar Standar Global melalui Teknologi Finansial
Fokus utama PFII bukan sekadar pemberian insentif pajak, melainkan pembangunan ekosistem yang kredibel.
Para investor papan atas dan pengelola kekayaan keluarga (family office) menuntut kerangka kerja yang transparan, aman, dan efisien secara teknologi. Tanpa struktur yang diakui dunia, kepercayaan investor sulit dibangun.
Menteri Rosan menekankan bahwa perencanaan matang sedang digodok bersama Kementerian Keuangan untuk memastikan PFII memiliki daya saing internasional yang setara dengan Dubai International Financial Centre (DIFC) atau pusat finansial lainnya.
“Tentunya mereka juga ingin melihat bahwa structure dari format dari PFII ini benar-benar structure yang sesuai dengan standar dunia,” tegas Rosan.
Strategi Dual-Hub: Jakarta untuk Momentum, Bali untuk Masa Depan
Sebagai langkah taktis, pemerintah memutuskan untuk memulai operasional PFII di Jakarta. Pemilihan Jakarta didasarkan pada kesiapan infrastruktur digital dan konektivitas yang sudah ada, memungkinkan "momentum" kerja yang cepat sesuai arahan Presiden.
Namun, visi jangka panjang tetap mengarah pada Bali sebagai pusat finansial yang lebih eksklusif dengan keunggulan gaya hidup.
Pembangunan di Bali akan memakan waktu lebih lama karena memerlukan pengembangan infrastruktur pendukung yang lebih kompleks.
Danantara Indonesia, di bawah kepemimpinan Rosan, akan berperan krusial sebagai arsitek pembangunan fisik dan fasilitas pendukung tersebut.
“Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ini pengen semua langsung kerja, ada momentumnya ya. Walaupun nanti yang rencana juga di Bali karena di Bali kan pembangunan akan take time untuk membangun infrastrukturnya, gedungnya, dan yang lain-lainnya,” jelas Rosan.