- Laba Ciputra Life 2025 melonjak 95% menjadi Rp99,3 miliar.
- Premi Semester I 2026 melesat 53% menjadi Rp387,6 miliar.
- RBC 315%, ekspansi AJK dan kesehatan jadi penopang pertumbuhan.
Suara.com - PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life membukukan kinerja positif sepanjang 2025 dan berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan hingga Semester I 2026. Laba bersih perusahaan pada 2025 mencapai Rp99,3 miliar, melonjak 95 persen dibandingkan Rp51 miliar pada 2024.
Pertumbuhan kinerja juga terlihat dari laba komprehensif yang meningkat 126 persen menjadi Rp122,3 miliar. Sementara itu, total aset Ciputra Life mencapai Rp1,3 triliun atau tumbuh 29 persen, dengan total investasi sebesar Rp1,1 triliun, naik 30 persen.
Dari sisi permodalan, ekuitas perusahaan tercatat Rp312,3 miliar atau meningkat 64 persen dibandingkan akhir 2024. Adapun rasio kecukupan modal atau risk based capital (RBC) berada di level 315 persen, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.
Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso mengatakan capaian tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, permodalan, dan pengelolaan risiko.
"Pertumbuhan yang sehat harus tetap diimbangi dengan profitabilitas, permodalan yang kuat, serta pengelolaan risiko yang prudent," ujar Hengky.
Kinerja positif berlanjut pada Semester I 2026. Ciputra Life mencatatkan premi sebesar Rp387,6 miliar, melonjak 53 persen dibandingkan Rp253,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang lini Asuransi Jiwa Kredit (AJK) dan Corporate Solution. Perusahaan juga memperluas kerja sama dengan mitra bisnis lama maupun baru untuk memperbesar basis nasabah.
Manajemen bahkan optimistis pertumbuhan premi hingga akhir 2026 dapat dipertahankan atau melampaui 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Optimisme tersebut tidak terlepas dari kondisi ekonomi nasional yang masih tumbuh 5,2 persen serta pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai 13,58 persen secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 12,67 persen pada bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi katalis penting bagi Ciputra Life karena bisnis AJK sangat berkaitan dengan penyaluran kredit perbankan.
Untuk menjaga momentum tersebut, perusahaan menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, memperluas penetrasi dan kerja sama dengan lebih dari 50 mitra bisnis, termasuk lebih dari 30 bank penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Kedua, perusahaan memperluas cakupan produk AJK. Jika sebelumnya banyak bertumpu pada KPR dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), kini penetrasi diarahkan ke kredit UMKM, Kredit Multiguna (KMG), dan Kredit Tanpa Agunan (KTA).
Ketiga, Ciputra Life memperbesar kontribusi bisnis Corporate Solution. Salah satunya melalui produk asuransi kesehatan kumpulan yang diluncurkan sejak pertengahan 2024.
Produk tersebut kini telah memberikan kontribusi sekitar 15-18 persen terhadap total premi perusahaan.
Di tengah lonjakan premi, klaim dan manfaat yang dibayarkan Ciputra Life pada Semester I 2026 juga meningkat. Nilainya mencapai Rp107,1 miliar, dibandingkan Rp56,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, manajemen menilai kenaikan tersebut masih dalam batas wajar karena pertumbuhan bisnis perusahaan juga meningkat signifikan. Bahkan, rasio klaim terhadap premi bruto justru mengalami penurunan seiring ekspansi bisnis dan pembukaan kanal baru asuransi kesehatan korporasi.
Tantangan lainnya datang dari inflasi medis di Indonesia yang rata-rata berada di atas 10 persen dan dalam kondisi tertentu dapat mencapai 12-19 persen.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, Ciputra Life membentuk Dewan Penasihat Medis yang mulai berjalan sejak Juni 2026. Dewan tersebut bertugas mengevaluasi utilisasi klaim kesehatan agar pengelolaan risiko tetap terjaga.
Perusahaan juga melakukan koordinasi manfaat dengan BPJS Kesehatan sesuai ketentuan terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah tersebut ditujukan agar layanan kesehatan tetap sesuai kebutuhan nasabah tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap rasio klaim.
Ciputra Life melihat peluang bisnis kesehatan masih sangat besar. Pasalnya, biaya kesehatan yang harus dibayar langsung oleh masyarakat atau out-of-pocket masih mencapai lebih dari Rp100 triliun.
Ke depan, perusahaan berharap dapat berkolaborasi dengan platform Satu Sehat milik Kementerian Kesehatan serta mendukung konsolidasi data polis ke OJK.
Menurut manajemen, ketersediaan data yang lebih terintegrasi dapat membantu industri menetapkan harga premi secara lebih akurat berdasarkan riwayat klaim nasabah.
Di sisi pelaporan keuangan, 2025 juga menjadi tahun penting bagi Ciputra Life dan industri asuransi nasional dengan mulai berlakunya PSAK 117 tentang Kontrak Asuransi sejak 1 Januari 2025.
Standar tersebut merupakan adopsi dari IFRS 17 dan mengubah sejumlah aspek pengukuran, penyajian, serta waktu pengakuan laba dan ekuitas perusahaan asuransi.
Ciputra Life mengaku telah menyelesaikan implementasi PSAK 117 dan menerapkannya dalam laporan keuangan 2025 yang telah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasian serta disampaikan kepada OJK.
Direktur Ciputra Life Henry Marten mengatakan persiapan penerapan PSAK 117 telah dilakukan sejak pertengahan 2023. Tahapannya meliputi pemahaman standar, interpretasi teknis, perbaikan tata kelola data, implementasi sistem hingga uji coba paralel.
Menurut Henry, salah satu tantangan terbesar dalam penerapan standar tersebut adalah kesiapan sumber daya manusia dan keterbatasan waktu.
Ia menegaskan PSAK 117 tidak mengubah fundamental ekonomi maupun arus kas bisnis asuransi. Perubahan terutama terjadi pada cara perusahaan mengukur, menyajikan, dan mengakui laba serta ekuitas dalam laporan keuangan.
Salah satu perubahan penting adalah premi yang diterima perusahaan tidak lagi otomatis dicatat seluruhnya sebagai pendapatan. Pendapatan tersebut diakui secara bertahap seiring dengan layanan asuransi yang diberikan kepada nasabah.
Fika Nur Rizki