- Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai enam persen pada tahun 2027 mendatang.
- Otoritas Jasa Keuangan mencatat total aset Bank Pembangunan Daerah mencapai Rp1.036,51 triliun pada Maret 2026.
- Asosiasi Bank Pembangunan Daerah mendorong peningkatan layanan digital dan perluasan pemanfaatan produk tabungan bersama Simpeda.
Suara.com - Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Target tersebut membutuhkan penguatan aktivitas ekonomi di berbagai daerah, termasuk melalui peran sektor keuangan dalam menyediakan pembiayaan bagi masyarakat dan dunia usaha.
Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi salah satu bagian dari sektor keuangan yang memiliki basis kuat di daerah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset BPD mencapai Rp1.036,51 triliun pada Maret 2026.
Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) BPD mencapai Rp782,04 triliun, sedangkan kredit yang disalurkan mencapai Rp656,87 triliun.
Di tengah kapasitas aset dan dana yang besar tersebut, produk tabungan bersama BPD, Simpeda, mencatat saldo sekitar Rp74,86 triliun hingga Juni 2026.
Besarnya dana yang dihimpun melalui produk tersebut menjadi salah satu sumber dana ritel yang dapat menopang fungsi intermediasi BPD di daerah.
Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Agus H Widodo mengatakan capaian Simpeda tidak sekadar menunjukkan besarnya dana yang berhasil dihimpun BPD, tetapi juga mencerminkan kepercayaan masyarakat.
"Rp75 triliun bukan sekadar angka di neraca. Di belakangnya terdapat kepercayaan masyarakat. Dana tersebut dihimpun dari masyarakat, dikelola secara prudent oleh BPD, kemudian diintermediasikan kembali menjadi pembiayaan bagi masyarakat, UMKM dan dunia usaha untuk menggerakkan ekonomi daerah," ujar Agus dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Dengan aset BPD yang telah menembus Rp1.000 triliun dan saldo Simpeda yang mendekati Rp75 triliun, penguatan fungsi intermediasi menjadi relevan ketika pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.
Namun, Asbanda menilai tantangan Simpeda ke depan tidak hanya memperbesar saldo dan jumlah rekening. Produk tersebut juga harus mengikuti perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan perbankan digital.
Menurut Agus, nasabah kini membutuhkan layanan perbankan yang mudah, cepat, aman dan terkoneksi dengan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Asbanda mendorong BPD meningkatkan pengalaman digital Simpeda serta memperluas pemanfaatannya untuk pembayaran, transfer, belanja, transaksi merchant dan berbagai layanan finansial lainnya.
"Simpeda ke depan tidak cukup hanya menjadi tempat menabung. Kami ingin Simpeda semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat—semakin modern, semakin digital dan semakin mudah digunakan, tanpa kehilangan kekuatan utamanya, yaitu kedekatan dengan masyarakat daerah," kata Agus.
Transformasi tersebut diharapkan dapat memperkuat Simpeda sebagai sumber dana ritel bagi BPD. Dana yang dihimpun dari masyarakat selanjutnya dapat mendukung fungsi intermediasi melalui penyaluran pembiayaan kepada masyarakat, UMKM dan dunia usaha.
Data OJK menunjukkan kredit BPD pada Maret 2026 mencapai Rp656,87 triliun atau tumbuh 1,59 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh DPK BPD yang mencapai Rp782,04 triliun dan tumbuh 4,74 persen secara tahunan.