- Masyarakat beralih mencari rumah di Bekasi dan Cikarang karena harga hunian di Jakarta semakin mahal.
- Riset awal 2026 menunjukkan Bekasi sangat diminati pekerja industri karena dekat dengan pusat pekerjaan dan akses Jakarta.
- Meikarta menawarkan kemudahan kepemilikan hunian di Cikarang melalui skema cicilan tetap sekitar Rp1,7 jutaan per bulan.
Suara.com - Masyarakat mulai bergeser mencari alternatif untuk membeli rumah dari Jakarta. Hal ini imbas dari harga rumah di Jakarta yang semakin mahal.
Salah satu kawasan yang dinilai semakin relevan adalah Koridor Timur Jakarta, khususnya Bekasi dan Cikarang. Selain menawarkan pilihan Rumah, kawasan tersebut juga memiliki aktivitas industri dan ekonomi yang cukup tinggi sehingga dekat dengan pusat pekerjaan.
Kecenderungan tersebut terlihat dari meningkatnya minat pencari hunian di kawasan penyangga Jakarta. Riset Indonesia Property Watch yang dirilis awal 2026 menunjukkan Bekasi termasuk kota yang banyak diminati pencari hunian sepanjang 2025, seiring semakin terbatasnya pilihan hunian dengan harga terjangkau di Jakarta.
Data 123 PropInsight juga menunjukkan adanya permintaan rumah tapak di Bekasi yang berasal dari pekerja kawasan industri, khususnya di koridor Cikarang-Cibitung, serta komuter yang membutuhkan akses menuju Jakarta.

Kondisi ini membuat pertimbangan masyarakat dalam memilih rumah tidak lagi hanya soal harga. Lokasi, aksesibilitas, jarak menuju tempat kerja hingga kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang ikut menjadi faktor penting.
Presiden Direktur PT Mahkota Sentosa Utama, pengembang Meikarta, Indra Azwar, mengatakan perkembangan kawasan ekonomi di Koridor Timur Jakarta membuat hunian di kawasan tersebut semakin relevan bagi masyarakat.
"Dalam memilih hunian, masyarakat tentu tidak hanya mempertimbangkan harga. Lokasi, akses menuju tempat kerja, serta kemampuan mengelola cicilan dalam jangka panjang juga menjadi faktor penting. Karena itu, kami melihat hunian di Koridor Timur Jakarta semakin relevan bagi masyarakat," ujar Indra di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Cikarang merupakan salah satu kawasan utama di Koridor Timur Jakarta yang memiliki konsentrasi aktivitas industri dan ekonomi. Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan hunian bagi masyarakat yang bekerja maupun beraktivitas di kawasan tersebut dan wilayah sekitarnya.
Bagi pekerja, tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi bukan hanya berkaitan dengan jarak. Waktu perjalanan dan biaya transportasi sehari-hari juga menjadi bagian dari pertimbangan ketika menentukan lokasi tempat tinggal.
Pergeseran pilihan tersebut pada akhirnya membuat kawasan penyangga Jakarta tidak hanya dipandang sebagai alternatif karena harga rumah, tetapi juga karena kedekatannya dengan pusat pekerjaan.
Meikarta melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk memberikan pilihan hunian bagi masyarakat yang ingin tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas ekonomi di Koridor Timur Jakarta.
Untuk mendukung kepemilikan hunian, Meikarta menawarkan pilihan cicilan mulai sekitar Rp1,7 jutaan per bulan yang flat hingga lunas.
Skema cicilan tetap tersebut memberikan kepastian nominal pembayaran sehingga calon pembeli dapat memperkirakan pengeluaran dalam jangka panjang. Besaran cicilan aktual tetap menyesuaikan unit yang dipilih, uang muka, tenor, serta hasil evaluasi dan persetujuan pembiayaan.
"Kami ingin memberikan pilihan yang lebih mudah direncanakan bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian di kawasanyang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi. Cicilan sekitar Rp1,7 jutaan yang flat hingga lunas diharapkan dapat membuat perencanaan kepemilikan hunian menjadi lebih terukur," kata Indra.
Meningkatnya minat terhadap kawasan Bekasi dan Cikarang menunjukkan bahwa keputusan membeli rumah semakin mempertimbangkan keseimbangan antara harga dan lokasi.
Bagi pekerja di kawasan industri, rumah yang lebih dekat dengan tempat kerja dapat menjadi pilihan untuk menekan waktu dan biaya perjalanan. Sementara bagi masyarakat yang masih beraktivitas di Jakarta, akses menuju ibu kota tetap menjadi salah satu pertimbangan.
Dengan berkembangnya pusat ekonomi di wilayah penyangga, pilihan tempat tinggal masyarakat pun berpotensi semakin bergeser dari pusat Jakarta menuju kawasan di sekitarnya.
"Kepemilikan hunian bukan hanya tentang membeli sebuah unit, tetapi juga memilih tempat untuk membangun kehidupan. Karena itu, kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memiliki hunian yang dekat dengan pusat aktivitas ekonomi melalui skema cicilan yang lebih mudah direncanakan," pungkas Indra.