Perebutan Kursi Ketum PBNU: Intrik Politik di Balik Muktamar ke-35 NU

Budi Arista Romadhoni

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 09:07 WIB
Perebutan Kursi Ketum PBNU: Intrik Politik di Balik Muktamar ke-35 NU
Ilustrasi perebutan kursi Ketua Umum PBNU. [Dok Suara.com/AI]
baca 10 detik
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar membantah mundur dari kabinet untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 di Jombang.
  • Gus Kikin memperoleh mandat resmi dari PWNU dan PCNU Jawa Timur untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
  • Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah tidak campur tangan dalam pelaksanaan Muktamar NU yang berlangsung pada Agustus 2026.

Suara.com - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak sekadar menjadi forum rutin pergantian kepemimpinan.

Di balik agenda menentukan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk lima tahun ke depan, terselip tarik-menarik kepentingan, persoalan aturan organisasi, hingga pertanyaan tentang sejauh mana negara berada di luar kontestasi internal NU.

Salah satu isu yang paling menyita perhatian menjelang muktamar adalah munculnya nama Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Kabar Nasaruddin mundur dari kabinet untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU bahkan sempat beredar luas di media sosial dan grup percakapan.

Namun, isu itu dibantah langsung oleh Nasaruddin. Ia menegaskan tetap menjalankan tugas sebagai Menteri Agama dan memilih berkonsentrasi membantu Presiden Prabowo Subianto.

“Yang terbaik buat saya, lebih baik saya berkonsentrasi di Kementerian Agama, tanpa harus meninggalkan konsen saya terhadap Nahdlatul Ulama,” tegas Nasaruddin dikutip dari keterangan resmi Kementerian Agama, Kamis (27/8/2026).

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. (Suara.com/Lilis)
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. (Suara.com/Lilis)

Menariknya, isu tersebut tidak muncul tanpa konteks. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memang memasukkan Nasaruddin dalam daftar figur yang berpeluang maju bersama sejumlah nama lain, termasuk KH Zulfa Mustofa, Gus Yusuf Chudlori, Gus Salam Shohib, dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

Di sinilah salah satu simpul persoalan Muktamar ke-35 terlihat. Jika Nasaruddin maju, statusnya sebagai Menteri Agama berhadapan dengan aturan internal NU mengenai larangan rangkap jabatan.

Ketentuan tersebut merupakan hasil kesepakatan Muktamar Lampung dan hanya dapat diubah oleh muktamirin dalam forum muktamar.

baca juga

Artinya, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki popularitas atau dukungan, tetapi juga apakah aturan organisasi akan dipertahankan atau justru dibuka ruang perubahan.

Namun, Nasaruddin akhirnya memilih keluar dari pusaran tersebut. Ia mengaku mendapat dukungan dari sejumlah kolega dan sahabat, tetapi meminta maaf kepada pihak yang telah membayangkan dirinya memimpin PBNU.

Pembukaan Muktamar ke-35 NU atau Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026), menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen organisasi dalam memperkuat kehidupan keumatan sekaligus kebangsaan. [Beritajatim]
Pembukaan Muktamar ke-35 NU atau Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026), menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen organisasi dalam memperkuat kehidupan keumatan sekaligus kebangsaan. [Beritajatim]

Ketika satu nama meredup, nama lain justru menguat.

Gus Kikin muncul dengan modal yang berbeda. Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur itu memperoleh mandat dari PWNU Jawa Timur bersama PCNU se-Jawa Timur untuk maju dalam kontestasi.

Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir menegaskan pencalonan tersebut bukan keinginan pribadi Gus Kikin, melainkan hasil keputusan struktur NU Jawa Timur.

Gus Kikin juga membawa modal simbolik yang kuat. Ia merupakan cicit KH M Hasyim Asy’ari, pendiri NU, serta penerus kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Di saat bersamaan, ia memiliki pengalaman organisasi sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Namun, kekuatan Gus Kikin tidak hanya bertumpu pada garis keturunan. Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School KH A Junaidi Hidayat menilai pemimpin NU membutuhkan kombinasi kapasitas keilmuan, manajerial, jaringan, serta kemampuan membangun kekuatan ekonomi dan pendidikan organisasi.

Gus Kikin sendiri memilih narasi yang relatif berbeda dari kontestasi politik terbuka. Ia menyebut pencalonannya sebagai amanah, bukan ambisi pribadi. Alih-alih kampanye terbuka, ia memperbanyak silaturahmi ke pesantren dan tokoh NU di berbagai daerah.

Pertarungan akhirnya bukan semata soal nama, tetapi tentang arah NU. Gus Kikin menawarkan penguatan kembali fondasi organisasi melalui Qanun Asasi, adab, ukhuwah, sanad keilmuan, dan politik kebangsaan.

Di sisi lain, negara memilih menampilkan posisi seolah berada di luar arena. Presiden Prabowo saat membuka muktamar menyatakan tidak mengatur jalannya forum tersebut.

Sebelumnya, Gus Ipul juga menyebut Presiden memberikan kepercayaan penuh kepada muktamirin untuk menjalankan musyawarah tanpa campur tangan pihak luar.

Pesan tersebut menjadi penting karena NU bukan organisasi biasa. Prabowo bahkan menegaskan hubungan antara NU dan Indonesia dalam satu kalimat: “NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun.”

Infografis muktamar ke-35 NU. [Dok Suara/AI]
Infografis muktamar ke-35 NU. [Dok Suara/AI]

Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam pembukaan muktamar justru mengangkat semangat ta’awun atau tolong-menolong sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan pentingnya kepemimpinan agama diberikan kepada orang yang kompeten.

Dengan demikian, intrik Muktamar ke-35 NU sesungguhnya berada pada persimpangan antara aturan dan figur, mandat struktur dan popularitas, tradisi organisasi dan kebutuhan perubahan, serta kedekatan dengan kekuasaan dan independensi NU.

Sabtu (29/8/2026), muktamirin akan menentukan jawabannya. Bukan hanya siapa yang duduk di kursi Ketua Umum PBNU, tetapi juga ke mana organisasi terbesar di Indonesia itu akan diarahkan memasuki fase berikutnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nasaruddin Umar Tak Jadi Calon Ketum PBNU, Pilih Fokus Jalankan Tugas sebagai Menag

Nasaruddin Umar Tak Jadi Calon Ketum PBNU, Pilih Fokus Jalankan Tugas sebagai Menag

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 06:56 WIB

Pidato Prabowo di Muktamar NU: Percaya Saya, Indonesia akan Bangkit Tak Ada yang Bisa Bendung

Pidato Prabowo di Muktamar NU: Percaya Saya, Indonesia akan Bangkit Tak Ada yang Bisa Bendung

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Prabowo di Hadapan Ulama: Percaya Sama Saya, Beberapa Tahun lagi Indonesia Bangkit

Prabowo di Hadapan Ulama: Percaya Sama Saya, Beberapa Tahun lagi Indonesia Bangkit

News | Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Terkini

Pakar Hukum UMY: Putusan MA Tak Otomatis Kosongkan Jabatan Wapres, DPR Harus Gelar Impeachment

Pakar Hukum UMY: Putusan MA Tak Otomatis Kosongkan Jabatan Wapres, DPR Harus Gelar Impeachment

News | Senin, 02 November 2026 | 18:09 WIB

Bagaimana Cerita Rakyat Tengger Mengajarkan Perempuan Menjaga Alam?

Bagaimana Cerita Rakyat Tengger Mengajarkan Perempuan Menjaga Alam?

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 18:08 WIB

Kadin Mau Garap Industri Sagu hingga Kelapa

Kadin Mau Garap Industri Sagu hingga Kelapa

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 18:05 WIB

Volkswagen Tunda Pengembangan Mobil Listrik ID.Golf Akibat Tekanan Finansial

Volkswagen Tunda Pengembangan Mobil Listrik ID.Golf Akibat Tekanan Finansial

Otomotif | Senin, 02 November 2026 | 18:05 WIB

88 Persen Aset Danantara di Simpan Dalam Deposito

88 Persen Aset Danantara di Simpan Dalam Deposito

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 18:03 WIB

Gugatan Dikabulkan MA, Subhan Palal Ancam Geruduk Istana Minta Gibran Pulang ke Solo!

Gugatan Dikabulkan MA, Subhan Palal Ancam Geruduk Istana Minta Gibran Pulang ke Solo!

News | Senin, 02 November 2026 | 18:01 WIB

WNI dan WNA Dilaporkan Hilang Tertimbun Longsor Masih Dicari

WNI dan WNA Dilaporkan Hilang Tertimbun Longsor Masih Dicari

Bali | Senin, 02 November 2026 | 18:01 WIB

Rahasia Pilih Air Purifier untuk Penyuka Anabul: Rumah Bebas Bau dan Bulu Melayang!

Rahasia Pilih Air Purifier untuk Penyuka Anabul: Rumah Bebas Bau dan Bulu Melayang!

Tekno | Senin, 02 November 2026 | 18:00 WIB

BPJS Gratis Mendadak Dinonaktifkan, Validkah Data Kemiskinan Kita?

BPJS Gratis Mendadak Dinonaktifkan, Validkah Data Kemiskinan Kita?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 18:00 WIB

Ahmad Doli Sebut Kekerasan Anak Sudah Darurat: Wake-Up Call buat Kita Semua

Ahmad Doli Sebut Kekerasan Anak Sudah Darurat: Wake-Up Call buat Kita Semua

News | Senin, 02 November 2026 | 17:57 WIB

×