- PT Swayasa Prakarsa Tbk menjadwalkan penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia pada 10 September 2026.
- Perseroan menawarkan harga saham berkisar antara Rp130 hingga Rp140 per lembar dalam aksi korporasi tersebut.
- Dana hasil IPO dialokasikan untuk modal kerja, pengembangan fasilitas, pemasaran, serta pembayaran kewajiban perusahaan.
Suara.com - PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) bersiap mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 September 2026. Perseroan menawarkan saham dalam penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di kisaran Rp130-Rp140 per saham.
Direktur Utama PT Swayasa Prakarsa Tbk, Bondan Ardiningtyas, mengatakan aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat pengembangan bisnis di industri kesehatan.
Dana hasil IPO nantinya akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan perusahaan. Penggunaan tersebut antara lain untuk modal kerja, pengembangan produk dan fasilitas, kegiatan pemasaran, serta pembayaran kewajiban perseroan.
Bagi SWAP, masuk ke pasar modal juga membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperkuat posisi perseroan di industri healthcare.
![Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/69191-bursa-efek-indonesia-bei-jakarta.jpg)
SWAP sendiri membawa model bisnis yang menggabungkan riset, inovasi, manufaktur, dan komersialisasi produk kesehatan. Perseroan yang berangkat dari ekosistem Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut mengembangkan berbagai produk, mulai dari alat kesehatan, produk herbal hingga pangan fungsional.
"IPO ini menjadi bagian dari langkah kami untuk memperkuat kapasitas bisnis, baik melalui pengembangan produk dan fasilitas maupun kebutuhan modal kerja. Kami juga akan mengalokasikan dana sesuai dengan rencana penggunaan yang telah ditetapkan," ujar Bondan.
Kinerja SWAP juga menunjukkan pertumbuhan menjelang rencana pencatatan saham. Pada semester I 2026, pendapatan perseroan tumbuh sekitar 77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, kerugian bersih perseroan juga berhasil ditekan secara signifikan.
Pertumbuhan tersebut menjadi modal bagi SWAP untuk mengembangkan bisnis lebih lanjut setelah menjadi perusahaan terbuka. Meski demikian, perseroan masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan pertumbuhan pendapatan dapat dikonversikan menjadi profitabilitas yang lebih kuat dan berkelanjutan.
"Pertumbuhan pendapatan menjadi salah satu indikator bahwa bisnis kami terus berkembang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat terus kami jaga dan dikonversikan menjadi profitabilitas serta arus kas yang sehat," kata Bondan.
Dana IPO yang digunakan untuk pengembangan produk, fasilitas, pemasaran dan modal kerja diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis perseroan. Di sisi lain, kemampuan menghasilkan laba dan arus kas secara konsisten akan menjadi perhatian setelah SWAP resmi menjadi perusahaan publik.
SWAP dijadwalkan mencatatkan sahamnya di BEI pada 10 September 2026 dengan harga penawaran Rp130-Rp140 per saham.
Dengan masuknya SWAP ke pasar modal, investor tidak hanya akan melihat pergerakan saham perseroan setelah listing, tetapi juga kemampuan perusahaan membuktikan pertumbuhan bisnis melalui kinerja fundamental dalam jangka panjang.