Tunggu Dinamika Pasar, Pelaku Industri Mulai Tahan Ekspansi

Achmad Fauzi, Fakhri Fuadi Muflih

Senin, 31 Agustus 2026 | 14:23 WIB
Tunggu Dinamika Pasar, Pelaku Industri Mulai Tahan Ekspansi
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
baca 10 detik
  • Kementerian Perindustrian mengumumkan Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2026 mencapai 52,30 dan tetap berada dalam zona ekspansi.
  • Juru Bicara Kemenperin menyatakan perlambatan terjadi akibat kehati-hatian pelaku industri serta kenaikan biaya logistik ekspor dan impor.
  • Sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan nasional masih mencatatkan ekspansi dengan kontribusi besar terhadap PDB.

Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 berada di angka 52,30. Angka ini melambat 0,80 poin dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 53,10. 

Meski masih berada di zona ekspansi, perlambatan ini menunjukkan pelaku industri mulai berhati-hati melihat perkembangan pasar.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, perlambatan IKI terjadi ketika aktivitas produksi industri masih meningkat.

"Nilai IKI pada bulan Agustus 2026 adalah 52,30. Masih di atas 50 atau masih ekspansi, meskipun melambat sebesar 0,80 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang IKI-nya sebesar 53,10," kata Febri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Ilustrasi kawasan industri. [Unsplash]
Ilustrasi kawasan industri. [Unsplash]

Febri mengatakan, penurunan IKI juga terjadi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. IKI Agustus 2026 melambat 1,25 poin dibandingkan Agustus 2025 yang berada di angka 53,55.

Dari tiga variabel pembentuk IKI, pesanan baru mengalami perlambatan sebesar 0,67 poin menjadi 53,13. Sebaliknya, variabel produksi mengalami peningkatan 0,55 poin menjadi 55,10.

Sementara itu, variabel persediaan produk mengalami penurunan sebesar 3,16 poin menjadi 46,02. Angka tersebut membuat variabel persediaan produk masuk zona kontraksi.

Menurut Febri, kondisi tersebut menunjukkan industri masih mempertahankan produksi meski permintaan mengalami sedikit penurunan. Pelaku industri juga belum sepenuhnya melepas barang ke pasar karena masih menunggu perkembangan kondisi ekonomi dan kebijakan.

"Pada bulan Agustus 2026 ini kami melihat fenomena yang sama, ya, bahwa industri masih menunggu perubahan yang terjadi pada pasar domestik maupun pasar ekspor. Meski ada sedikit penurunan pada permintaan. Namun industri masih tetap memproduksi produk-produknya karena memandang bahwa perekonomian Indonesia dan juga perekonomian global masih akan tetap membaik," ujarnya.

baca juga

Febri menjelaskan, industri masih menahan sebagian produknya di gudang. Sikap tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan permintaan di pasar domestik maupun ekspor sebelum produk dilepas.

"Yakni permintaan dan produksi tetap tinggi, namun industri masih menahan produknya di gudang. Belum mau melepas barangnya di pasar karena ingin melihat bagaimana perkembangan atau dinamika di pasar dan terutama eh bagaimana perubahan kebijakan baik di pasar domestik maupun pasar ekspor," katanya.

Perlambatan IKI terjadi baik pada industri yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik.

IKI industri berorientasi domestik turun menjadi 51,13. Sementara IKI industri berorientasi ekspor berada di level 53,09. Meski masih berada di atas level 50, kedua kelompok industri tersebut mengalami perlambatan.

Untuk industri berorientasi ekspor, Febri menyebut kenaikan biaya logistik menjadi salah satu penyebab perlambatan. Kenaikan biaya tersebut terjadi baik untuk aktivitas penjualan ekspor maupun pembelian bahan baku impor.

"Kalau ekspor kita lihat salah satunya adalah karena meningkatnya biaya eh apa, biaya logistik. Ya, logistik, baik itu untuk penjualan ekspor ataupun juga eh pembelian bahan baku impor. Kenaikan biaya logistik," jelasnya.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis Kemenperin, sebanyak 22 subsektor masih mengalami ekspansi dan satu subsektor mengalami kontraksi.

Sebanyak 22 subsektor yang masih ekspansif memiliki kontribusi 98,6 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada kuartal II 2026.

Adapun subsektor dengan IKI tertinggi pada Agustus 2026 adalah industri minuman (KBLI 11) serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (KBLI 20).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pesanan Ekspor Lesu, Industri Alas Kaki Nasional Masuk Zona Kontraksi

Pesanan Ekspor Lesu, Industri Alas Kaki Nasional Masuk Zona Kontraksi

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:19 WIB

Kondisi Ekonomi Tidak Pasti, Industri Pilih Tahan Barang di Gudang

Kondisi Ekonomi Tidak Pasti, Industri Pilih Tahan Barang di Gudang

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 13:58 WIB

Pabrik Tekstil di Jepara Tumbang, 670 Orang Menganggur

Pabrik Tekstil di Jepara Tumbang, 670 Orang Menganggur

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 18:36 WIB

Terkini

Pemuda Kaum Betawi Gugat UU DKJ ke MK, Soroti Aturan Lembaga Adat yang Dinilai Multitafsir

Pemuda Kaum Betawi Gugat UU DKJ ke MK, Soroti Aturan Lembaga Adat yang Dinilai Multitafsir

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:24 WIB

Prabowo Resmi Terima Kartu Anggota NU: Aku dari Dulu Minta

Prabowo Resmi Terima Kartu Anggota NU: Aku dari Dulu Minta

Jatim | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:24 WIB

Tunggu Dinamika Pasar, Pelaku Industri Mulai Tahan Ekspansi

Tunggu Dinamika Pasar, Pelaku Industri Mulai Tahan Ekspansi

Bisnis | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:23 WIB

Alasan Baru Amerika Serang Iran Lagi, Bukan Lagi Soal Nuklir

Alasan Baru Amerika Serang Iran Lagi, Bukan Lagi Soal Nuklir

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:21 WIB

BRI Salurkan Kredit UMKM Rp1.235,4 Triliun, Laba Bersih Tembus Rp31,2 Triliun di T2 2026

BRI Salurkan Kredit UMKM Rp1.235,4 Triliun, Laba Bersih Tembus Rp31,2 Triliun di T2 2026

Bali | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:20 WIB

A Note to Remember: Seni Mengejar Mimpi Meski Takut dan Ragu!

A Note to Remember: Seni Mengejar Mimpi Meski Takut dan Ragu!

Your Say | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:20 WIB

Dulu Dipuji, Kini MBG Dapat Rapor Merah dari Publik!

Dulu Dipuji, Kini MBG Dapat Rapor Merah dari Publik!

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:16 WIB

Kinerja BRI Tumbuh Solid di Triwulan II 2026, Laba Melesat 17,5% Ditopang Segmen UMKM

Kinerja BRI Tumbuh Solid di Triwulan II 2026, Laba Melesat 17,5% Ditopang Segmen UMKM

Jakarta | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:16 WIB

Laba Rp31,2 Triliun, BRI Pertegas Kiprah sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

Laba Rp31,2 Triliun, BRI Pertegas Kiprah sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

Sumsel | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:14 WIB

Robot Mobo Siap Menjadi Anggota Keluarga Baru Berbasis Kecerdasan Buatan

Robot Mobo Siap Menjadi Anggota Keluarga Baru Berbasis Kecerdasan Buatan

Otomotif | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:12 WIB

×