- Omzet BUMDes Payang Sejahtera naik dari Rp4,6 miliar jadi Rp27,6 miliar.
- BUMDes mengembangkan usaha katering, laundry, kompos hingga air bersih.
- Lebih dari 100 petani kakao mencatat pendapatan naik hingga lima kali lipat.
Pengelolaannya juga melibatkan BUMDes Payang Sejahtera. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut terlibat dalam menjaga keberlanjutan fasilitas tersebut.
"Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pascatambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat," kata Kemal.
Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan melalui KUBE Koetai Harapan Utama di Dusun Berhala, Desa Loa Kulu Kota.
Kelompok usaha pertukangan kayu tersebut sebelumnya menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan peralatan produksi, kualitas produk hingga akses pasar.
MHU kemudian memberikan pelatihan, pendampingan serta dukungan peralatan produksi yang lebih modern bersama sejumlah mitra.
Program tersebut kemudian membuka akses pasar baru. Sejak 2019, kelompok tersebut mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah dan dipercaya memasok meja serta kursi untuk sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara.
Program KUBE Koetai Harapan Utama mencatat nilai SROI sebesar 5,23.
Potensi ekonomi masyarakat juga dikembangkan melalui Rumah Cokelat Lung Anai di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu.
Program tersebut mengembangkan perkebunan kakao masyarakat adat Dayak Kenyah dengan pendekatan hilirisasi.
Jika sebelumnya kakao lebih banyak dijual dalam bentuk biji dengan nilai ekonomi terbatas, masyarakat kini didorong mengolah komoditas tersebut menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat batangan dan bubuk kakao.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Lalut Isau, BUMDes, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani serta Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara.
MHU turut memberikan dukungan fasilitas pengolahan, termasuk rumah pengering dan mesin pengolahan kakao.
Dampaknya, lebih dari 100 petani mengalami peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat. Harga kakao kering fermentasi kini mencapai Rp120.000-Rp150.000 per kilogram, dibandingkan sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kilogram untuk biji basah sebelumnya.
Di sisi hilir, sebanyak 12 perempuan lokal telah terlibat dalam aktivitas pengolahan kakao. Rumah Cokelat Lung Anai juga berkembang menjadi pusat pelatihan budidaya dan pengolahan kakao sekaligus destinasi agrowisata.
Produk yang dihasilkan telah mengantongi legalitas SPP-IRT dan NIB. Balai Besar POM di Samarinda juga memberikan pendampingan agar produk tersebut dapat berkembang menuju pasar modern.
Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari pendekatan MHU dalam menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) serta Good Mining Practice.
MHU meraih penghargaan Impactful Program Awards dalam ajang Investortrust CSR Awards 2026 yang digelar di Habitate, Oakwood, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Penghargaan tersebut diberikan atas pendekatan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi mendorong terciptanya dampak ekonomi dan sosial yang terukur.
Kemal menegaskan, perusahaan ingin memastikan keberadaan MHU di tengah masyarakat memberikan manfaat yang dapat terus berkembang.
"Kami percaya program sosial yang baik harus meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dari perubahan yang terjadi di wilayahnya. Peran perusahaan adalah membuka akses, memperkuat kapasitas, dan membangun ekosistem agar manfaat tersebut dapat terus berkembang," tuturnya.