- Omzet BUMDes Payang Sejahtera naik dari Rp4,6 miliar jadi Rp27,6 miliar.
- BUMDes mengembangkan usaha katering, laundry, kompos hingga air bersih.
- Lebih dari 100 petani kakao mencatat pendapatan naik hingga lima kali lipat.
Suara.com - Pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pertambangan mulai menunjukkan hasil. Salah satunya terlihat dari kinerja BUMDes Payang Sejahtera di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang mencatat lonjakan omzet hingga hampir enam kali lipat.
BUMDes yang mendapat penguatan dari PT Multi Harapan Utama (MHU), anak usaha MMSGI, tersebut membukukan omzet Rp4,6 miliar pada 2019. Angka itu kemudian melonjak menjadi Rp27,6 miliar pada 2023.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu dampak dari Program Penguatan BUMDes Payang Sejahtera yang telah berjalan sejak 2017. Program tersebut diarahkan agar BUMDes tidak hanya menjadi penerima bantuan perusahaan, tetapi mampu membangun dan mengelola usaha secara mandiri.
Pengembangan dilakukan melalui pemetaan potensi lokal, pembinaan, pengembangan unit usaha hingga dukungan permodalan.
Sejumlah usaha yang dikembangkan BUMDes Payang Sejahtera antara lain katering, laundry, housekeeping, pabrik kompos serta layanan air bersih melalui Water Treatment Plant (WTP).
Dari pengembangan tersebut, nilai Social Return on Investment (SROI) tercatat mencapai 4,27. Artinya, investasi pemberdayaan yang dilakukan menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan, tujuan utama program pemberdayaan bukan menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap perusahaan.
"Target kami bukan membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi membangun institusi ekonomi desa yang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri," ujar Kemal.
Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dilihat dari besarnya dana yang dikeluarkan perusahaan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang tetap berjalan setelah program selesai.
"Bagi kami, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat bukan hanya dilihat dari berapa besar dukungan yang diberikan perusahaan, tetapi dari perubahan yang dapat terus berjalan setelah program dilaksanakan. Karena itu, kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses, kemampuan, dan kelembagaan yang dapat tumbuh secara mandiri," katanya.
Selain mendorong pertumbuhan BUMDes, MHU juga mengembangkan pemanfaatan aset pascatambang untuk kebutuhan masyarakat.
Melalui program Air Bersih Pascatambang-Pompa Hydram di Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, kolam atau void pascatambang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.
Teknologi Pompa Hydram digunakan untuk mengalirkan air dengan memanfaatkan energi kinetis air sehingga tidak membutuhkan listrik maupun bahan bakar.
Infrastruktur tersebut terdiri dari tiga unit Pompa Hydram, dua unit hydropur dan WTP dengan kapasitas 126 meter kubik. Jaringan distribusinya mencapai lebih dari 3,6 kilometer.
Fasilitas tersebut melayani tiga dusun, yakni Donomulyo, Sentuk dan Rempanga, dengan total penerima manfaat mencapai 582 kepala keluarga.
Pengelolaannya juga melibatkan BUMDes Payang Sejahtera. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut terlibat dalam menjaga keberlanjutan fasilitas tersebut.
"Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pascatambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat," kata Kemal.
Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan melalui KUBE Koetai Harapan Utama di Dusun Berhala, Desa Loa Kulu Kota.
Kelompok usaha pertukangan kayu tersebut sebelumnya menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan peralatan produksi, kualitas produk hingga akses pasar.
MHU kemudian memberikan pelatihan, pendampingan serta dukungan peralatan produksi yang lebih modern bersama sejumlah mitra.
Program tersebut kemudian membuka akses pasar baru. Sejak 2019, kelompok tersebut mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah dan dipercaya memasok meja serta kursi untuk sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara.
Program KUBE Koetai Harapan Utama mencatat nilai SROI sebesar 5,23.
Potensi ekonomi masyarakat juga dikembangkan melalui Rumah Cokelat Lung Anai di Desa Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu.
Program tersebut mengembangkan perkebunan kakao masyarakat adat Dayak Kenyah dengan pendekatan hilirisasi.
Jika sebelumnya kakao lebih banyak dijual dalam bentuk biji dengan nilai ekonomi terbatas, masyarakat kini didorong mengolah komoditas tersebut menjadi produk bernilai tambah seperti cokelat batangan dan bubuk kakao.
Program ini melibatkan Kelompok Tani Lalut Isau, BUMDes, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Yayasan Peduli Desa Nusantara Madani serta Fakultas Pertanian Universitas Kutai Kartanegara.
MHU turut memberikan dukungan fasilitas pengolahan, termasuk rumah pengering dan mesin pengolahan kakao.
Dampaknya, lebih dari 100 petani mengalami peningkatan pendapatan hingga lima kali lipat. Harga kakao kering fermentasi kini mencapai Rp120.000-Rp150.000 per kilogram, dibandingkan sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kilogram untuk biji basah sebelumnya.
Di sisi hilir, sebanyak 12 perempuan lokal telah terlibat dalam aktivitas pengolahan kakao. Rumah Cokelat Lung Anai juga berkembang menjadi pusat pelatihan budidaya dan pengolahan kakao sekaligus destinasi agrowisata.
Produk yang dihasilkan telah mengantongi legalitas SPP-IRT dan NIB. Balai Besar POM di Samarinda juga memberikan pendampingan agar produk tersebut dapat berkembang menuju pasar modern.
Rangkaian program tersebut menjadi bagian dari pendekatan MHU dalam menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) serta Good Mining Practice.
MHU meraih penghargaan Impactful Program Awards dalam ajang Investortrust CSR Awards 2026 yang digelar di Habitate, Oakwood, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Penghargaan tersebut diberikan atas pendekatan pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi mendorong terciptanya dampak ekonomi dan sosial yang terukur.
Kemal menegaskan, perusahaan ingin memastikan keberadaan MHU di tengah masyarakat memberikan manfaat yang dapat terus berkembang.
"Kami percaya program sosial yang baik harus meninggalkan kemampuan, bukan ketergantungan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama dari perubahan yang terjadi di wilayahnya. Peran perusahaan adalah membuka akses, memperkuat kapasitas, dan membangun ekosistem agar manfaat tersebut dapat terus berkembang," tuturnya.