- Kemarau panjang berpotensi meningkatkan tekanan hama pada tanaman cabai.
- Thrips mengancam pucuk, daun, bunga, hingga kualitas buah cabai.
- SIMODIS® diluncurkan untuk membantu petani mengendalikan serangan thrips.
Suara.com - Petani cabai menghadapi ancaman ganda yang berpotensi menekan hasil panen. Tak hanya kekeringan akibat musim kemarau, serangan hama seperti thrips juga menjadi persoalan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menurunkan kualitas buah cabai.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah potensi perubahan pola musim yang membuat periode kemarau berlangsung lebih panjang. Fenomena El Niño, misalnya, berpotensi membuat musim kemarau datang lebih awal sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan sejumlah organisme pengganggu tanaman (OPT).
Tekanan ini menjadi semakin penting bagi daerah sentra produksi cabai seperti Kabupaten Jember, Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024.
Di tengah ancaman tersebut, inovasi perlindungan tanaman mulai didorong untuk membantu petani mengantisipasi serangan hama. Syngenta Indonesia resmi meluncurkan SIMODIS®, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN®, yang ditujukan untuk membantu mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai.
Peluncuran SIMODIS® untuk tanaman cabai tersebut dilakukan di Jember dan dihadiri 285 petani dari Jember dan Banyuwangi. Jember dipilih karena menjadi salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur.
National Sales Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat mengatakan, petani hortikultura saat ini menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama yang dapat memengaruhi produktivitas, yakni kekeringan, ketidakpastian harga komoditas, serta serangan hama dan penyakit.
“Petani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi,” ujar Fauzi.
Menurut dia, kekeringan dan fluktuasi harga merupakan faktor yang relatif berada di luar kendali petani. Namun, pengendalian hama dan penyakit masih dapat diupayakan melalui penggunaan teknologi perlindungan tanaman yang tepat.
“Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat,” katanya.
Serangan thrips menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai bagian tanaman cabai, mulai dari pucuk, daun, bunga hingga buah.
Pengendalian yang efektif diharapkan dapat membantu menjaga kondisi tanaman agar tetap sehat. Tekanan serangan thrips yang lebih terkendali dapat membantu menjaga pucuk tanaman, mengurangi keriput atau menggulungnya daun, serta mempertahankan kondisi bunga agar tidak mudah rontok.
Jika pertumbuhan tanaman dan proses pembungaan berjalan lebih baik, risiko terbentuknya buah cabai yang bengkok juga dapat ditekan. Hal ini pada akhirnya berpotensi membantu petani mempertahankan kualitas dan nilai jual hasil panen.
Syngenta menyebut SIMODIS® hadir dengan tiga keunggulan yang dirangkum dalam konsep “Jago, Unggul, Sempurna”, yakni jago melawan thrips, membantu menghasilkan pucuk yang merekah dan daun sehat, serta mendukung bunga dan buah yang lebih mulus.
Product Manager Syngenta Indonesia Tracy Tey Hui Xiang menekankan bahwa teknologi perlindungan tanaman perlu digunakan secara bertanggung jawab agar efektivitasnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“SIMODIS® merupakan teknologi terobosan yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi,” ujar Tracy.