- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan rencana pengembangan hilirisasi sektor tersebut di Kompleks Parlemen Jakarta pada Senin (7/9/2027).
- Sektor ekonomi kreatif berhasil menyerap 27,4 juta tenaga kerja yang didominasi oleh generasi muda serta perempuan secara inklusif.
- Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto nasional telah mencapai 7,38 persen dan ditargetkan melebihi 8 persen.
Suara.com - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ingin mengembangkan hilirisasi di sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, potensi hilirisasi di sektor ekonomi kreatif sangat tinggi.
Hal itu disampaikannya pada agenda "Ekonomi Kreatif dan Kepemudaan: Mendorong Generasi Muda sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Mesin Baru Pertumbuhan Nasional” di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (7/9/2027).
"Jadi kalau ada dengar tentang hilirisasi, tidak berarti hilirisasi selalu terkait dengan sektor pertambangan. Kami bersama asosiasi, akademisi, dan konsorsium ekonomi kreatif ingin hilirisasi sektor ekonomi kreatif ini juga berkembang di Indonesia," kata Teuku Riefky.

Ia menjelaskan, pemerintah memfokuskan evaluasi kinerja sektor ekonomi kreatif pada empat indikator utama (Key Performance Indicators/KPI), yakni nilai investasi, ekspor kreatif, penyerapan tenaga kerja, dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari sisi investasi, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 9,5 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia. Subsektor komunikasi saat ini mencatatkan realisasi investasi tertinggi, menggeser dominasi subsektor fashion dan kuliner.
Meski demikian, pemerintah mencatat persebaran investasi masih terpusat di Pulau Jawa dan perlu diperluas ke wilayah lain.
Pada aspek ketenagakerjaan, penyerapan tenaga kerja di sektor ini mencapai 27,4 juta orang, melampaui target awal sebesar 25,6 juta orang. Dari total tersebut, sebanyak 63 persen merupakan kelompok Generasi Z dan milenial, sementara 58 persen di antaranya adalah perempuan.
"Jadi 27,4 juta pekerja ekonomi kreatif, itu 63 persen Gen Z dan milenial, dan 58 persen adalah perempuan. Ini sektor yang sangat inklusif dan berkelanjutan," kata Teuku Riefky.
Menurunnya, minat tinggi Generasi Z dan milenial di sektor ini didorong oleh fleksibilitas waktu kerja, kesesuaian dengan minat (passion), serta potensi pendapatan di atas Upah Minimum Regional (UMR).
Sementara dari sisi dampak ekonomi makro, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional saat ini telah mencapai 7,38 persen. Teuku Riefky optimistis angka tersebut terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi nasional.
"Hari ini sektor ekonomi kreatif sudah 7,38 persen. Insyaallah dengan dukungan dari para akademisi dan pelaku ekonomi kreatif, sebelum 2029 bisa melampaui angka 8 persen kontribusinya terhadap PDB nasional," tuturnya.