Suara.com - Bagi Generasi Z, tumbuh di tengah akses luas ke teknologi membawa tantangan baru. Riset the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2025 menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja yang dinamis meningkatkan ekspektasi terhadap pelajar untuk semakin adaptif dan memiliki keterampilan yang beragam. Memanfaatkan teknologi yang bijak dan terukur juga menjadi kunci penting untuk mendorong produktivitas dan performa akademik pelajar.
Berangkat dari hal tersebut, Gojek lewat program ChamPOINTship berkolaborasi dengan Direktorat Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional (DHMPI) Universitas Indonesia (UI) menjalankan Kuliah Umum dan Gelar Wicara (Talkshow) yang membedah strategi pemanfaatan teknologi bagi kesiapan aktivitas akademis maupun karir para pelajar dan mahasiswa.
Bertajuk “Game On! Tech Behind Every Win”, kegiatan yang dilangsungkan di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia ini menghadirkan pembicara dari berbagai sudut pandang, mulai dari akademisi, praktisi industri, mahasiswa berprestasi, hingga pekerja kreatif.

Rangkaian acara diawali dengan sesi kuliah umum oleh Direktur DHMPI UI, Dr. Erwin Agustian Panigoro, M.M., yang membawakan materi bertema “Bagaimana Teknologi menjadi Akselerator Produktivitas & Pengembangan Diri”.
Dalam pemaparannya, ia membedah penggunaan screen time harian dan menyoroti tiga gejala zaman yang dihadapi generasi kini, yakni krisis atensi, utang kognitif (cognitive debt), serta ekonomi atensi (attention economy). Ia juga mengingatkan ancaman fenomena popcorn brain, brain rot, hingga risiko AI sebagai cognitive paylater yang menurunkan keterlibatan otak secara drastis.
“Penguasaan atas teknologi adalah keharusan. Apabila kita tidak mengendalikannya, maka teknologi lah yang akan mendikte pola pikir kita. Kita dituntut untuk menjadi intentional user, yakni individu yang memanfaatkan canggihnya kecerdasan buatan secara terarah dengan tujuan yang spesifik serta mampu menghasilkan luaran yang nyata. Bagaimanapun canggihnya perkembangan AI, kedudukan manusia harus tetap menjadi pemegang kendali utama,” jelas Dr. Erwin.
Dari sudut pandang industri, Puti Ara Zena memaparkan bagaimana ekosistem Gojek mengintegrasikan kemajuan teknologi dan AI dengan berorientasi pada pemahaman kultur masyarakat, serta memperkenalkan layanan penunjang mahasiswa seperti GoRide dan GoFood. Ia menggarisbawahi bahwa efisiensi teknologi harus diiringi dengan pemahaman yang mendalam.
“Teknologi pada hakikatnya hadir sebagai enabler dalam mengakselerasi produktivitas. Namun, perlu kita ingat bahwa efisiensi tidak serta-merta mencerminkan pemahaman yang mendalam. Teknologi memang mampu melahirkan efisiensi, tetapi kualitas serta nilai dari hasil akhir tersebut sepenuhnya ditentukan oleh cara manusia mengolah dan mengarahkannya,” papar Puti.
Sementara itu, Shakira Amirah, Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2023 dan Fakultas Kedokteran UI yang juga aktif sebagai content creator, membagikan technology hacks praktis bagi mahasiswa, seperti pengintegrasian dashboard harian, sinkronisasi Google Calendar, hingga pemanfaatan AI untuk active recall dan pembuatan silabus belajar. Namun ia mengingatkan, agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada AI.
“Kedepankan human touch dan jadikan AI sebagai rekan kolaborasi, bukan instrumen instan untuk menyusun karya kita secara keseluruhan,” tutur Shakira.
Melengkapi diskusi, kreator konten Aulion menekankan bahwa kecerdasan buatan bukanlah ancaman bagi industri kreatif selama karya tersebut memiliki identitas dan sentuhan emosional yang kuat.
“Keberadaan AI sangat membantu dalam mengakselerasi proses kreatif mulai dari formulasi ide hingga eksekusi teknis seperti automated subtitle. Namun, seiring berkembangnya teknologi, peran serta human touch justru menjadi makin krusial agar sebuah karya tetap memiliki jiwa dan identitas yang otentik,” ungkap Aulion.
Selain Kuliah Umum dan Gelar Wicara yang dijalankan secara tatap muka, Gojek juga menghadirkan modul edukasi online gratis yang mencakup materi keterampilan esensial untuk produktivitas anak muda. Modul edukasi mencakup tiga materi yakni pemanfaatan teknologi yang terarah untuk memaksimalkan potensi diri, skill memecahkan masalah secara terstruktur, dan yang terakhir mengenai edukasi pengelolaan keuangan pribadi. Materi dapat diakses secara gratis melalui halaman ChamPOINTship di aplikasi Gojek.
Rangkaian inisiatif ini mempertegas komitmen jangka panjang Gojek dalam memperluas manfaat teknologi bagi masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa melalui sinergi edukasi dan inovasi, Pasti Ada Jalan bagi generasi muda Indonesia untuk meraih potensi terbaik mereka.
“Melalui Gojek ChamPOINTship, kami mendukung anak muda jadi juara lewat rangkaian aktivitas edukatif untuk mendorong kecakapan mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk produktivitas. Kami juga senantiasa memperkuat fitur dan layanan di aplikasi Gojek untuk dapat dimanfaatkan anak muda untuk menunjang aktivitas produktif mereka,” jelas Mario Alvin, Head of Transport Marketing Gojek.
Mario menambahkan, lewat program ChamPOINTship pihaknya turut mengapresiasi para pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan layanan Gojek untuk produktivitasnya.
“Sejak Agustus lalu hingga November 2026, setiap penggunaan layanan GoRide untuk aktivitas produktif dari dan ke sekolah/kampus, hingga pembelian makanan melalui GoFood oleh pelajar dan mahasiswa, akan dihitung sebagai poin. Poin tersebut dapat dikumpulkan dan pemenang utama berkesempatan mendapatkan hadiah laptop dan dana pendidikan senilai total Rp20.000.000," katanya. ***