- 362 SPBU atau 6% masih menyalurkan B40.
- Sebanyak 6.050 SPBU sudah menyalurkan B50.
- Permintaan Biosolar subsidi naik akibat disparitas harga.
Suara.com - PT Pertamina Patra Niaga mencatat sebanyak 362 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belum mendistribusikan BBM jenis B50 dan masih menyalurkan B40. Jumlah tersebut setara dengan 6 persen dari total 6.412 SPBU yang menyalurkan biosolar secara nasional.
"Masih terdapat 362 SPBU yang mendistribusikan B40, ini karena faktor handling dan distribusi khususnya sebagian besar ada di wilayah-wilayah yang remote area," kata Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra saat rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Meski demikian, sebanyak 6.050 SPBU atau sekitar 94 persen telah mendistribusikan B50. Dari sisi fasilitas penyimpanan, 120 dari total 121 terminal BBM milik Pertamina Patra Niaga juga telah menyalurkan B50. Satu-satunya fasilitas yang belum menyalurkan B50 adalah Terminal BBM Sintang akibat terkendala musim kemarau.
"Ini karena ada faktor cuaca di mana kami masih ada kesulitan untuk masuk jalur sungai di terminal Sintang karena faktor kendala musim kemarau, sehingga beberapa sungai ini mengalami penyusutan," kata Mars Ega.
Terkait respons konsumen, Mars Ega mengklaim belum menerima keluhan berarti terkait kualitas maupun kuantitas BBM jenis baru tersebut.
"Call center kami terus memonitor atas komplain-komplain yang terjadi dan Alhamdulillah sampai dengan saat ini tidak ada komplain yang signifikan dari sisi pengguna B50 khususnya di sektor retail," katanya .
Secara regional, penyerapan B50 tertinggi berada di wilayah Jawa Bagian Barat yang telah mencapai 99 persen, disusul Jawa Bagian Tengah 98 persen, Sumatera Bagian Utara, Sulawesi, dan Jatimbalinus masing-masing 96 persen, Kalimantan 95 persen, serta Sumbagsel 93 persen. Saat ini Pertamina fokus meningkatkan penyaluran untuk wilayah regional Papua-Maluku.
Di sisi lain, Mars Ega menyoroti adanya peningkatan permintaan biosolar subsidi di lapangan yang dipicu oleh tingginya disparitas harga dengan produk BBM non-subsidi.
"Secara umum kami tidak mengalami kendala distribusi. Namun memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara biosolar B50 subsidi dengan produk-produk non-subsidi tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor biosolar subsidi," pungkas Mars Ega.